Sejarah Persia Menjadi Iran: dari Kudeta hingga Operasi CIA yang Mengubah Timur Tengah
Minggu, 17 Mei 2026 - 14:05 WIB
loading...
A
A
A
Dia kemudian mendirikan Dinasti Pahlavi pada 1925. Reza Shah ingin memodernisasi Persia seperti model Turki sekuler ala Mustafa Kemal Ataturk. Dia membangun infrastruktur, memperkuat militer, mengurangi pengaruh ulama, dan mendorong western-isasi.
Pada 1935, dia meminta dunia internasional menggunakan nama “Iran” alih-alih Persia. Nama Iran sendiri berarti “Tanah Bangsa Arya”.
Namun modernisasi ala Reza Shah dibangun dengan tangan besi. Oposisi ditekan dan kekuasaan dipusatkan pada monarki. Pada akhirnya, Reza Shah Pahlavi dipaksa turun takhta, digantikan putranya yang lemah; Mohammad Reza Pahlavi.
Lantaran kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi lemah, kubu oposisi di parlemen muncul kuat, di mana politisi bernama Mohammad Mossadegh menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang disegani.
Jika ada satu peristiwa yang paling membentuk kebencian Iran terhadap Amerika Serikat hingga sekarang, maka jawabannya adalah kudeta 1953.
Tokoh sentralnya adalah Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh.
Mosaddegh sangat populer karena menasionalisasi industri minyak Iran yang saat itu dikuasai perusahaan Inggris. Langkah itu membuat Inggris murka.
Dalam konteks Perang Dingin, Amerika Serikat khawatir Iran jatuh ke pengaruh Soviet. Akhirnya, Badan Intelijen Pusat (CIA) AS bersama badan intelijen Inggris, MI6, menjalankan operasi rahasia bernama "Operasi Ajax".
Kudeta itu berhasil menggulingkan Mosaddegh pada Agustus 1953 dan kembali memperkuat kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Peristiwa ini menjadi luka sejarah mendalam bagi rakyat Iran.
Banyak warga Iran percaya demokrasi mereka dihancurkan oleh campur tangan Barat demi minyak. CIA sendiri akhirnya mengakui keterlibatannya dalam kudeta tersebut pada 2013.
Setelah kudeta 1953, Shah Mohammad Reza Pahlavi menjadi sekutu utama Barat di Timur Tengah.
Iran berkembang cepat, di mana infrastruktur modern dibangun, pendidikan diperluas, perempuan mendapat hak lebih besar, dan industri dan militer tumbuh pesat. Program reformasi besar itu dikenal sebagai “White Revolution”.
Namun di balik modernisasi itu, muncul masalah besar seperti ketimpangan ekonomi, korupsi elite, represi politik, ketergantungan pada AS, dan kemarahan ulama Syiah.
Polisi rahasia yang dikenal sebagai SAVAK menjadi simbol ketakutan rakyat karena dikenal brutal terhadap oposisi.
Banyak kelompok—dari ulama, nasionalis, kiri, hingga mahasiswa—akhirnya bersatu melawan Shah.
Pada 1935, dia meminta dunia internasional menggunakan nama “Iran” alih-alih Persia. Nama Iran sendiri berarti “Tanah Bangsa Arya”.
Namun modernisasi ala Reza Shah dibangun dengan tangan besi. Oposisi ditekan dan kekuasaan dipusatkan pada monarki. Pada akhirnya, Reza Shah Pahlavi dipaksa turun takhta, digantikan putranya yang lemah; Mohammad Reza Pahlavi.
Lantaran kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi lemah, kubu oposisi di parlemen muncul kuat, di mana politisi bernama Mohammad Mossadegh menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang disegani.
Operasi Rahasia CIA Mengubah Timur Tengah
Jika ada satu peristiwa yang paling membentuk kebencian Iran terhadap Amerika Serikat hingga sekarang, maka jawabannya adalah kudeta 1953.
Tokoh sentralnya adalah Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh.
Mosaddegh sangat populer karena menasionalisasi industri minyak Iran yang saat itu dikuasai perusahaan Inggris. Langkah itu membuat Inggris murka.
Dalam konteks Perang Dingin, Amerika Serikat khawatir Iran jatuh ke pengaruh Soviet. Akhirnya, Badan Intelijen Pusat (CIA) AS bersama badan intelijen Inggris, MI6, menjalankan operasi rahasia bernama "Operasi Ajax".
Kudeta itu berhasil menggulingkan Mosaddegh pada Agustus 1953 dan kembali memperkuat kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Peristiwa ini menjadi luka sejarah mendalam bagi rakyat Iran.
Banyak warga Iran percaya demokrasi mereka dihancurkan oleh campur tangan Barat demi minyak. CIA sendiri akhirnya mengakui keterlibatannya dalam kudeta tersebut pada 2013.
Setelah kudeta 1953, Shah Mohammad Reza Pahlavi menjadi sekutu utama Barat di Timur Tengah.
Iran berkembang cepat, di mana infrastruktur modern dibangun, pendidikan diperluas, perempuan mendapat hak lebih besar, dan industri dan militer tumbuh pesat. Program reformasi besar itu dikenal sebagai “White Revolution”.
Namun di balik modernisasi itu, muncul masalah besar seperti ketimpangan ekonomi, korupsi elite, represi politik, ketergantungan pada AS, dan kemarahan ulama Syiah.
Polisi rahasia yang dikenal sebagai SAVAK menjadi simbol ketakutan rakyat karena dikenal brutal terhadap oposisi.
Banyak kelompok—dari ulama, nasionalis, kiri, hingga mahasiswa—akhirnya bersatu melawan Shah.
Lihat Juga :