Ekonomi China Melambat, Generasi Muda Hadapi Pengangguran dan Tekanan Hidup

Sabtu, 11 April 2026 - 11:44 WIB
loading...
Ekonomi China Melambat,...
Aksi lying flat anak-anak muda China yang sempat viral sebagai ekspresi frustrasi atas terbatasnya peluang kerja. Foto/Baidu via Maeil Business
A A A
JAKARTA - Di balik citra pertumbuhan ekonomi yang pesat selama beberapa dekade terakhir, China kini menghadapi tantangan baru yang berpusat pada generasi mudanya.

A. Jathindra, direktur think-tank Trinco Centre for Strategic Studies (TCSS), mengatakan bahwa tekanan ekonomi yang meningkat di China mulai mengubah dinamika sosial dan ekonomi di negara tersebut.

Baca Juga: Pengangguran Pemuda China Meningkat, Sistem Pendidikan Jadi Sorotan

“Selama lebih dari 40 tahun, China dikenal dengan transformasi ekonomi yang cepat, ditandai dengan pertumbuhan industri, urbanisasi, dan munculnya kelas menengah,” sebut Jathindra, dikutip dari Eurasia Review, Sabtu (11/4/2026).

“Namun di balik capaian tersebut, generasi muda China kini menghadapi ketidakpastian yang semakin besar,” sambungnya.

Ekonom Gao Shanwen menjadi sorotan setelah menyebut kondisi generasi muda China sebagai “lifeless” dalam sebuah forum investor. “China kini dipenuhi orang tua yang bersemangat, generasi muda yang lesu, dan kelompok usia menengah yang putus asa,” ujarnya.

Di berbagai kota besar seperti Beijing dan Chengdu, generasi muda dilaporkan menghadapi kombinasi tekanan berupa daya beli yang menurun, prospek pekerjaan yang tidak pasti, serta ketergantungan pada kebijakan subsidi pemerintah untuk mendorong konsumsi.

Pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir meluncurkan berbagai program subsidi untuk meningkatkan belanja masyarakat, termasuk insentif untuk mengganti peralatan rumah tangga dan perangkat elektronik. Pada 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar 62,5 miliar yuan untuk program tersebut.

Dalam skema ini, konsumen dapat memperoleh potongan harga hingga 15 persen untuk sejumlah produk seperti televisi, lemari es, dan pendingin udara, serta subsidi untuk perangkat digital seperti ponsel dan tablet.

Namun, menurut laporan tersebut, kebijakan ini mencerminkan masalah yang lebih mendasar, yakni melemahnya daya beli masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Subsidi dinilai tidak lagi sekadar insentif, melainkan menjadi alat struktural untuk menopang permintaan domestik.

Masalah lain yang menjadi sorotan adalah tingginya tingkat pengangguran di kalangan muda. Meski tingkat pengangguran perkotaan secara umum berada di kisaran 5 persen, angka untuk kelompok usia muda jauh lebih tinggi.

Proyeksi Bank Dunia dan OECD


Bank Dunia memperkirakan tingkat pengangguran usia muda mencapai sekitar 17,7 persen pada 2025. Sementara data resmi menunjukkan angka sekitar 16,9 persen untuk kelompok usia 16 hingga 24 tahun.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Sebagian di antaranya beralih ke pekerjaan informal atau berpenghasilan rendah.

Setiap tahun, lebih dari 12 juta lulusan baru memasuki pasar kerja di China, memperketat persaingan dan memperbesar tekanan terhadap pasar tenaga kerja.

Dampak dari kondisi ini juga terlihat pada sektor konsumsi. Pertumbuhan penjualan ritel dinilai masih bergantung pada program stimulus pemerintah dan belum mencerminkan peningkatan kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China melambat dari sekitar 5 persen pada 2025 menjadi sekitar 4,4 persen pada 2026.

Sektor properti, yang sebelumnya menjadi penopang utama kekayaan rumah tangga, juga mengalami pelemahan. Penurunan harga properti dan investasi disebut turut mengurangi kemampuan belanja masyarakat.

Di tengah kondisi ini, muncul pula perdebatan terkait akurasi data pertumbuhan ekonomi China. Beberapa pengamat menilai angka resmi cenderung optimistis, meskipun tidak secara langsung dimanipulasi oleh pemerintah pusat.

“Jika perkiraan saya benar, pertumbuhan ekonomi China mungkin berada di kisaran 3 hingga 4 persen dalam beberapa tahun ke depan,” kata Gao.

Kehati-hatian Generasi Muda


Tekanan ekonomi tersebut juga berdampak pada kondisi psikologis generasi muda. Di media sosial China, istilah seperti “lying flat” dan “involution” semakin populer untuk menggambarkan sikap menarik diri dari kompetisi dan frustrasi terhadap terbatasnya peluang.

Istilah “lying flat” bahkan sempat menjadi viral setelah seorang pengguna internet membagikan pengalamannya hidup dengan pengeluaran minimal selama dua tahun tanpa pekerjaan.

Meski demikian, pemerintah China terus menekankan pentingnya stabilitas jangka panjang dan pertumbuhan berbasis inovasi, termasuk di sektor teknologi, kecerdasan buatan, dan manufaktur maju.

Namun, laporan tersebut mencatat bahwa bagi banyak generasi muda, narasi tersebut belum cukup menjawab kebutuhan mendasar, seperti pekerjaan yang stabil dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada subsidi.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tantangan terbesar China ke depan mungkin bukan lagi pada sektor produksi atau ekspor, melainkan pada melemahnya kepercayaan generasi mudanya terhadap masa depan.

Jika tren ini berlanjut, perubahan sikap generasi muda dari optimisme menjadi kehati-hatian dinilai dapat membawa dampak jangka panjang terhadap arah ekonomi dan sosial China.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Pentagon Buka Arsip...
Pentagon Buka Arsip UFO, Ungkap Bola Bercahaya Misterius di Langit AS
Pernikahan Tragis! Ayah...
Pernikahan Tragis! Ayah Mempelai Wanita Tewas akibat Serangan Jantung setelah Ribut soal Mahar
Rekomendasi
Akhirnya Eropa Izinkan...
Akhirnya Eropa Izinkan Fitur FSD Tesla Digunakan
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Nikahi Jennifer Coppen,...
Nikahi Jennifer Coppen, Justin Hubner Berikan Mahar 12 Gram Emas dan Uang 2.026 Euro
Berita Terkini
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Ini Gaun Emas Termahal...
Ini Gaun Emas Termahal di Dunia! Beratnya 10 Kg, Harganya Rp24 Miliar
4 Fakta Tempat Tinggal...
4 Fakta Tempat Tinggal Elon Musk, Rumah Sewa dan Ukurannya Mungil
Infografis
China Dilanda Gelombang...
China Dilanda Gelombang PHK dan Gejolak Sosial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved