AS dan Iran Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata 60 Hari, tapi...
Jum'at, 29 Mei 2026 - 10:24 WIB
loading...
Para negosiator AS dan Iran sepakat perpanjang gencatan senjata selama 60 hari, tapi Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum berikan persetujuan. Foto/Kurdistan24
A
A
A
TEHERAN - Para negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari yang akan memberi mereka waktu untuk menegosiasikan mengakhiri perang secara penuh. Tapi, Gedung Putih mengatakan kesepakatan tersebut harus disetujui oleh Presiden AS Donald Trump.
Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga belum memberikan persetujuan akhir.
Baca Juga: Iran Klaim Tembak Jatuh Pesawat Nirawak AS dan Tembaki 4 Kapal di Selat Hormuz
Pengumuman ini muncul ketika gencatan senjata saat ini antara kedua pihak berada di bawah tekanan setelah Amerika melancarkan beberapa serangan ke pelabuhan Bandar Abbas dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait.
Kesepakatan baru ini dapat meredakan ketegangan saat kedua pihak bersiap untuk membahas isu-isu yang lebih pelik seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Amerika dan Iran masih perlu menyelesaikan beberapa poin penting sebelum kesepakatan tentang perang dapat tercapai.
Vance mengatakan para negosiator "sedang bernegosiasi mengenai beberapa poin bahasa", yang mencakup "masalah pengayaan".
"Kita belum sampai di sana, tetapi kita sudah sangat dekat dan kita akan terus berupaya," katanya, seperti dikutip BBC, Jumat (29/5/2026).
AS telah lama menuntut agar Iran menghentikan produksi uranium yang diperkaya tinggi dan membuang persediaan yang ada, yang secara teori dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Vance menyampaikan nada optimistis saat berbicara kepada wartawan di Washington DC, mengatakan AS percaya bahwa Iran bernegosiasi dengan "itikad baik".
Sejak gencatan senjata awal antara AS dan Iran mulai berlaku pada 8 April, Trump telah berulang kali menyatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan dan negosiasi sedang berjalan, tetapi sejauh ini belum ada hasil substantif.
“Yang kita miliki di sini adalah tiket menuju negosiasi—surat pernyataan niat—jika Anda mau—untuk negosiasi tentang semua isu inti,” tulis Aaron David Miller, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, di X.
“Bersiaplah untuk negosiasi yang menyakitkan yang akan terasa seperti perawatan saluran akar gigi dan sakit kepala migrain setiap hari,” imbuh dia.
Menurut laporan Axios, kesepakatan perpanjangan gencatan senjata 60 hari ini diharapkan memungkinkan pengiriman tanpa batasan melalui Selat Hormuz, tanpa bea atau biaya yang dikenakan oleh Iran, dan Republik Islam Iran juga akan menghilangkan ranjau apa pun di jalur air tersebut dalam waktu 30 hari.
Iran telah mendorong biaya transit untuk jalur perairan tersebut sebagai bagian dari kesepakatan apa pun dan telah membahas proposal tersebut dengan Oman, yang perairan teritorialnya berbatasan dengan Iran di Selat Hormuz.
Trump mengancam Oman pada hari Rabu ketika ditanya tentang kemungkinan kesepakatan jangka pendek yang memungkinkan Oman dan Iran untuk mengendalikan selat tersebut.
"Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang," kata Trump. "Ini perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkannya."
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Kamis juga mengancam akan secara agresif menargetkan Oman jika negara itu membantu memberlakukan sistem pungutan tol di selat tersebut.
Sebagai bagian dari perpanjangan gencatan senjata, AS akan mencabut blokade Angkatan Lautnya terhadap pelabuhan Iran, tetapi hanya sebanding dengan seberapa banyak pengiriman komersial dipulihkan, menurut laporan Axios.
Memorandum kesepahaman juga akan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir. Di antara masalah pertama yang akan dibahas adalah bagaimana membuang persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.
Iran telah berupaya mendapatkan keringanan sanksi dan pencairan dana miliaran dolar yang dibekukan selama perundingan. Menurut laporan Axios, selama gencatan senjata, AS akan berkomitmen untuk membahas keringanan sanksi dan pencairan dana.
Memorandum antara kedua pihak akan mencakup pembahasan tentang "mekanisme" untuk memungkinkan Iran menerima barang dan bantuan kemanusiaan, imbuh laporan Axios.
Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga belum memberikan persetujuan akhir.
Baca Juga: Iran Klaim Tembak Jatuh Pesawat Nirawak AS dan Tembaki 4 Kapal di Selat Hormuz
Pengumuman ini muncul ketika gencatan senjata saat ini antara kedua pihak berada di bawah tekanan setelah Amerika melancarkan beberapa serangan ke pelabuhan Bandar Abbas dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait.
Kesepakatan baru ini dapat meredakan ketegangan saat kedua pihak bersiap untuk membahas isu-isu yang lebih pelik seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Amerika dan Iran masih perlu menyelesaikan beberapa poin penting sebelum kesepakatan tentang perang dapat tercapai.
Vance mengatakan para negosiator "sedang bernegosiasi mengenai beberapa poin bahasa", yang mencakup "masalah pengayaan".
"Kita belum sampai di sana, tetapi kita sudah sangat dekat dan kita akan terus berupaya," katanya, seperti dikutip BBC, Jumat (29/5/2026).
AS telah lama menuntut agar Iran menghentikan produksi uranium yang diperkaya tinggi dan membuang persediaan yang ada, yang secara teori dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Vance menyampaikan nada optimistis saat berbicara kepada wartawan di Washington DC, mengatakan AS percaya bahwa Iran bernegosiasi dengan "itikad baik".
Sejak gencatan senjata awal antara AS dan Iran mulai berlaku pada 8 April, Trump telah berulang kali menyatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan dan negosiasi sedang berjalan, tetapi sejauh ini belum ada hasil substantif.
“Yang kita miliki di sini adalah tiket menuju negosiasi—surat pernyataan niat—jika Anda mau—untuk negosiasi tentang semua isu inti,” tulis Aaron David Miller, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, di X.
“Bersiaplah untuk negosiasi yang menyakitkan yang akan terasa seperti perawatan saluran akar gigi dan sakit kepala migrain setiap hari,” imbuh dia.
Menurut laporan Axios, kesepakatan perpanjangan gencatan senjata 60 hari ini diharapkan memungkinkan pengiriman tanpa batasan melalui Selat Hormuz, tanpa bea atau biaya yang dikenakan oleh Iran, dan Republik Islam Iran juga akan menghilangkan ranjau apa pun di jalur air tersebut dalam waktu 30 hari.
Iran telah mendorong biaya transit untuk jalur perairan tersebut sebagai bagian dari kesepakatan apa pun dan telah membahas proposal tersebut dengan Oman, yang perairan teritorialnya berbatasan dengan Iran di Selat Hormuz.
Trump mengancam Oman pada hari Rabu ketika ditanya tentang kemungkinan kesepakatan jangka pendek yang memungkinkan Oman dan Iran untuk mengendalikan selat tersebut.
"Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang," kata Trump. "Ini perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkannya."
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Kamis juga mengancam akan secara agresif menargetkan Oman jika negara itu membantu memberlakukan sistem pungutan tol di selat tersebut.
Sebagai bagian dari perpanjangan gencatan senjata, AS akan mencabut blokade Angkatan Lautnya terhadap pelabuhan Iran, tetapi hanya sebanding dengan seberapa banyak pengiriman komersial dipulihkan, menurut laporan Axios.
Memorandum kesepahaman juga akan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir. Di antara masalah pertama yang akan dibahas adalah bagaimana membuang persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.
Iran telah berupaya mendapatkan keringanan sanksi dan pencairan dana miliaran dolar yang dibekukan selama perundingan. Menurut laporan Axios, selama gencatan senjata, AS akan berkomitmen untuk membahas keringanan sanksi dan pencairan dana.
Memorandum antara kedua pihak akan mencakup pembahasan tentang "mekanisme" untuk memungkinkan Iran menerima barang dan bantuan kemanusiaan, imbuh laporan Axios.
(mas)
Lihat Juga :