Rusia Kecam AS karena Kerahkan Kapal Induk Nuklir Diduga untuk Menginvasi Kuba

Jum'at, 22 Mei 2026 - 08:31 WIB
loading...
A A A
Tuduhan tersebut berasal dari dugaan perannya sebagai menteri pertahanan dalam memerintahkan penembakan dua pesawat Cessna yang dioperasikan oleh Brothers to the Rescue, sebuah kelompok kemanusiaan yang berbasis di Miami yang mencari warga Kuba yang mencoba melarikan diri dari pulau itu melalui laut, pada 24 Februari 1996.

Empat orang tewas, termasuk tiga warga negara Amerika, Carlos Costa, Armando Alejandre Jr, dan Mario de la Pena, serta Pablo Morales, seorang penduduk AS.

Lima pilot militer Kuba juga disebutkan dalam dakwaan tersebut, yang diumumkan pada Hari Kemerdekaan Kuba. Organisasi Negara-negara Amerika sebelumnya menemukan bahwa pesawat-pesawat tersebut telah ditembak jatuh di luar wilayah udara Kuba, yang melanggar hukum internasional.

Pernyataan Rusia menggambarkan dakwaan tersebut sebagai dalih, dengan alasan bahwa tuduhan tersebut bertujuan untuk "melegitimasi" kampanye tekanan yang lebih luas terhadap pemerintah Kuba daripada untuk mengejar keadilan yang sebenarnya.

Komando Selatan AS (SOUTHCOM) mengonfirmasi kedatangan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Nimitz di Karibia selatan, sebuah pengerahan yang digambarkan sebagai bagian dari latihan Angkatan Laut multinasional Southern Seas 2026. Kelompok tersebut termasuk Carrier Air Wing 17, kapal perusak rudal berpemandu USS Gridley, dan kapal tanker minyak USNS Patuxent.

Waktu kejadian tersebut, yang bertepatan dengan pembukaan dakwaan, segera menarik perhatian internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan langkah-langkah paralel tersebut memiliki ciri khas eskalasi yang disengaja, membandingkan strategi tersebut dengan taktik yang sebelumnya digunakan terhadap Venezuela.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Hadiri LCAW 2026, Menteri...
Hadiri LCAW 2026, Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di London
Wow, Putin Ngobrol dengan...
Wow, Putin Ngobrol dengan Presiden Belarusia Lukashenko 24 Jam Lebih
Rekomendasi
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Roy Suryo Dimulai, Hakim Ungkap Jadwal Setiap Persidangan
Jro Bima, Memperluas...
Jro Bima, Memperluas Pengabdian untuk Bali lewat Jalur Politik
Soroti Kematian 5 Calon...
Soroti Kematian 5 Calon Manajer Kopdes, Pimpinan Komisi XIII DPR Dorong Komnas HAM Investigasi
Berita Terkini
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Pria Misterius Dijuluki...
Pria Misterius Dijuluki 'Batman' Diburu Polisi karena Ikat Para Maling Motor di Tiang Lampu
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved