Mengapa Negara-negara Arab Ketakutan Jika Perang AS-Iran Pecah? Ini Analisisnya

Kamis, 26 Februari 2026 - 07:13 WIB
loading...
Mengapa Negara-negara...
Negara-negara Arab ketakutan jika perang AS dan Iran benar-benar pecah. Mereka yang jadi tuan rumah pangkalan AS cemas karena bisa jadi target serangan balasan Iran. Foto/Voice of Emirates
A A A
TEHERAN - Ketika serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran tampaknya semakin tak terhindarkan, negara-negara Arab sekutu Amerika dilanda kecemasan. Negara-negara Teluk yang yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Washington itu takut akan eskalasi dan terus melobi Amerika untuk menghentikan rencana menyerang Teheran.

Skala mobilisasi AS memang mencengangkan. Seperti yang dilaporkan oleh Kelley Vlahos, pemimpin redaksi Responsible Statecraft, Kamis (26/2/2026), setidaknya 108 pesawat tanker udara berada di atau menuju ke wilayah Komando Pusat (CENTCOM) di Timur Tengah dan sekitarnya.

Baca Juga: Intelijen Israel Klaim AS Serang Iran dalam 5 Hari Kedepan

Seperti yang diperkirakan oleh para perwira militer Washington, serangan terhadap Iran sekarang dapat terjadi kapan saja. Persiapan ini menunjukkan tidak hanya bahwa operasi mungkin akan segera terjadi, tetapi juga bahwa operasi tersebut dapat lebih berkelanjutan dan tahan lama daripada serangan tunggal terhadap tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu.

Terdapat peningkatan rasa pesimisme di kalangan pengamat regional: mengingat skala peningkatan kekuatan militer, tidak ada cara yang dapat menyelamatkan muka bagi Presiden Donald Trump untuk membatalkan serangan dan menyelamatkan dirinya dari situasi yang telah dia ciptakan sendiri tanpa perlu.

Namun, sementara para perencana militer AS melihat daftar target, Irak dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) hanya melihat risiko.

“Mereka mungkin ingin melihat kepemimpinan Iran melemah, tetapi mereka semua lebih khawatir tentang skenario kekacauan dan ketidakpastian serta kemungkinan elemen-elemen yang lebih radikal berkuasa di sana,” kata Anna Jacobs Khalaf, seorang analis Teluk dan peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute, kepada Al Jazeera.

Sejak Januari, Arab Saudi, Qatar, dan Oman, bersama dengan Turki dan Mesir, telah terlibat dalam diplomasi intensif untuk menarik Washington dan Teheran kembali dari ambang perang yang menghancurkan. Ini bukan karena mereka bersimpati kepada Teheran, tetapi karena mereka menyadari bahwa mereka akan berada di garis depan pembalasan Iran, dan apa yang terjadi setelahnya jika rezim tersebut runtuh.

Seperti yang dicatat oleh analis regional Galip Dalay, selain destabilisasi ekonomi dan keamanan yang mungkin terjadi, ada fakta bahwa sebagai kekuatan hegemonik yang sedang bangkit di kawasan itu, Israel sangat diuntungkan dari runtuhnya rezim tersebut.

“Kekuatan dan ambisi Iran di seluruh kawasan telah berkurang, dan prospek tatanan yang berpusat pada Iran telah surut,” tulisnya untuk Chatham House minggu ini.

“Bagi para pemimpin Timur Tengah, ancaman telah berubah: risiko terbesar sekarang adalah Israel yang ekspansionis dan agresif, dan kekacauan akibat potensi runtuhnya negara Iran.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Israel Berusaha Pengaruhi...
Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan AS, Wapres JD Vance Minta Pejabat Waspada
Rekomendasi
Ketua PMI DKI Jakarta:...
Ketua PMI DKI Jakarta: Relawan Muda Garda Terdepan yang Siap Go Internasional
Inggris vs Ghana 0-0,...
Inggris vs Ghana 0-0, Laga Hambar di Boston
Ferdinand: Pernyataan...
Ferdinand: Pernyataan Tiyo Soal Teror Alat Penyadap Masuk Kategori Penyebaran Hoaks
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved