Sekutu Trump: Pangeran MBS Bisa Akui Israel Hari Ini, Masalahnya Ada di Raja Salman

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:05 WIB
loading...
Sekutu Trump: Pangeran...
Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman diklaim bisa mengakui negara Israel, namun Raja Salman jadi penghalangnya. Foto/SPA
A A A
TEL AVIV - Mike Evans, pendiri Friends of Zion yang juga sekutu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengeklaim Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) secara pribadi mengatakan kepadanya bahwa Saudi bisa mengakui negara Israel hari ini. Hanya saja, ayahnya; Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, tetap menjadi penghalang.

Evans, yang dikenal sebagai pendukung evangelis Israel, menyampaikan klaimnya kepada The Jerusalem Post selama kunjungan ke Israel pada hari Senin.

Baca Juga: Senator AS Ancam Arab Saudi Cs Jika Tak Mau Normalisasi Hubungan dengan Israel

“Ketika saya berbicara dengan Putra Mahkota, dia mengatakan kepada saya bahwa dia akan mengakui Israel hari ini,” kata Evans. “Tetapi dia mengatakan masalahnya adalah ayahnya," ujarnya.

Evans mengatakan dia bertemu dengan Pangeran MBS selama dua jam, di mana saudara laki-laki MBS dan menteri luar negeri Arab Saudi juga hadir. Menurut Evans, saudara laki-laki Pangeran MBS mengungkapkan pandangan yang serupa.

Klaim sekutu Trump tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Komentarnya muncul ketika Presiden AS Donald Trump berupaya menghubungkan kemungkinan kesepakatan Iran dengan dorongan yang lebih luas agar negara-negara Arab dan Muslim bergabung dengan Abraham Accords (Perjanjian Abraham).

Trump mengatakan pada hari Senin bahwa negara-negara Arab dan Muslim termasuk Qatar, Pakistan, Mesir, Yordania, dan Turki harus bergabung dengan Abraham Accords sebagai bagian dari upaya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, menurut lapor Reuters.

Trump juga mengatakan dia telah berbicara pada hari Sabtu dengan para pemimpin dari negara-negara tersebut, serta Arab Saudi dan Bahrain.

Axios melaporkan pada hari Minggu bahwa Trump meminta para pemimpin dari beberapa negara Arab dan mayoritas Muslim, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain, untuk menormalisasi hubungan dengan Israel setelah kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran.

Evans mengatakan dia percaya permintaan Trump itu serius. “Saya pikir itu tulus,” katanya.

“Donald Trump memiliki pengaruh negosiasi yang sangat besar dengan Arab Saudi saat ini. Pengaruh yang sangat besar. Dan saya rasa tidak ada keraguan bahwa presiden berencana untuk memenuhi keinginan negara-negara ini karena dia mencoba untuk bergerak menuju perdamaian yang tulus," paparnya.

Evans mengatakan Putra Mahkota MBS juga sangat kritis terhadap Palestina selama percakapan pribadi mereka.

“Putra Mahkota mengatakan, berbicara kepada Palestina, mereka telah membuang-buang uang kita,” kata Evans. “Dia mengatakan mereka seharusnya tidak menyerang Israel. Mereka seharusnya meniru Israel.”

Lebih lanjut, Evans mengeklaim bahwa Pangeran MBS menolak gagasan membagi Yerusalem menjadi dua ibu kota untuk Israel dan Palestina.

“Ketika dia berbicara tentang Yerusalem, dia mengatakan jika ada dua ibu kota di Yerusalem, itu akan menjadi ibu kota teror,” kata Evans. “Dia tampak lebih pro-Israel daripada sebagian besar penduduk Yahudi.”

Perjanjian Abraham ditandatangani selama masa jabatan pertama Trump, menormalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab serta Bahrain pada tahun 2020, diikuti oleh Maroko dan Sudan. Arab Saudi telah lama dipandang sebagai hadiah utama dari setiap upaya normalisasi yang lebih luas, meskipun Riyadh secara terbuka mengaitkan pengakuan Israel dengan kemajuan dalam masalah Palestina.

Evans mengatakan dia tidak yakin bahwa kedaulatan negara Palestina adalah hambatan sebenarnya bagi pengakuan Arab Saudi terhadap negara Israel.

“Saya tidak begitu yakin itu yang menghambatnya,” katanya. “Saya pikir jujur saja, keadaan telah berubah. Saya pikir tidak ada masalah dengannya. Saya pikir dia akan melakukannya. Saya pikir Donald Trump sungguh-sungguh," imbuh dia.

Proposal terbaru Trump juga mencakup negara-negara yang dianggap memiliki prospek lebih rumit untuk normalisasi hubungan dengan Israel, termasuk Qatar, Turki, dan Pakistan. Qatar telah menjadi tuan rumah bagi para pemimpin Hamas dan memainkan peran mediasi sentral dalam negosiasi sandera, pemerintah Turki telah mengkritik Israel dengan tajam selama perang Gaza, dan Pakistan tidak pernah mengakui Israel.

Evans berpendapat bahwa hubungan pribadi dan pengaruh diplomatik Trump masih dapat menghasilkan hasil.

“Donald Trump memiliki pengaruh negosiasi yang sangat besar,” katanya. “Dia telah membangun banyak persahabatan, dan dia dapat mewujudkannya," paparnya.

Evans membingkai kemungkinan perluasan Perjanjian Abraham sebagai bagian dari pertempuran regional yang lebih besar melawan gerakan-gerakan Islamis, terutama Ikhwanul Muslimin.

“Sebagian besar amunisi yang telah menciptakan masalah bagi Negara Israel dan bagi orang Yahudi di seluruh dunia adalah Ikhwanul Muslimin,” katanya. “Dengan menciptakan aliansi dengan negara-negara Sunni ini, Perjanjian Abraham, Anda sedang membendung Ikhwanul Muslimin.”

Evans membela penanganan Trump terhadap Iran di tengah kekhawatiran Israel atas laporan kemungkinan tercapainya kesepakatan.

“Tidak ada presiden dalam sejarah yang telah berbuat lebih banyak untuk Negara Israel daripada presiden ini,” kata Evans. “Anda harus melihat sisi positif daripada sisi negatif.”

Dia memperingatkan bahwa Iran akan melakukan kesalahan besar jika mencoba menyesatkan Trump.

“Saya tidak percaya Iran akan menepati janji mereka,” kata Evans. “Jika mereka mencoba mempermainkannya, dia akan membalas dan menyerang mereka. Mereka akan melakukan kesalahan besar jika meremehkan presiden ini.”

Tak hanya itu, Evans juga membahas debat internal Partai Republik tentang Israel, termasuk pengaruh Tucker Carlson dan suara-suara lain yang mengkritik dukungan AS untuk Israel.

Dia mengatakan Friends of Zion telah memobilisasi 1.000 pendeta yang melakukan perjalanan ke Israel dan kemudian menggunakan media sosial untuk melawan apa yang dia gambarkan sebagai narasi anti-Israel di dalam sebagian gerakan konservatif.

“Ketika kita berbicara terakhir kali, Tucker Carlson berada di Gedung Putih,” kata Evans, merujuk pada kedekatan Carlson dengan tokoh-tokoh dunia Trump. “Dan sangat dekat dengan wakil presiden.”

Evans mengatakan Friends of Zion kemudian meluncurkan kampanye media sosial melawan Carlson.

“Kami memobilisasi 1.000 pendeta kami yang datang ke Israel,” katanya. “Kami mulai melakukan kampanye di jejaring sosial. Kami mendapatkan 138 juta tayangan dan mulai menyerang, mengekspos Tucker Carlson.”

“Tucker Carlson saat ini telah dikorbankan oleh Donald Trump,” imbuh Evans. “Dia sudah tersingkir," sambung dia.

Evans mengatakan fenomena yang lebih luas ini tetap harus menjadi perhatian kaum konservatif pro-Israel, terutama karena Carlson memiliki banyak pengikut di kalangan audiens sayap kanan yang lebih muda.

Dia mengeklaim, tanpa memberikan bukti dalam wawancara tersebut, bahwa uang dari negara-negara Teluk telah membantu memicu narasi anti-Israel secara daring.

“Ada sejumlah besar uang minyak dari negara-negara Teluk, dokumen-dokumen AI yang digunakan untuk memicu dan mendukung semua ini,” kata Evans.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Meski Terus Digempur...
Meski Terus Digempur Israel, Sekjen Hizbullah Tegaskan Seluruh Anggota Siap Mati!
Sebulan Ditahan di Libya,...
Sebulan Ditahan di Libya, Tiga Aktivis Pro Palestina Akhirnya Bebas
Gempa Venezuela, Badan...
Gempa Venezuela, Badan Geologi AS Bikin Pemodelan Korban Tewas 10.000 hingga 100.000 Orang
Rekomendasi
Jangan Jadi Korban!...
Jangan Jadi Korban! Ini Strategi Melawan Hoaks Lowongan Kerja yang Wajib Diketahui
KPK Belum Menahan Eks...
KPK Belum Menahan Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono usai Pemeriksaan, Ini Alasannya
Bukan Sekadar Batasi...
Bukan Sekadar Batasi Screen Time, Nova Nayla Bagikan Cara Bijak Mindful Parenting
Berita Terkini
China Bikin Replika...
China Bikin Replika Kapal Perang AS untuk Jadi Target Tes Rudal
Negara NATO Ini Bakal...
Negara NATO Ini Bakal Melarang Kumandang Azan
Selat Hormuz Bergejolak...
Selat Hormuz Bergejolak Lagi, Iran Serang Kapal Berbendera Singapura
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Infografis
Iran-Israel Perang,...
Iran-Israel Perang, Ini Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved