Gara-gara Puisi, Editor Bahasa Kazakh Divonis 6,5 Tahun Penjara di Xinjiang
Rabu, 11 Maret 2026 - 11:37 WIB
loading...
Adil Semeykhanuly, editor bahasa Kazakh dilaporkan dijatuhi hukuman 6,5 tahun penjara di Xinjiang, China. Dia dituduh memberikan interpretasi negatif terhadap puisi Abai Kunanbaev. Foto/Bitter Winter
A
A
A
JAKARTA - Seorang editor bahasa Kazakh sekaligus peneliti budaya, Adil Semeykhanuly, dilaporkan dijatuhi hukuman 6,5 tahun penjara di wilayah Xinjiang, China, setelah lebih dari satu tahun mengalami penahanan dan tahanan rumah. Informasi ini dilaporkan sejumlah media berbahasa Kazakh serta rekan-rekan yang mengetahui kasus tersebut.
Dikutip dari Bitter Winter, Rabu (11/3/2026), para kolega dekatnya mengatakan bahwa Semeykhanuly dijatuhi hukuman 6,5 tahun penjara atas tuduhan memberikan “interpretasi negatif” terhadap puisi karya penyair Kazakh terkenal Abai Kunanbaev (1845–1904).
Baca Juga: China Diduga Tekan Universitas Inggris agar Hentikan Riset soal Xinjiang
Semeykhanuly dikenal sebagai editor lama di surat kabar “Шынжаң (Shynzhan)" serta seorang peneliti yang diakui dalam kajian pemikiran Abai.
Dia pertama kali ditahan pada Januari 2024. Sumber keluarga menyebutkan dia menjalani penahanan selama sekitar tujuh hingga delapan bulan sebelum akhirnya dipindahkan ke tahanan rumah karena kurangnya bukti.
Namun pada 20 Agustus 2025, Semeykhanuly dilaporkan dijatuhi hukuman penjara setelah didakwa “menyebarkan interpretasi negatif terhadap ajaran Abai” serta “membentuk opini publik yang terpisah.” Para pengamat menilai tuduhan tersebut bersifat luas dan tidak jelas secara politik.
Media Kazakh juga melaporkan bahwa empat intelektual Kazakh lain yang bekerja dalam lingkungan media yang sama turut ditangkap dan dijatuhi hukuman.
Mereka adalah:
•Tegis Zäybekuly, Wakil Editor Departemen Editorial Kazakh, ditangkap pada Oktober 2024. Lama hukumannya belum diketahui.
•Murat Ybyraiuly, penerjemah sekaligus reporter, ditangkap pada Agustus 2023 dan dijatuhi hukuman 5,5 tahun penjara.
•Oñalğan Múlikuly, penerjemah–reporter, ditangkap pada Januari 2023 dan divonis tujuh tahun penjara pada 2024.
•Janibek Jaudatuly, penerjemah, ditangkap pada Januari 2023 dan dijatuhi hukuman 7,5 tahun penjara pada 2024.
Sejumlah kolega menyebut rangkaian penangkapan tersebut sebagai bagian dari meningkatnya pengetatan terhadap penerbitan bahasa Kazakh, kegiatan penerjemahan, serta ekspresi budaya di Xinjiang.
Semeykhanuly sebelumnya diketahui pernah menjadi bagian dari delegasi China yang berkunjung ke Kazakhstan pada 2005 untuk memperingati 160 tahun kelahiran Abai di kota Semey.
Sumber menyebut kegiatan tersebut termasuk salah satu peristiwa yang kemudian diperiksa oleh otoritas China dalam proses penyelidikan terhadap dirinya.
Di kalangan jurnalis dan akademisi Kazakh, Semeykhanuly dikenal sebagai mentor bagi banyak jurnalis muda serta penulis produktif esai-esai budaya.
Penelusuran terhadap basis data pengadilan publik China, buletin pemerintah, dan pemberitahuan hukum tidak menemukan catatan resmi yang mengonfirmasi penangkapan maupun hukuman terhadap Semeykhanuly dan empat intelektual lainnya.
Ketiadaan dokumentasi publik seperti ini disebut sering terjadi dalam kasus-kasus sensitif secara politik di Xinjiang, di mana proses hukum dinilai tidak transparan.
Meski demikian, sejumlah sumber media Kazakh menyatakan telah mengonfirmasi informasi tersebut.
Kasus ini juga dinilai kontras dengan hubungan budaya antara China dan Kazakhstan. China diketahui memiliki monumen Abai di Beijing, dan media pemerintah China kerap menyebut penyair tersebut sebagai “jembatan persahabatan” antara kedua negara.
Di sisi lain, Kazakhstan menjadi tuan rumah sedikitnya lima Institut Konfusius yang didirikan melalui kerja sama dengan universitas-universitas China.
Simbol-simbol saling penghormatan budaya tersebut dinilai bertolak belakang dengan laporan pemenjaraan seorang peneliti Abai atas dugaan interpretasi negatif terhadap ajaran sang penyair.
Organisasi hak asasi manusia (HAM) sebelumnya melaporkan adanya tekanan sistematis terhadap intelektual Uyghur, Kazakh, dan kelompok Turkik lainnya di Xinjiang.
Sejumlah kasus disebut melibatkan tuduhan terkait ideologi, aktivitas budaya, atau dugaan separatisme.
Keluarga para tahanan juga sering melaporkan keterbatasan akses terhadap informasi serta kekhawatiran akan konsekuensi jika berbicara secara terbuka.
Hingga artikel ini diterbitkan, otoritas China belum memberikan pengakuan resmi terkait laporan penangkapan maupun vonis tersebut. Permintaan komentar juga telah dikirimkan kepada otoritas Xinjiang dan Kedutaan Besar China di Kazakhstan.
Dikutip dari Bitter Winter, Rabu (11/3/2026), para kolega dekatnya mengatakan bahwa Semeykhanuly dijatuhi hukuman 6,5 tahun penjara atas tuduhan memberikan “interpretasi negatif” terhadap puisi karya penyair Kazakh terkenal Abai Kunanbaev (1845–1904).
Baca Juga: China Diduga Tekan Universitas Inggris agar Hentikan Riset soal Xinjiang
Semeykhanuly dikenal sebagai editor lama di surat kabar “Шынжаң (Shynzhan)" serta seorang peneliti yang diakui dalam kajian pemikiran Abai.
Dia pertama kali ditahan pada Januari 2024. Sumber keluarga menyebutkan dia menjalani penahanan selama sekitar tujuh hingga delapan bulan sebelum akhirnya dipindahkan ke tahanan rumah karena kurangnya bukti.
Namun pada 20 Agustus 2025, Semeykhanuly dilaporkan dijatuhi hukuman penjara setelah didakwa “menyebarkan interpretasi negatif terhadap ajaran Abai” serta “membentuk opini publik yang terpisah.” Para pengamat menilai tuduhan tersebut bersifat luas dan tidak jelas secara politik.
Penangkapan Intelektual Kazakh Lainnya
Media Kazakh juga melaporkan bahwa empat intelektual Kazakh lain yang bekerja dalam lingkungan media yang sama turut ditangkap dan dijatuhi hukuman.
Mereka adalah:
•Tegis Zäybekuly, Wakil Editor Departemen Editorial Kazakh, ditangkap pada Oktober 2024. Lama hukumannya belum diketahui.
•Murat Ybyraiuly, penerjemah sekaligus reporter, ditangkap pada Agustus 2023 dan dijatuhi hukuman 5,5 tahun penjara.
•Oñalğan Múlikuly, penerjemah–reporter, ditangkap pada Januari 2023 dan divonis tujuh tahun penjara pada 2024.
•Janibek Jaudatuly, penerjemah, ditangkap pada Januari 2023 dan dijatuhi hukuman 7,5 tahun penjara pada 2024.
Sejumlah kolega menyebut rangkaian penangkapan tersebut sebagai bagian dari meningkatnya pengetatan terhadap penerbitan bahasa Kazakh, kegiatan penerjemahan, serta ekspresi budaya di Xinjiang.
Hubungan Budaya China dan Kazakhstan
Semeykhanuly sebelumnya diketahui pernah menjadi bagian dari delegasi China yang berkunjung ke Kazakhstan pada 2005 untuk memperingati 160 tahun kelahiran Abai di kota Semey.
Sumber menyebut kegiatan tersebut termasuk salah satu peristiwa yang kemudian diperiksa oleh otoritas China dalam proses penyelidikan terhadap dirinya.
Di kalangan jurnalis dan akademisi Kazakh, Semeykhanuly dikenal sebagai mentor bagi banyak jurnalis muda serta penulis produktif esai-esai budaya.
Penelusuran terhadap basis data pengadilan publik China, buletin pemerintah, dan pemberitahuan hukum tidak menemukan catatan resmi yang mengonfirmasi penangkapan maupun hukuman terhadap Semeykhanuly dan empat intelektual lainnya.
Ketiadaan dokumentasi publik seperti ini disebut sering terjadi dalam kasus-kasus sensitif secara politik di Xinjiang, di mana proses hukum dinilai tidak transparan.
Meski demikian, sejumlah sumber media Kazakh menyatakan telah mengonfirmasi informasi tersebut.
Kasus ini juga dinilai kontras dengan hubungan budaya antara China dan Kazakhstan. China diketahui memiliki monumen Abai di Beijing, dan media pemerintah China kerap menyebut penyair tersebut sebagai “jembatan persahabatan” antara kedua negara.
Di sisi lain, Kazakhstan menjadi tuan rumah sedikitnya lima Institut Konfusius yang didirikan melalui kerja sama dengan universitas-universitas China.
Simbol-simbol saling penghormatan budaya tersebut dinilai bertolak belakang dengan laporan pemenjaraan seorang peneliti Abai atas dugaan interpretasi negatif terhadap ajaran sang penyair.
Sorotan Organisasi HAM
Organisasi hak asasi manusia (HAM) sebelumnya melaporkan adanya tekanan sistematis terhadap intelektual Uyghur, Kazakh, dan kelompok Turkik lainnya di Xinjiang.
Sejumlah kasus disebut melibatkan tuduhan terkait ideologi, aktivitas budaya, atau dugaan separatisme.
Keluarga para tahanan juga sering melaporkan keterbatasan akses terhadap informasi serta kekhawatiran akan konsekuensi jika berbicara secara terbuka.
Hingga artikel ini diterbitkan, otoritas China belum memberikan pengakuan resmi terkait laporan penangkapan maupun vonis tersebut. Permintaan komentar juga telah dikirimkan kepada otoritas Xinjiang dan Kedutaan Besar China di Kazakhstan.
(mas)
Lihat Juga :