Iran Sekarang Ancam Blokir Selat Bab al-Mandeb, Ekonomi Dunia Bisa Makin Terguncang
Kamis, 26 Maret 2026 - 15:12 WIB
loading...
Iran sekarang ancam blokir Selat Bab al-Mandeb, yang bisa membuat ekonomi dunia semakin terguncang. Foto/NDTV
A
A
A
TEHERAN - Iran mengancam akan membuka front baru dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Teheran mengancam akan memblokir jalur perdagangan Selat Bab al-Mandeb yang sangat penting jika AS menyerang Pulau Kharg.
Setelah secara efektif menutup sebagian Selat Hormuz dan mencekik 20% pengiriman pasokan minyak dunia, Teheran memperingatkan bahwa Selat Bab al-Mandeb—jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden—bisa menjadi target selanjutnya jika terjadi invasi darat oleh AS.
Baca Juga: Iran Ungkap 6 Negara Sahabat Bebas Lewat Selat Hormuz, Indonesia Tak Disebut
“Jika musuh ingin melakukan aksi di darat di pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami atau untuk menimbulkan kerugian bagi Iran dengan pergerakan Angkatan Laut di Teluk Persia dan Laut Oman, kami akan membuka front lain untuk mereka sebagai kejutan sehingga tindakan mereka tidak hanya tidak menguntungkan mereka tetapi juga akan melipatgandakan kerugian mereka," kata sumber dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kepada Tasnim News Agency, Kamis (26/3/2026).
Jika Iran merebut Selat Bab al-Mandeb, itu akan mengancam jalur perdagangan Laut Merah yang penting—yang dilalui barang senilai USD1 triliun setiap tahunnya.
“Selat Bab al-Mandab dianggap sebagai salah satu selat strategis dunia, dan Iran memiliki kemauan dan kemampuan untuk menciptakan ancaman yang sepenuhnya kredibel terhadapnya,” ujar sumber tersebut.
“Oleh karena itu, jika Amerika ingin memikirkan solusi untuk Selat Hormuz dengan tindakan bodoh, mereka harus berhati-hati agar tidak menambah selat lain ke dalam masalah dan kesulitan mereka.”
Selat Bab al-Mandeb terletak di barat daya Yaman, tempat kelompok Houthi yang didukung Iran bermarkas.
Kelompok Houthi telah memperingatkan bahwa mereka akan membantu merebut selat selebar 20 mil tersebut jika rezim Iran membutuhkan bantuan selama perangnya melawan AS dan Israel.
Kelompok proksi Iran itu sebelumnya telah menunjukkan kemampuannya dalam mengancam jalur tersebut selama perang Gaza, di mana mereka melancarkan serangan selama lebih dari dua tahun terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel yang melewati Selat Bab al-Mandeb.
Serangan di sepanjang selat itu akan semakin membahayakan kapal-kapal pengiriman barang dan minyak yang berasal dari Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, yang telah mengalihkan pengiriman minyaknya melalui Laut Merah setelah penutupan Selat Hormuz.
Ancaman Iran muncul ketika AS bersiap untuk mengirim 3.000 pasukan darat dari Divisi Infanteri ke-82 Angkatan Darat ke Timur Tengah, seperti yang pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Pasukan tersebut akan bergabung dengan sekitar 2.500 personel Korps Marinir yang ditempatkan di tiga kapal perang ke wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat pasukan di dekat Iran dan membuka kembali koridor Selat Hormuz yang sangat penting.
Meskipun Presiden Donald Trump belum mengesampingkan kemungkinan menempatkan pasukan AS di wilayah tersebut—baik di Iran maupun di Pulau Kharg yang strategis—dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki rencana segera untuk melakukannya.
Pulau Kharg, yang terletak sekitar 16 mil dari pantai Iran, berukuran sepertiga dari Manhattan dan mengendalikan 90% ekspor minyak mentah Iran.
Menguasai pulau itu akan mengancam sumber pendapatan utama Iran, mengingat Teheran sudah menderita inflasi yang melonjak dan nilai mata uang rialnya yang terus menurun sebelum perang dimulai.
Setelah secara efektif menutup sebagian Selat Hormuz dan mencekik 20% pengiriman pasokan minyak dunia, Teheran memperingatkan bahwa Selat Bab al-Mandeb—jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden—bisa menjadi target selanjutnya jika terjadi invasi darat oleh AS.
Baca Juga: Iran Ungkap 6 Negara Sahabat Bebas Lewat Selat Hormuz, Indonesia Tak Disebut
“Jika musuh ingin melakukan aksi di darat di pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami atau untuk menimbulkan kerugian bagi Iran dengan pergerakan Angkatan Laut di Teluk Persia dan Laut Oman, kami akan membuka front lain untuk mereka sebagai kejutan sehingga tindakan mereka tidak hanya tidak menguntungkan mereka tetapi juga akan melipatgandakan kerugian mereka," kata sumber dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kepada Tasnim News Agency, Kamis (26/3/2026).
Jika Iran merebut Selat Bab al-Mandeb, itu akan mengancam jalur perdagangan Laut Merah yang penting—yang dilalui barang senilai USD1 triliun setiap tahunnya.
“Selat Bab al-Mandab dianggap sebagai salah satu selat strategis dunia, dan Iran memiliki kemauan dan kemampuan untuk menciptakan ancaman yang sepenuhnya kredibel terhadapnya,” ujar sumber tersebut.
“Oleh karena itu, jika Amerika ingin memikirkan solusi untuk Selat Hormuz dengan tindakan bodoh, mereka harus berhati-hati agar tidak menambah selat lain ke dalam masalah dan kesulitan mereka.”
Selat Bab al-Mandeb terletak di barat daya Yaman, tempat kelompok Houthi yang didukung Iran bermarkas.
Kelompok Houthi telah memperingatkan bahwa mereka akan membantu merebut selat selebar 20 mil tersebut jika rezim Iran membutuhkan bantuan selama perangnya melawan AS dan Israel.
Kelompok proksi Iran itu sebelumnya telah menunjukkan kemampuannya dalam mengancam jalur tersebut selama perang Gaza, di mana mereka melancarkan serangan selama lebih dari dua tahun terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel yang melewati Selat Bab al-Mandeb.
Serangan di sepanjang selat itu akan semakin membahayakan kapal-kapal pengiriman barang dan minyak yang berasal dari Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, yang telah mengalihkan pengiriman minyaknya melalui Laut Merah setelah penutupan Selat Hormuz.
Ancaman Iran muncul ketika AS bersiap untuk mengirim 3.000 pasukan darat dari Divisi Infanteri ke-82 Angkatan Darat ke Timur Tengah, seperti yang pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Pasukan tersebut akan bergabung dengan sekitar 2.500 personel Korps Marinir yang ditempatkan di tiga kapal perang ke wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat pasukan di dekat Iran dan membuka kembali koridor Selat Hormuz yang sangat penting.
Meskipun Presiden Donald Trump belum mengesampingkan kemungkinan menempatkan pasukan AS di wilayah tersebut—baik di Iran maupun di Pulau Kharg yang strategis—dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki rencana segera untuk melakukannya.
Pulau Kharg, yang terletak sekitar 16 mil dari pantai Iran, berukuran sepertiga dari Manhattan dan mengendalikan 90% ekspor minyak mentah Iran.
Menguasai pulau itu akan mengancam sumber pendapatan utama Iran, mengingat Teheran sudah menderita inflasi yang melonjak dan nilai mata uang rialnya yang terus menurun sebelum perang dimulai.
(mas)
Lihat Juga :