Trump: Negara-negara Arab Ingin Gabung Perang AS-Israel Melawan Iran

Selasa, 03 Maret 2026 - 06:42 WIB
loading...
Trump: Negara-negara...
Orang-orang berlarian setelah serangan rudal menargetkan wilayah Qatar. Presiden AS Donald Trump sebut negara-negara Arab ingin gabung perang AS-Israel melawan Iran. Foto/NDTV
A A A
RIYADH - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negara-negara Arab yang awalnya enggan bergabung dalam aksi militer Amerika dan Israel melawan Iran kini ingin untuk mengambil peran aktif. Menurutnya, dan itu terjadi setelah mereka jadi target serangan Teheran.

Trump mengatakan kepada CNN pada hari Senin bahwa beberapa negara Arab yang diserang Iran kini mengubah posisi mereka.

Baca Juga: Perang Dahsyat, Total 6 Tentara AS Tewas Dirudal Iran

"Kami terkejut. Kami mengatakan kepada mereka, 'Kami akan mengatasinya', dan sekarang mereka ingin berperang. Dan mereka berperang secara agresif. Mereka awalnya akan sangat sedikit terlibat, dan sekarang mereka bersikeras untuk terlibat," kata Trump.

Serangan gabungan Amerika dan Israel terhadap Iran selama akhir pekan memicu respons luas dari Teheran. Iran meluncurkan rudal dan drone bersenjata ke arah Tel Aviv dan ke arah instalasi militer AS di seluruh Timur Tengah.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama serangan AS-Israel.

Pada hari-hari berikutnya, Iran mengarahkan serangan ke Bahrain, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Trump menggambarkan keputusan Iran untuk menyerang negara-negara tersebut sebagai kejutan terbesar dalam kampanye militer sejauh ini.

"Mereka (Iran) menembak ke sebuah hotel, mereka menembak ke sebuah gedung apartemen. Itu hanya membuat mereka marah. Mereka (negara-negara Arab) mencintai kita, tetapi mereka mengamati. Tidak ada alasan bagi mereka untuk terlibat," katanya.

"Kita menghancurkan mereka [Iran], tetapi gelombang besar masih akan datang," katanya. "Saya pikir semuanya berjalan dengan sangat baik. Ini sangat kuat. Kita memiliki militer terhebat di dunia, dan kita menggunakannya."

Berbicara di Gedung Putih dalam komentar publik pertamanya sejak perang melawan Iran dimulai, dia mengatakan bahwa Amerika Serikat sudah "jauh lebih maju" dari jadwal awalnya, dengan mengatakan proyeksi awal menempatkan kampanye militer tersebut pada empat hingga lima minggu. Dia mengatakan AS memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama jika diperlukan.

Amerika Serikat bergabung dengan enam negara Arab pada hari Senin dalam mengeluarkan pernyataan bersama yang berisi kecaman keras terhadap serangan rudal dan drone Iran di seluruh wilayah Timur Tengah sebagai tindakan sembrono dan tidak dapat dibenarkan.

Pernyataan tersebut, yang ditandatangani oleh AS, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, menggambarkan serangan Iran sebagai serangan "tanpa pandang bulu" terhadap negara-negara berdaulat yang membahayakan nyawa warga sipil.

"Serangan yang tidak dapat dibenarkan ini menargetkan wilayah kedaulatan, membahayakan penduduk sipil, dan merusak infrastruktur sipil," bunyi pernyataan tersebut.

Ketujuh negara tersebut menggambarkan perilaku Iran sebagai eskalasi berbahaya yang melanggar kedaulatan negara-negara Arab. "Memantik beberapa negara dan mengancam stabilitas regional," kata mereka, menambahkan bahwa menargetkan warga sipil dan negara-negara yang tidak terlibat dalam permusuhan adalah "perilaku sembrono dan destabilisasi."

Pernyataan itu menambahkan, "Kami bersatu dalam membela warga negara, kedaulatan, dan wilayah kami."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Pakar Militer Ini Ungkap...
Pakar Militer Ini Ungkap AS dan Iran Masih Berusaha Raih Klaim Kemenangan
Iran Tersingkir dari...
Iran Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Gagal Lolos Akibat Gol di Detik Terakhir
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
AS Rilis Paspor Edisi...
AS Rilis Paspor Edisi Terbatas Bergambar Trump, Begini Wujudnya
Rekomendasi
JAECOO Catat 20.000...
JAECOO Catat 20.000 Pengiriman J5 EV di Indonesia, Ini Target Selanjutnya
Argentina Tundukkan...
Argentina Tundukkan Yordania 3-1, Messi Langsung Cetak Gol usai Masuk sebagai Pemain Pengganti
Kemenag Cabut Izin Pesantren...
Kemenag Cabut Izin Pesantren Ibadurrahman Buntut Kasus Kekerasan Seksual
Berita Terkini
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved