Iran Diduga Gunakan Rudal China saat Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS
Senin, 01 Juni 2026 - 07:32 WIB
loading...
Iran diduga gunakan rudal China saat tembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle Amerika Serikat pada April lalu. Foto/US Air Force
A
A
A
TEHERAN - Iran telah menembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle pada bulan lalu, yang memicu misi penyelamatan berbahaya untuk pilotnya. Tiga sumber yang mengetahui masalah itu mengatakan kepada NBC News bahwa senjata yang digunakan Iran itu diduga rudal buatan China yang diluncurkan dari bahu.
Pada awal konflik, China mungkin juga telah menyediakan Iran dengan radar peringatan dini jarak jauh yang mendeteksi pesawat siluman yang dirancang untuk menghindari deteksi, menurut salah satu orang dan seorang pejabat Amerika Serikat (AS) yang mengetahui masalah tersebut.
Baca Juga: Usai Bantu Iran Melacak Pesawat Pengebom B-2 AS, Perusahaan Satelit China Ledek Amerika
Sumber-sumber itu mengatakan para pejabat AS masih menyelidiki keadaan seputar penembakan jatuh pesawat tempur F-15E Strike Eagle Amerika pada bulan April. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa dekade pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh tembakan musuh.
Tidak jelas kapan peralatan militer tersebut, yang diduga dari China, diserahkan kepada Iran.
Namun, penggunaan senjata buatan China oleh Iran memperumit hubungan Amerika dengan Beijing pada saat Presiden Donald Trump meminta bantuan China untuk mengakhiri konflik tersebut.
Pada saat F-15E Strike Eagle ditembak jatuh bulan lalu, Trump mengatakan pesawat itu terkena rudal yang diluncurkan dari bahu.
Dengan panjang sekitar 2,1 meter dan berat sekitar 18 kilogram, senjata tersebut, yang juga dikenal sebagai "senjata pertahanan udara portabel" atau "Manpads", menyediakan cara yang murah dan efektif untuk menjatuhkan pesawat yang terbang rendah.
Dua awak jet F-15 berhasil melontarkan diri dari pesawat di atas Iran. Pilot diselamatkan dalam waktu tujuh jam, tetapi butuh dua hari untuk menemukan dan menyelamatkan petugas sistem senjata, yang bersembunyi di kaki pegunungan Zagros, menurut Pentagon.
Ketika ditanya tentang penembakan jatuh pesawat F-15, juru bicara Kedutaan Besar China mengatakan dalam sebuah pernyataan: “China selalu bertindak dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer, dan menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan China tentang kontrol ekspor dan kewajiban internasional yang berlaku. China menentang fitnah tanpa dasar dan asosiasi yang bermaksud buruk.”
Laporan intelijen AS menunjukkan bahwa China berencana untuk menyediakan persenjataan pertahanan udara baru kepada Iran dalam beberapa minggu mendatang, seperti yang dilaporkan NBC News.
Para pejabat AS mungkin telah membocorkan intelijen tersebut dalam upaya untuk mengungkap rencana China, menurut mantan pejabat keamanan nasional Amerika, sebuah taktik yang digunakan oleh pemerintahan sebelumnya.
Awal bulan ini, pemerintahan Trump menuduh China mengizinkan Iran mengakses satelit China untuk membantu Teheran menargetkan pasukan AS di Timur Tengah.
Departemen Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan satelit China yang menurut mereka menyediakan citra dan data untuk memungkinkan Iran melancarkan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. China membantah tuduhan tersebut.
Menurut pejabat AS yang mengetahui diskusi tersebut, AS menyadari semua yang dilakukan China untuk mendukung Iran. Pejabat itu mengatakan bahwa China mendukung Iran sebelum perang dan bantuan apa pun selama konflik yang sedang berlangsung tidak memberikan perbedaan di medan perang.
“Itu bukan dukungan yang signifikan. Tidak ada dampak operasional yang menentukan,” kata pejabat AS tersebut, Minggu (31/5/2026).
China pernah menjual sejumlah besar senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan 1990-an, termasuk rudal balistik, rudal anti-kapal, tank, artileri, dan jet tempur.
Namun setelah embargo senjata PBB terhadap Iran diberlakukan pada tahun 2006, China menarik diri dari penjualan senjata besar-besaran dan malah menyediakan komponen dan teknologi lain kepada Iran yang memiliki kegunaan sipil dan militer, menurut para ahli dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
Pada awal konflik, China mungkin juga telah menyediakan Iran dengan radar peringatan dini jarak jauh yang mendeteksi pesawat siluman yang dirancang untuk menghindari deteksi, menurut salah satu orang dan seorang pejabat Amerika Serikat (AS) yang mengetahui masalah tersebut.
Baca Juga: Usai Bantu Iran Melacak Pesawat Pengebom B-2 AS, Perusahaan Satelit China Ledek Amerika
Sumber-sumber itu mengatakan para pejabat AS masih menyelidiki keadaan seputar penembakan jatuh pesawat tempur F-15E Strike Eagle Amerika pada bulan April. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa dekade pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh tembakan musuh.
Tidak jelas kapan peralatan militer tersebut, yang diduga dari China, diserahkan kepada Iran.
Namun, penggunaan senjata buatan China oleh Iran memperumit hubungan Amerika dengan Beijing pada saat Presiden Donald Trump meminta bantuan China untuk mengakhiri konflik tersebut.
Pada saat F-15E Strike Eagle ditembak jatuh bulan lalu, Trump mengatakan pesawat itu terkena rudal yang diluncurkan dari bahu.
Dengan panjang sekitar 2,1 meter dan berat sekitar 18 kilogram, senjata tersebut, yang juga dikenal sebagai "senjata pertahanan udara portabel" atau "Manpads", menyediakan cara yang murah dan efektif untuk menjatuhkan pesawat yang terbang rendah.
Dua awak jet F-15 berhasil melontarkan diri dari pesawat di atas Iran. Pilot diselamatkan dalam waktu tujuh jam, tetapi butuh dua hari untuk menemukan dan menyelamatkan petugas sistem senjata, yang bersembunyi di kaki pegunungan Zagros, menurut Pentagon.
Ketika ditanya tentang penembakan jatuh pesawat F-15, juru bicara Kedutaan Besar China mengatakan dalam sebuah pernyataan: “China selalu bertindak dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer, dan menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan China tentang kontrol ekspor dan kewajiban internasional yang berlaku. China menentang fitnah tanpa dasar dan asosiasi yang bermaksud buruk.”
Laporan intelijen AS menunjukkan bahwa China berencana untuk menyediakan persenjataan pertahanan udara baru kepada Iran dalam beberapa minggu mendatang, seperti yang dilaporkan NBC News.
Para pejabat AS mungkin telah membocorkan intelijen tersebut dalam upaya untuk mengungkap rencana China, menurut mantan pejabat keamanan nasional Amerika, sebuah taktik yang digunakan oleh pemerintahan sebelumnya.
Awal bulan ini, pemerintahan Trump menuduh China mengizinkan Iran mengakses satelit China untuk membantu Teheran menargetkan pasukan AS di Timur Tengah.
Departemen Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan satelit China yang menurut mereka menyediakan citra dan data untuk memungkinkan Iran melancarkan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. China membantah tuduhan tersebut.
Menurut pejabat AS yang mengetahui diskusi tersebut, AS menyadari semua yang dilakukan China untuk mendukung Iran. Pejabat itu mengatakan bahwa China mendukung Iran sebelum perang dan bantuan apa pun selama konflik yang sedang berlangsung tidak memberikan perbedaan di medan perang.
“Itu bukan dukungan yang signifikan. Tidak ada dampak operasional yang menentukan,” kata pejabat AS tersebut, Minggu (31/5/2026).
China pernah menjual sejumlah besar senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan 1990-an, termasuk rudal balistik, rudal anti-kapal, tank, artileri, dan jet tempur.
Namun setelah embargo senjata PBB terhadap Iran diberlakukan pada tahun 2006, China menarik diri dari penjualan senjata besar-besaran dan malah menyediakan komponen dan teknologi lain kepada Iran yang memiliki kegunaan sipil dan militer, menurut para ahli dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
(mas)
Lihat Juga :