Trump: Tak Ada Jangka Waktu untuk Akhiri Perang AS-Israel vs Iran!
Kamis, 23 April 2026 - 14:14 WIB
loading...
Presiden Donald Trump sebut tak ada jangka waktu untuk akhiri perang AS-Israel melawan Iran. Foto/White House
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan tidak ada "jangka waktu" untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Menurutnya, tidak ada "tekanan waktu" pada perpanjangan gencatan senjata atau perundingan damai baru yang tertunda.
"Orang-orang mengatakan saya ingin menyelesaikannya karena pemilu paruh waktu, itu tidak benar," kata Trump kepada Fox News, yang dilansir Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Selat Hormuz Genting! Iran Tembaki 3 Kapal, 2 di Antaranya Disita
Awalnya, Trump mengatakan perang tersebut akan berlangsung selama empat hingga enam minggu setelah dimulai pada 28 Februari.
Pada hari Selasa, Trump mengatakan bahwa dia akan memperpanjang gencatan senjata yang semestinya berakhir pada Rabu malam untuk memberi lebih banyak waktu bagi Iran guna mengajukan proposal terpadu untuk negosiasi lebih lanjut.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump belum menetapkan tenggat waktu untuk menerima proposal Iran. "Pada akhirnya, jangka waktu akan ditentukan oleh panglima tertinggi," katanya.
Trump mungkin akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran selama tiga hingga lima hari lagi, menurut laporan Axios yang mengutip tiga pejabat AS.
Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Ahmad Vahidi dan para wakilnya telah menolak sebagian besar dari apa yang telah dibahas oleh para negosiator Iran sendiri selama putaran pertama perundingan AS-Iran di Pakistan awal bulan ini.
Pada hari Rabu, Trump juga mengatakan kepada New York Post bahwa mungkin perundingan damai baru antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlangsung paling cepat hari Jumat.
"Sumber-sumber di Islamabad memuji upaya mediasi positif dengan Teheran, memperbarui kemungkinan perundingan damai lebih lanjut dalam 36 hingga 72 jam ke depan," tulis New York Post dalam laporannya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan terobosan ini, Trump mengatakan dalam pesan teks: "Itu mungkin!"
Tasnim News, yang berbasis di Iran, mengatakan Republik Islam Iran belum secara resmi menanggapi klaim perpanjangan gencatan senjata. "Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi apa pun yang mengonfirmasi persetujuannya untuk memperpanjang gencatan senjata, meskipun ada laporan yang belum diverifikasi yang beredar di beberapa media," tulis media itu di platform media sosial X.
Sementara itu, Leavitt mengatakan kepada Fox News bahwa Trump tidak menganggap penyitaan dua kapal Eropa secara paksa oleh Iran di dekat Selat Hormuz sebagai pelanggaran gencatan senjata AS yang diperpanjang dengan Iran.
"Ini bukan kapal AS. Ini bukan kapal Israel. Ini adalah dua kapal internasional," katanya.
"Kedua kapal ini ditangkap oleh kapal perang cepat. Iran telah berubah dari memiliki Angkatan Laut paling mematikan di Timur Tengah menjadi bertindak seperti sekelompok bajak laut. Mereka tidak memiliki kendali atas selat tersebut. Ini adalah pembajakan yang kita saksikan," kata Leavitt.
IRGC mengatakan sebelumnya pada hari Rabu bahwa mereka telah menyita dua kapal yang "diduga beroperasi tanpa izin yang tepat, berulang kali melanggar peraturan, dan memanipulasi sistem navigasi".
Secara terpisah, para pejabat pertahanan AS memberi pengarahan kepada anggota parlemen minggu ini tentang penilaian intelijen bahwa dibutuhkan waktu enam bulan untuk sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau yang dipasang oleh militer Iran, menurut laporan The Washington Post.
Menurutnya, tidak ada "tekanan waktu" pada perpanjangan gencatan senjata atau perundingan damai baru yang tertunda.
"Orang-orang mengatakan saya ingin menyelesaikannya karena pemilu paruh waktu, itu tidak benar," kata Trump kepada Fox News, yang dilansir Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Selat Hormuz Genting! Iran Tembaki 3 Kapal, 2 di Antaranya Disita
Awalnya, Trump mengatakan perang tersebut akan berlangsung selama empat hingga enam minggu setelah dimulai pada 28 Februari.
Pada hari Selasa, Trump mengatakan bahwa dia akan memperpanjang gencatan senjata yang semestinya berakhir pada Rabu malam untuk memberi lebih banyak waktu bagi Iran guna mengajukan proposal terpadu untuk negosiasi lebih lanjut.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump belum menetapkan tenggat waktu untuk menerima proposal Iran. "Pada akhirnya, jangka waktu akan ditentukan oleh panglima tertinggi," katanya.
Trump mungkin akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran selama tiga hingga lima hari lagi, menurut laporan Axios yang mengutip tiga pejabat AS.
Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Ahmad Vahidi dan para wakilnya telah menolak sebagian besar dari apa yang telah dibahas oleh para negosiator Iran sendiri selama putaran pertama perundingan AS-Iran di Pakistan awal bulan ini.
Pada hari Rabu, Trump juga mengatakan kepada New York Post bahwa mungkin perundingan damai baru antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlangsung paling cepat hari Jumat.
"Sumber-sumber di Islamabad memuji upaya mediasi positif dengan Teheran, memperbarui kemungkinan perundingan damai lebih lanjut dalam 36 hingga 72 jam ke depan," tulis New York Post dalam laporannya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan terobosan ini, Trump mengatakan dalam pesan teks: "Itu mungkin!"
Tasnim News, yang berbasis di Iran, mengatakan Republik Islam Iran belum secara resmi menanggapi klaim perpanjangan gencatan senjata. "Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi apa pun yang mengonfirmasi persetujuannya untuk memperpanjang gencatan senjata, meskipun ada laporan yang belum diverifikasi yang beredar di beberapa media," tulis media itu di platform media sosial X.
Sementara itu, Leavitt mengatakan kepada Fox News bahwa Trump tidak menganggap penyitaan dua kapal Eropa secara paksa oleh Iran di dekat Selat Hormuz sebagai pelanggaran gencatan senjata AS yang diperpanjang dengan Iran.
"Ini bukan kapal AS. Ini bukan kapal Israel. Ini adalah dua kapal internasional," katanya.
"Kedua kapal ini ditangkap oleh kapal perang cepat. Iran telah berubah dari memiliki Angkatan Laut paling mematikan di Timur Tengah menjadi bertindak seperti sekelompok bajak laut. Mereka tidak memiliki kendali atas selat tersebut. Ini adalah pembajakan yang kita saksikan," kata Leavitt.
IRGC mengatakan sebelumnya pada hari Rabu bahwa mereka telah menyita dua kapal yang "diduga beroperasi tanpa izin yang tepat, berulang kali melanggar peraturan, dan memanipulasi sistem navigasi".
Secara terpisah, para pejabat pertahanan AS memberi pengarahan kepada anggota parlemen minggu ini tentang penilaian intelijen bahwa dibutuhkan waktu enam bulan untuk sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau yang dipasang oleh militer Iran, menurut laporan The Washington Post.
(mas)
Lihat Juga :