China Dinilai Gunakan Pembatasan Akses Tibet untuk Kendalikan Narasi

Rabu, 06 Mei 2026 - 14:51 WIB
loading...
A A A
Banyak di antara mereka dilaporkan ditolak masuk, sementara yang berhasil masuk disebut kerap dibayangi, diinterogasi, atau ditekan untuk menghentikan perjalanan mereka.

China memang sesekali menggelar kunjungan bagi diplomat atau media asing, tetapi Thondup menilai kunjungan tersebut sangat dikontrol.

Hambatan Verifikasi


Delegasi disebut hanya diarahkan ke desa percontohan, biara yang telah dipoles, atau sekolah unggulan, sementara isu-isu sensitif seperti sekolah asrama, pembatasan bahasa Tibet, dan indoktrinasi politik tidak dapat diperiksa secara independen.

“Dengan mengontrol siapa yang melihat apa, negara mengontrol apa yang dipercayai dunia,” ucap Thondup.

Dia juga menilai pembatasan akses digunakan sebagai alat strategis untuk melindungi kebijakan Beijing dari sorotan internasional.

Thondup menyinggung berbagai isu yang sulit diverifikasi secara independen karena minimnya akses, termasuk dugaan penghancuran situs keagamaan, pembatasan pendidikan bahasa Tibet, perluasan infrastruktur pengawasan, relokasi paksa, serta pembungkaman kritik.

Akibatnya, masyarakat Tibet di dalam wilayah tersebut disebut memiliki akses terbatas terhadap media asing, sementara komunitas diaspora kesulitan melawan narasi resmi tanpa pelaporan langsung dari lapangan.

“Hasil akhirnya adalah vakum kebenaran yang diisi propaganda,” ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Persaingan Memanas,...
Persaingan Memanas, China Membangun Replika Kapal Perang AS untuk Latihan Tembak Rudal
Ditutup-tutupi selama...
Ditutup-tutupi selama 1 Bulan, 2 Pilot China Tewas saat Latihan Perang
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Banjir Hancurkan Peternakan,...
Banjir Hancurkan Peternakan, Lepaskan Hampir 900 Ular Termasuk Kobra ke Permukiman
Gempur Yordania, Iran...
Gempur Yordania, Iran Klaim Hancurkan Beberapa Drone MQ-9 dan Hanggar Jet Tempur AS
Rekomendasi
Jadwal Final Piala Dunia...
Jadwal Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
Perkuat Jaringan di...
Perkuat Jaringan di Jatim, XLSMART Perluas 5G Blanket Coverage di 8 Kabupaten/Kota
Amien Desak Prabowo...
Amien Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
Berita Terkini
Iran Hancurkan Markas...
Iran Hancurkan Markas Besar Armada Ke-5 AS di Bahrain, Amerika Habisi 7 Tentara Teheran
AS Berambisi Caplok...
AS Berambisi Caplok 3 Pulau Terluar Iran, Bunuh Diri atau Raih Kemenangan Taktis?
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
Deretan 25 Pemimpin...
Deretan 25 Pemimpin Dunia yang Sampaikan Belasungkawa atas Kematian Sheikh Hamad
Mantan PM Yordania Sebut...
Mantan PM Yordania Sebut Perang Iran dan AS Tak Ada Gunanya
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved