Dari Kudeta hingga Ultimatum 2026: Jejak Panjang Konflik Iran vs Amerika Serikat yang Tak Pernah Padam
Jum'at, 20 Februari 2026 - 15:21 WIB
loading...
A
A
A
Tragedi besar terjadi pada 1988 ketika kapal perang AS USS Vincennes menembak jatuh pesawat sipil Iran Air Penerbangan 655. Sebanyak 290 orang tewas. Washington menyebutnya sebagai kesalahan identifikasi, namun bagi Iran, peristiwa itu memperdalam luka dan permusuhan.
Memasuki abad ke-21, ketegangan memasuki babak baru. Pada 2002, Presiden AS saat itu, George W. Bush, memasukkan Iran dalam daftar “Axis of Evil”.
Sejak saat itu, Iran diposisikan sebagai ancaman utama keamanan Amerika, terutama terkait dugaan pengembangan senjata nuklir. Sanksi ekonomi diperketat. Tekanan internasional meningkat.
Program nuklir Iran menjadi sumber kecurigaan global. Teheran bersikeras program tersebut untuk tujuan damai, sementara Washington dan sekutunya menuduh sebaliknya.
Setelah negosiasi panjang, titik terang muncul pada 2015 melalui kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Perjanjian ini membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Banyak pihak melihatnya sebagai peluang rekonsiliasi terbesar dalam beberapa dekade.
Namun pada 2018, Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut. Sanksi berat kembali dijatuhkan. Iran merespons dengan meningkatkan aktivitas pengayaan uranium. Ketegangan kembali meroket.
Dunia kembali diguncang pada 3 Januari 2020. Serangan drone AS di Bandara Baghdad menewaskan Komandan Pasukan Quds Iran, Qasem Soleimani.
Soleimani adalah figur militer paling berpengaruh di Iran dan arsitek strategi regional Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak.
Banyak pengamat menyebut momen ini sebagai titik paling dekat kedua negara menuju perang langsung dalam dua dekade terakhir. Meski eskalasi berhasil dikendalikan, permusuhan semakin terbuka.
Memasuki 2026, ketegangan kembali mencapai fase kritis. Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Teheran, memberi tenggat waktu sekitar dua pekan untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir. Jika gagal, opsi militer disebut terbuka.
2002: “Axis of Evil” dan Tekanan Nuklir
Memasuki abad ke-21, ketegangan memasuki babak baru. Pada 2002, Presiden AS saat itu, George W. Bush, memasukkan Iran dalam daftar “Axis of Evil”.
Sejak saat itu, Iran diposisikan sebagai ancaman utama keamanan Amerika, terutama terkait dugaan pengembangan senjata nuklir. Sanksi ekonomi diperketat. Tekanan internasional meningkat.
Program nuklir Iran menjadi sumber kecurigaan global. Teheran bersikeras program tersebut untuk tujuan damai, sementara Washington dan sekutunya menuduh sebaliknya.
2015–2018: Harapan Damai yang Pupus
Setelah negosiasi panjang, titik terang muncul pada 2015 melalui kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Perjanjian ini membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Banyak pihak melihatnya sebagai peluang rekonsiliasi terbesar dalam beberapa dekade.
Namun pada 2018, Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut. Sanksi berat kembali dijatuhkan. Iran merespons dengan meningkatkan aktivitas pengayaan uranium. Ketegangan kembali meroket.
3 Januari 2020: Serangan Drone yang Mengguncang Dunia
Dunia kembali diguncang pada 3 Januari 2020. Serangan drone AS di Bandara Baghdad menewaskan Komandan Pasukan Quds Iran, Qasem Soleimani.
Soleimani adalah figur militer paling berpengaruh di Iran dan arsitek strategi regional Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak.
Banyak pengamat menyebut momen ini sebagai titik paling dekat kedua negara menuju perang langsung dalam dua dekade terakhir. Meski eskalasi berhasil dikendalikan, permusuhan semakin terbuka.
2026: Ultimatum, Kapal Induk, dan Bayang-Bayang Perang
Memasuki 2026, ketegangan kembali mencapai fase kritis. Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Teheran, memberi tenggat waktu sekitar dua pekan untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir. Jika gagal, opsi militer disebut terbuka.
Lihat Juga :