AS Klaim 2 Kapal Perangnya Lewati Selat Hormuz, tapi Disangkal Iran

Minggu, 12 April 2026 - 05:36 WIB
loading...
AS Klaim 2 Kapal Perangnya...
Militer AS klaim dua kapal perangnya telah melewati Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak perang Iran pecah. Namun, klaim ini disangkal Iran. Foto/Fox News
A A A
TEHERAN - Amerika Serikat (AS) mengeklaim dua kapal perangnya telah melewati Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak perang Amerika-Israel melawan Iran dimulai 28 Februari. Namun, Teheran menyangkal klaim Washington tersebut.

Komando Pusat (CENTCOM) Amerika mengeklaim dua kapal perang telah memulai operasi pembersihan ranjau yang dipasang Iran.

Baca Juga: Trump Dicueki, 11 Sekutu AS Menolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Klaim CENTCOM muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington telah mulai membersihkan ranjau di selat tersebut, jalur perairan vital yang dilalui seperlima minyak mentah dunia.

"Hari ini, kami memulai proses untuk membangun jalur baru dan kami akan segera membagikan jalur aman ini dengan industri maritim untuk mendorong arus perdagangan yang bebas," kata komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, seperti dikutip AFP, Minggu (12/4/2026).

Menurut militer Amerika, dua kapal perang yang terlibat operasi pembersihan ranjau adalah USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy—keduanya merupakan kapal perusak berpeluru kendali. CENTCOM mengatakan bahwa pasukan AS tambahan, termasuk drone bawah air, dapat bergabung dalam upaya tersebut dalam beberapa hari mendatang.

Sementara itu, Iran dengan tegas menolak klaim Washington bahwa kapal-kapal perang AS memasuki Selat Hormuz. Demikian disampaikan juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, kepada stasiun televisi pemerintah.

"Inisiatif untuk lewat oleh kapal mana pun berada di tangan angkatan bersenjata Republik Islam Iran," katanya.

Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, kemudian mengutip Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mengatakan: "Setiap upaya oleh kapal militer untuk melewati Selat Hormuz akan ditindak tegas."

"Jalur selat hanya akan diberikan kepada kapal sipil dalam kondisi tertentu," lanjut komando tersebut.

Sebelumnya, pada hari Sabtu, Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa Amerika Serikat memulai proses pembersihan Selat Hormuz.

Dia menyebutnya sebagai "bantuan" kepada negara-negara seperti China, Jepang, dan Prancis. "Yang tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan pekerjaan ini sendiri," tulis Trump.

Trump bersikeras bahwa Iran menderita kerugian besar dalam konflik tersebut, sambil mengakui bahwa ranjau Iran di Selat Hormuz masih menimbulkan ancaman.

"Satu-satunya hal yang mereka miliki adalah ancaman bahwa sebuah kapal mungkin menabrak salah satu ranjau laut mereka," imbuh Trump.

Jalur pelayaran utama di lepas pantai Iran praktis telah diblokir oleh Teheran sejak Amerika Serikat dan Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari, meskipun pembukaan kembali selat tersebut tampaknya merupakan syarat dari gencatan senjata yang rapuh yang diberlakukan awal pekan ini.

Para pejabat senior Iran dan Amerika mengadakan negosiasi tatap muka di Pakistan pada hari Sabtu dalam upaya untuk mengakhiri konflik yang telah menjerumuskan Timur Tengah ke dalam kekerasan dan mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh ekonomi dunia.

Dalam unggahan sebelumnya, Trump mengatakan bahwa kapal-kapal tanker kosong sedang menuju Amerika Serikat dari seluruh dunia untuk membeli minyak, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
Ini Teks Resmi 14 Poin...
Ini Teks Resmi 14 Poin Kesepakatan Damai AS dan Iran
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Banyak Manfaat jika Mau Berdamai, tapi...
Rekomendasi
Elnusa Petrofin dan...
Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga Perkuat Distribusi Avtur Bali-Nusra
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Asabri Gandeng 119 RS...
Asabri Gandeng 119 RS TNI Perluas Akses Jaminan Sosial Prajurit
Berita Terkini
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved