Korea Utara Tes Senjata Baru saat Dunia Fokus pada Perang Iran
Kamis, 09 April 2026 - 15:12 WIB
loading...
A
A
A
Ketika ditanya tentang kemampuan Korea Selatan untuk mempertahankan diri dari potensi serangan bom cluster dari Korea Utara, Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan meremehkan ancaman keamanan yang ditimbulkannya.
"Militer kami mempertahankan kemampuan dan kesiapan untuk merespons secara luar biasa terhadap provokasi apa pun oleh Korea Utara di bawah postur pertahanan gabungan Korea Selatan-AS yang kuat," kata juru bicara JCS Jang Do-young dalam sebuah pengarahan pada hari Kamis.
Korea Selatan, yang merupakan sekutu AS di Asia, telah ditekan oleh Presiden AS Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk membantu melindungi pelayaran.
Kampanye militer Amerika-Israel melawan Iran juga telah mengalihkan sumber daya militer utama dari kawasan Asia-Pasifik.
"Mungkin yang paling mengkhawatirkan tentang uji coba senjata Korea Utara baru-baru ini adalah upaya nyata untuk mengintegrasikan pelajaran dari taktik brutal Rusia terhadap Ukraina dan penggunaan kemampuan asimetris yang lebih murah oleh Iran untuk mempersulit 'perhitungan rudal' pertahanan udara di Israel dan negara-negara Teluk Arab," kata Leif-Eric Easley, seorang profesor di Universitas Ewha di Seoul.
Pada hari Rabu, militer Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara telah meluncurkan beberapa putaran rudal balistik ke perairan di lepas pantai timurnya.
Peluncuran tersebut terjadi beberapa hari setelah pernyataan Korea Utara yang menyampaikan pujian langka sang pemimpin; Kim Jong-un, kepada Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebagai tanggapan atas ungkapan penyesalan Lee terkait penerbangan drone tanpa izin yang melintasi perbatasan ke wilayah udara Korea Utara.
Interpretasi positif dari pernyataan Kim Jong-un dengan cepat disingkirkan oleh uji coba rudal dan pernyataan lanjutan dari Pyongyang yang mengatakan bahwa komentar Kim Jong-un dimaksudkan sebagai peringatan lain kepada Korea Selatan.
"Militer kami mempertahankan kemampuan dan kesiapan untuk merespons secara luar biasa terhadap provokasi apa pun oleh Korea Utara di bawah postur pertahanan gabungan Korea Selatan-AS yang kuat," kata juru bicara JCS Jang Do-young dalam sebuah pengarahan pada hari Kamis.
Korea Selatan, yang merupakan sekutu AS di Asia, telah ditekan oleh Presiden AS Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk membantu melindungi pelayaran.
Kampanye militer Amerika-Israel melawan Iran juga telah mengalihkan sumber daya militer utama dari kawasan Asia-Pasifik.
"Mungkin yang paling mengkhawatirkan tentang uji coba senjata Korea Utara baru-baru ini adalah upaya nyata untuk mengintegrasikan pelajaran dari taktik brutal Rusia terhadap Ukraina dan penggunaan kemampuan asimetris yang lebih murah oleh Iran untuk mempersulit 'perhitungan rudal' pertahanan udara di Israel dan negara-negara Teluk Arab," kata Leif-Eric Easley, seorang profesor di Universitas Ewha di Seoul.
Pada hari Rabu, militer Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara telah meluncurkan beberapa putaran rudal balistik ke perairan di lepas pantai timurnya.
Peluncuran tersebut terjadi beberapa hari setelah pernyataan Korea Utara yang menyampaikan pujian langka sang pemimpin; Kim Jong-un, kepada Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebagai tanggapan atas ungkapan penyesalan Lee terkait penerbangan drone tanpa izin yang melintasi perbatasan ke wilayah udara Korea Utara.
Interpretasi positif dari pernyataan Kim Jong-un dengan cepat disingkirkan oleh uji coba rudal dan pernyataan lanjutan dari Pyongyang yang mengatakan bahwa komentar Kim Jong-un dimaksudkan sebagai peringatan lain kepada Korea Selatan.
(mas)
Lihat Juga :