Siapa Gerhard Schroeder? Mantan Kanselir Jerman yang Diminta Putin Jadi Mediator Perundingan Ukraina dan Rusia

Rabu, 13 Mei 2026 - 02:20 WIB
loading...
A A A
Perselisihan mengenai perang Irak menyebabkan keretakan serius dalam hubungan Jerman-AS pada tahun 2003, ketika Jerman berpihak pada Prancis dan Rusia dalam menentang intervensi militer di negara tersebut atas klaim bahwa presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, memproduksi senjata pemusnah massal.

Setelah meninggalkan jabatannya pada tahun 2005, Schroeder hampir segera mengambil pekerjaan sebagai ketua konsorsium Jerman-Rusia yang kontroversial yang membangun jalur pipa gas di bawah Laut Baltik. Ia memegang peran kunci dalam proyek-proyek energi Rusia, termasuk pekerjaan pada jalur pipa gas Nord Stream dan kursi di dewan direksi perusahaan minyak Rusia Rosneft, yang ia tinggalkan pada tahun 2022.

Meskipun ia meninggalkan peran tersebut, mantan kanselir ini tetap dekat dengan Putin, berbeda dari sebagian besar pemimpin Barat sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022 dan menghadapi kritik keras di Jerman.

Kegagalannya untuk secara terbuka mengutuk invasi Rusia ke Ukraina telah membuatnya kehilangan beberapa hak istimewa yang biasanya diberikan kepada mantan kanselir, termasuk menerima kantor yang didanai negara, menjadikannya sosok kontroversial di dalam negeri.

3. Dipuji sebagai Seorang Demokrat yang Sempurna

Melansir Al Jazeera, Schroeder menyebut Putin sebagai "seorang demokrat yang sempurna" pada tahun 2004, menyatakan dirinya "sangat yakin bahwa presiden Rusia ingin mengubah Rusia menjadi negara demokrasi dan bahwa ia melakukannya karena keyakinan yang mendalam".

Kanselir Jerman saat itu tidak banyak berkomentar tentang upaya Rusia untuk memengaruhi pemilihan di Ukraina selama tahun-tahun tersebut atau tentang serangan Kremlin terhadap kebebasan pers. Sebaliknya, di bawah kepemimpinannya, Jerman memperdalam hubungan ekonominya dengan Rusia, meningkatkan perdagangan, dan meningkatkan ketergantungannya pada minyak dan gas alam Rusia.

Dalam bukunya Klare Woerter (Bicara Terus Terang), Schroeder berbicara tentang hubungannya dengan pemimpin Rusia tersebut, yang pernah bekerja sebagai mata-mata KGB di Jerman Timur pada tahun 1980-an dan fasih berbahasa Jerman.

“Hal terpenting untuk sebuah persahabatan adalah bahasa yang sama,” kata Schroeder, yang memiliki dua anak angkat dari Rusia – Viktoria dan Gregor. “Itu membuat segalanya lebih mudah.”

Persahabatan mereka dilaporkan terus berkembang selama bertahun-tahun. Schroeder mengkritik langkah-langkah untuk menjatuhkan sanksi dan mengeluarkan Rusia dari Kelompok Delapan dan bahkan mendukung argumen Kremlin yang membandingkan aneksasi wilayah Krimea Ukraina dengan intervensi NATO di provinsi Kosovo Serbia pada tahun 1990-an.

4. Ada Harapan Mengakhiri Perang Ukraina

Perundingan yang didukung AS telah tersendat akibat serangan terbaru Rusia untuk merebut sisa wilayah Donetsk di Ukraina timur, yang telah dituntut Moskow agar Kyiv menyerahkannya sebelum mempertimbangkan untuk mengakhiri perang. Sementara itu, kedua pihak terus melakukan serangan satu sama lain, dengan Ukraina membuat kemajuan signifikan dalam menghancurkan infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Protes 'Kecoa'...
Protes 'Kecoa' di India Meluas, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Reformasi Pemerintah
Blak-blakan, Walkot...
Blak-blakan, Walkot New York Mamdani Sebut AS Bertanggung Jawab atas Genosida Gaza
Rekomendasi
Dokter Tifa Sudah Pelajari...
Dokter Tifa Sudah Pelajari 10 Ribu Halaman Dokumen BAP sebelum Eksepsi Dikabulkan
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
Berita Terkini
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
Infografis
Profil Djamari Chaniago,...
Profil Djamari Chaniago, Mantan Pangkostrad yang Dilantik Jadi Menko Polkam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved