Netanyahu Gagal Tumbangkan Rezim Iran, Bencana Politik Kini Landa Israel

Kamis, 09 April 2026 - 10:58 WIB
loading...
Netanyahu Gagal Tumbangkan...
PM Israel Benjamin Netanyahu dikecam para tokoh oposisi karena gagal menumbangkan rezim Iran dalam perang 39 hari. Foto/Chaim Goldberg/Flash90
A A A
TEL AVIV - Para pemimpin oposisi Israel bereaksi dengan marah terhadap gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Mereka mengecam Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu karena gagal mencapai perubahan rezim di Teheran.

Iran dan AS sepakat untuk menghentikan pertempuran selama dua minggu pada Selasa malam setelah pembicaraan terakhir untuk mencegah kehancuran Iran yang meluas seperti yang diancam oleh Trump.

Baca Juga: Daftar Lengkap 37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun

Kantor Netanyahu mengeklaim mendukung kesepakatan tersebut meskipun ada laporan yang menunjukkan bahwa para pejabat Israel tidak dikonsultasikan pada jam-jam kritis menjelang kesepakatan itu.

Israel kemudian membalas dengan membunuh ratusan orang dalam pengeboman besar-besaran di seluruh Lebanon, yang menurut klaim mereka tidak termasuk dalam gencatan senjata.

"Tidak pernah ada bencana politik seperti ini sepanjang sejarah kita," tulis pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, di media sosial pada hari Rabu.

"Netanyahu gagal secara politik, gagal secara strategis, dan tidak memenuhi satu pun tujuan yang telah ia tetapkan sendiri… Akan butuh waktu bertahun-tahun bagi kita untuk memperbaiki kerusakan politik dan strategis yang ditimbulkan Netanyahu karena kesombongan, kelalaian, dan kurangnya perencanaan strategis," paparnya.

Netanyahu, pada awal perang, telah bersumpah untuk "menghancurkan rezim Iran" dan melumpuhkan program rudal balistik negara Islam tersebut.

Sebaliknya, gencatan senjata AS-Iran mempertahankan kepemimpinan yang lebih garis keras di Teheran dan sebagian besar kemampuan rudal dan drone-nya tetap utuh.

Iran juga terus mendikte persyaratan di Selat Hormuz, sehingga menempatkannya pada posisi strategis yang lebih kuat daripada sebelum perang.

Yair Golan, kepala partai sayap kiri, Partai Demokrat, mengecam Netanyahu, "Karena mengawasi salah satu kegagalan strategis paling parah yang pernah dialami Israel."

"Tidak satu pun tujuan yang tercapai: Program nuklir tidak dihancurkan. Ancaman balistik tetap ada. Rezim masih berkuasa dan bahkan muncul dari perang ini dengan lebih kuat," tulisnya di X.

"Ini adalah kegagalan total yang membahayakan keamanan Israel selama bertahun-tahun mendatang," lanjut dia, seperti dikutip dari The New Arab, Kamis (9/4/2026).

Tokoh garis keras Avigdor Lieberman, mantan menteri pertahanan dan anggota Parlemen Israel saat ini, mengatakan kesepakatan gencatan senjata akan memungkinkan kekuatan Iran untuk berkumpul kembali dan memaksa Israel untuk memulai kembali perang dengan kondisi yang lebih keras dan membayar harga yang lebih mahal.

Dalam beberapa jam setelah kesepakatan itu, Israel melancarkan serangan bom paling merusak di Lebanon dalam perang saat ini, meluncurkan ratusan serangan udara di Beirut dan selatan negara itu.

Serangan tersebut mengancam akan menggagalkan gencatan senjata, dengan Iran memperingatkan akan melanjutkan serangan rudal terhadap Israel jika Israel tidak menghentikan serangannya.

Israel bersikeras bahwa Lebanon bukan bagian dari kesepakatan tersebut, meskipun mediator Pakistan dan Iran mengumumkan bahwa gencatan senjata akan berlaku di seluruh wilayah.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: JPU Abaikan Sejumlah Laporan Pelapor dalam Dakwaan
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Dukung Sekolah Nyaman,...
Dukung Sekolah Nyaman, Pegadaian Praya Edukasi Siswa Siapkan Masa Depan Lewat Emas
Berita Terkini
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved