Jelang Dibom AS, Iran Minta Rakyat Jadi Perisai Rantai Manusia di Pembangkit Listrik
Selasa, 07 April 2026 - 11:27 WIB
loading...
Iran minta rakyatnya jadi perisai rantai manusia di pembangkit listrik yang diancam akan dibom Amerika Serikat. Foto/The New York Times
A
A
A
TEHERAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengancam akan mengebom pembangkit listrik dan infrastruktur lain di Iran pada Selasa waktu Amerika atau Rabu WIB jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Merespons ancaman itu, pemerintah Iran menyerukan kaum muda menjadi perisai rantai manusia di sekitar pembangkit listrik.
Seruan tersebut disampaikan Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran. Menurut kementerian tersebut, kaum muda, termasuk atlet, seniman, dan mahasiswa, dapat berkumpul di sekitar lokasi pembangkit listrik mulai pukul 14.00 waktu setempat pada hari Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Trump: Seluruh Negara Iran Dapat Dihancurkan dalam Satu Malam!
Itu sekitar 13 jam sebelum tenggat waktu Trump untuk pembukaan kembali Selat Hormuz, yang berakhir pada pukul 03.30 waktu setempat pada hari Rabu.
"Aksi ini (perisai rantai manusia) dibentuk atas saran dari kaum muda itu sendiri," kata Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran Alireza Rahimi dalam sebuah pesan video.
"Sejumlah pemuda universitas, seniman muda, dan organisasi pemuda mengusulkan agar kita membentuk lingkaran manusia atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik negara," ujarnya.
"Kami berharap dengan partisipasi kaum muda di seluruh negeri, rantai manusia ini akan terbentuk di sekitar pembangkit listrik, dan itu akan menjadi tanda komitmen kaum muda untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah," imbuh dia.
Trump telah memperluas ancaman pengebomannya terhadap Iran hingga mencakup semua pembangkit listrik dan jembatan seiring dengan semakin dekatnya ultimatumnya untuk mencapai kesepakatan. Teheran telah menolak proposal gencatan senjata 45 hari dan mengatakan bahwa mereka menginginkan pengakhiran perang secara permanen.
"Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump dan mengisyaratkan bahwa tenggat waktunya adalah final, dengan mengatakan bahwa dia telah memberi Iran cukup perpanjangan waktu, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Pemimpin AS itu telah mengeluarkan ultimatum kepada Iran sebelumnya, dan kemudian diperpanjang. Tetapi kali ini dia lebih eksplisit tentang rencana untuk menindaklanjutinya.
"Setiap jembatan di Iran akan hancur pada pukul 24.00 malam besok," katanya. "Dan semua pembangkit listrik akan terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi."
Ditanya apakah dia khawatir tentang tuduhan kejahatan perang jika ancaman itu dijalankan, Trump menjawab, "Tidak, sama sekali tidak."
Dia berpendapat bahwa warga Iran menginginkan AS melaksanakan ancaman itu karena hal itu dapat menyebabkan berakhirnya kepemimpinan mereka saat ini.
"Warga Iran bersedia menderita demi kebebasan," katanya. Namun, belum ada tanda-tanda pemberontakan di Iran karena penduduk berlindung dari pengeboman AS dan Israel.
AS telah memerintahkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang penting bagi lalu lintas pelayaran minyak global, atau melihat pembangkit listrik dan jembatan dihancurkan—yang memicu peringatan tentang kemungkinan kejahatan perang.
Sekutu Amerika, Israel, juga telah menambah tekanan pada Teheran dengan menyerang pabrik petrokimia utama dan membunuh kepala intelijen Korps Garda Revolusi Islam Brigadir Jenderal Majid Khademi.
Teheran, dengan penolakannya, menyampaikan rencana 10 poinnya sendiri untuk mengakhiri pertempuran melalui mediator utama Pakistan, menurut laporan IRNA.
"Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi," kata Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, kepada Associated Press.
Dia mengatakan Iran tidak lagi mempercayai pemerintahan Trump setelah AS mengebom Republik Islam dua kali selama putaran pembicaraan sebelumnya.
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam pembicaraan mengatakan upaya tersebut belum gagal. "Kami masih berbicara dengan kedua belah pihak," katanya, berbicara dengan syarat anonim untuk membahas diplomasi tertutup.
Seruan tersebut disampaikan Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran. Menurut kementerian tersebut, kaum muda, termasuk atlet, seniman, dan mahasiswa, dapat berkumpul di sekitar lokasi pembangkit listrik mulai pukul 14.00 waktu setempat pada hari Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Trump: Seluruh Negara Iran Dapat Dihancurkan dalam Satu Malam!
Itu sekitar 13 jam sebelum tenggat waktu Trump untuk pembukaan kembali Selat Hormuz, yang berakhir pada pukul 03.30 waktu setempat pada hari Rabu.
"Aksi ini (perisai rantai manusia) dibentuk atas saran dari kaum muda itu sendiri," kata Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran Alireza Rahimi dalam sebuah pesan video.
"Sejumlah pemuda universitas, seniman muda, dan organisasi pemuda mengusulkan agar kita membentuk lingkaran manusia atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik negara," ujarnya.
"Kami berharap dengan partisipasi kaum muda di seluruh negeri, rantai manusia ini akan terbentuk di sekitar pembangkit listrik, dan itu akan menjadi tanda komitmen kaum muda untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah," imbuh dia.
Ancaman Pengeboman oleh Trump
Trump telah memperluas ancaman pengebomannya terhadap Iran hingga mencakup semua pembangkit listrik dan jembatan seiring dengan semakin dekatnya ultimatumnya untuk mencapai kesepakatan. Teheran telah menolak proposal gencatan senjata 45 hari dan mengatakan bahwa mereka menginginkan pengakhiran perang secara permanen.
"Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump dan mengisyaratkan bahwa tenggat waktunya adalah final, dengan mengatakan bahwa dia telah memberi Iran cukup perpanjangan waktu, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Pemimpin AS itu telah mengeluarkan ultimatum kepada Iran sebelumnya, dan kemudian diperpanjang. Tetapi kali ini dia lebih eksplisit tentang rencana untuk menindaklanjutinya.
"Setiap jembatan di Iran akan hancur pada pukul 24.00 malam besok," katanya. "Dan semua pembangkit listrik akan terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi."
Ditanya apakah dia khawatir tentang tuduhan kejahatan perang jika ancaman itu dijalankan, Trump menjawab, "Tidak, sama sekali tidak."
Dia berpendapat bahwa warga Iran menginginkan AS melaksanakan ancaman itu karena hal itu dapat menyebabkan berakhirnya kepemimpinan mereka saat ini.
"Warga Iran bersedia menderita demi kebebasan," katanya. Namun, belum ada tanda-tanda pemberontakan di Iran karena penduduk berlindung dari pengeboman AS dan Israel.
AS telah memerintahkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang penting bagi lalu lintas pelayaran minyak global, atau melihat pembangkit listrik dan jembatan dihancurkan—yang memicu peringatan tentang kemungkinan kejahatan perang.
Sekutu Amerika, Israel, juga telah menambah tekanan pada Teheran dengan menyerang pabrik petrokimia utama dan membunuh kepala intelijen Korps Garda Revolusi Islam Brigadir Jenderal Majid Khademi.
Usulan Versi Iran
Teheran, dengan penolakannya, menyampaikan rencana 10 poinnya sendiri untuk mengakhiri pertempuran melalui mediator utama Pakistan, menurut laporan IRNA.
"Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi," kata Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, kepada Associated Press.
Dia mengatakan Iran tidak lagi mempercayai pemerintahan Trump setelah AS mengebom Republik Islam dua kali selama putaran pembicaraan sebelumnya.
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam pembicaraan mengatakan upaya tersebut belum gagal. "Kami masih berbicara dengan kedua belah pihak," katanya, berbicara dengan syarat anonim untuk membahas diplomasi tertutup.
(mas)
Lihat Juga :