Senator AS Kecam Trump karena Habiskan Rp33,9 Triliun Per Hari untuk Buka Selat Hormuz: 'Ini Gila!'
Sabtu, 28 Maret 2026 - 08:02 WIB
loading...
Presiden Donald Trump dikecam keras karena AS habiskan lebih dari Rp33,9 triliun per hari untuk perang melawan Iran dan upaya untuk membuka Selat Hormuz. Foto/White House
A
A
A
WASHINGTON - Senator Amerika Serikat (AS) Chris Murphy mengecam keras Presiden Donald Trump karena menghabiskan USD2 miliar (lebih dari Rp33,9 triliun) per hari dalam perang melawan Iran dan upaya untuk membuka Selat Hormuz. Murphy menyebutnya sebagai krisis yang mahal dan disebabkan Amerika sendiri.
Berbicara tentang dampak ekonomi dan korban jiwa dari perang tersebut, Murphy mengatakan Amerika Serikat sekarang menghabiskan banyak uang untuk mengatasi masalah yang tidak ada sebelum perang dimulai.
"Inilah masalahnya. Selat itu terbuka sebelum perang dimulai, sekarang kita berusaha untuk menyelesaikan masalah yang kita ciptakan sendiri. Ini gila!" kesalnya, seperti dikutip Money Control, Sabtu (28/3/2026).
Baca Juga: AS Tembakkan 850 Rudal Tomahawk dalam 4 Minggu Perang Melawan Iran, Amerika Terancam Krisis Misil
Dia juga menyoroti besarnya pengeluaran yang terlibat. "Dua miliar dolar adalah jumlah uang yang sangat besar. Itu adalah jumlah minimum uang yang dihabiskan setiap hari untuk perang ini," lanjut dia.
Kecamannya muncul ketika Iran telah berupaya memperketat cengkeramannya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran global yang penting.
Menurut laporan Iran International yang mengutip anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi, Teheran telah mulai mengenakan biaya transit sebesar USD2 juta kepada beberapa kapal untuk melewati selat tersebut.
Boroujerdi, anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, mengatakan kepada stasiun penyiaran negara Republik Islam Iran bahwa langkah tersebut mencerminkan penegasan kendali baru.
"Mengumpulkan USD2 juta sebagai biaya transit dari beberapa kapal yang melintasi selat mencerminkan kekuatan Iran," katanya. "Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja kita harus melakukan ini dan mengambil biaya transit dari kapal yang melewati Selat Hormuz," imbuh dia.
Perkembangan ini terjadi di tengah eskalasi militer yang berkelanjutan. Israel telah melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran dan memperingatkan bahwa operasinya akan semakin intensif. Pada saat yang sama, Presiden Trump telah mengindikasikan bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik sedang berlangsung, meskipun Iran membantah bahwa ada pembicaraan.
Trump juga telah memperpanjang tenggat waktunya sendiri bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga 6 April, setelah sebelumnya memperingatkan akan melakukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika akses selat itu tidak dipulihkan.
Tekanan pada Washington telah meningkat karena pasar global bereaksi terhadap gangguan pasokan minyak, dengan Selat Hormuz membawa hampir seperlima minyak dunia.
Namun, Iran tetap teguh pada pendiriannya. Mereka menolak proposal AS dan malah mengajukan serangkaian syaratnya sendiri, termasuk tuntutan ganti rugi dan pengakuan internasional soal kedaulatannya atas selat tersebut.
Seiring berlanjutnya kebuntuan, konflik ini semakin didefinisikan bukan hanya oleh aksi militer tetapi juga oleh kendali atas jalur ekonomi penting, dengan meningkatnya biaya dan dampak global yang menambah urgensi seruan untuk penyelesaian.
Berbicara tentang dampak ekonomi dan korban jiwa dari perang tersebut, Murphy mengatakan Amerika Serikat sekarang menghabiskan banyak uang untuk mengatasi masalah yang tidak ada sebelum perang dimulai.
"Inilah masalahnya. Selat itu terbuka sebelum perang dimulai, sekarang kita berusaha untuk menyelesaikan masalah yang kita ciptakan sendiri. Ini gila!" kesalnya, seperti dikutip Money Control, Sabtu (28/3/2026).
Baca Juga: AS Tembakkan 850 Rudal Tomahawk dalam 4 Minggu Perang Melawan Iran, Amerika Terancam Krisis Misil
Dia juga menyoroti besarnya pengeluaran yang terlibat. "Dua miliar dolar adalah jumlah uang yang sangat besar. Itu adalah jumlah minimum uang yang dihabiskan setiap hari untuk perang ini," lanjut dia.
Kecamannya muncul ketika Iran telah berupaya memperketat cengkeramannya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran global yang penting.
Menurut laporan Iran International yang mengutip anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi, Teheran telah mulai mengenakan biaya transit sebesar USD2 juta kepada beberapa kapal untuk melewati selat tersebut.
Boroujerdi, anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, mengatakan kepada stasiun penyiaran negara Republik Islam Iran bahwa langkah tersebut mencerminkan penegasan kendali baru.
"Mengumpulkan USD2 juta sebagai biaya transit dari beberapa kapal yang melintasi selat mencerminkan kekuatan Iran," katanya. "Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja kita harus melakukan ini dan mengambil biaya transit dari kapal yang melewati Selat Hormuz," imbuh dia.
Perkembangan ini terjadi di tengah eskalasi militer yang berkelanjutan. Israel telah melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran dan memperingatkan bahwa operasinya akan semakin intensif. Pada saat yang sama, Presiden Trump telah mengindikasikan bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik sedang berlangsung, meskipun Iran membantah bahwa ada pembicaraan.
Trump juga telah memperpanjang tenggat waktunya sendiri bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga 6 April, setelah sebelumnya memperingatkan akan melakukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika akses selat itu tidak dipulihkan.
Tekanan pada Washington telah meningkat karena pasar global bereaksi terhadap gangguan pasokan minyak, dengan Selat Hormuz membawa hampir seperlima minyak dunia.
Namun, Iran tetap teguh pada pendiriannya. Mereka menolak proposal AS dan malah mengajukan serangkaian syaratnya sendiri, termasuk tuntutan ganti rugi dan pengakuan internasional soal kedaulatannya atas selat tersebut.
Seiring berlanjutnya kebuntuan, konflik ini semakin didefinisikan bukan hanya oleh aksi militer tetapi juga oleh kendali atas jalur ekonomi penting, dengan meningkatnya biaya dan dampak global yang menambah urgensi seruan untuk penyelesaian.
(mas)
Lihat Juga :