Pejabat Zionis Israel Waswas Mesir dan Turki Ikut-ikutan Kembangkan Senjata Nuklir
Selasa, 17 Februari 2026 - 07:26 WIB
loading...
A
A
A
Tidak jelas mengapa pejabat Zionis tersebut khawatir Mesir dan Turki ikut-ikutan mengembangkan senjata nuklir secara diam-diam. Sejauh ini tak ada indikasi yang menguatkan kekhawatiran tersebut.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Senin memulai serangkaian latihan perang di Selat Hormuz. Manuver ini dimulai menjelang perundingan Iran dengan AS dan pada saat kapal induk Amerika, USS Abraham Lincoln, terlacak satelit berada di dekat wilayah negara Islam tersebut.
Menurut siaran televisi pemerintah Iran, latihan perang ini, yang durasinya tidak ditentukan, bertujuan untuk mempersiapkan IRGC menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di Selat Hormuz setelah Amerika mengerahkan kekuatan Angkatan Laut yang besar ke kawasan tersebut.
Para politisi garis keras Iran telah berulang kali mengancam akan memblokir selat tersebut, terutama selama masa ketegangan yang meningkat dengan Amerika Serikat, tetapi selat itu tidak pernah ditutup.
Sekitar seperempat dari seluruh minyak yang diangkut melalui laut dan seperlima dari gas alam cair dunia melewati selat tersebut, menurut Badan Energi Internasional.
Rangkaian latihan perang Iran, yang diawasi oleh Kepala IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IRGC untuk bereaksi cepat, menurut lapor media Iran. IRGC adalah sayap ideologis militer Iran.
IRGC memulai latihan dari Pulau Abu Musa—titik teritorial paling selatan Iran—dengan Pakpour mengatakan pasukan membangun "benteng yang kuat di sekitar pulau."
Laporan televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa unit-unit berbasis pulau di Teluk dapat beroperasi tanpa dukungan daratan. "Dengan rudal yang mampu menghancurkan kapal perusak musuh dalam radius 1.000 kilometer," bunyi siaran televisi tersebut, yang dikutip AFP, Selasa (17/2/2026).
Iran Latihan Perang sambil Berunding dengan AS
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Senin memulai serangkaian latihan perang di Selat Hormuz. Manuver ini dimulai menjelang perundingan Iran dengan AS dan pada saat kapal induk Amerika, USS Abraham Lincoln, terlacak satelit berada di dekat wilayah negara Islam tersebut.
Menurut siaran televisi pemerintah Iran, latihan perang ini, yang durasinya tidak ditentukan, bertujuan untuk mempersiapkan IRGC menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di Selat Hormuz setelah Amerika mengerahkan kekuatan Angkatan Laut yang besar ke kawasan tersebut.
Para politisi garis keras Iran telah berulang kali mengancam akan memblokir selat tersebut, terutama selama masa ketegangan yang meningkat dengan Amerika Serikat, tetapi selat itu tidak pernah ditutup.
Sekitar seperempat dari seluruh minyak yang diangkut melalui laut dan seperlima dari gas alam cair dunia melewati selat tersebut, menurut Badan Energi Internasional.
Rangkaian latihan perang Iran, yang diawasi oleh Kepala IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IRGC untuk bereaksi cepat, menurut lapor media Iran. IRGC adalah sayap ideologis militer Iran.
IRGC memulai latihan dari Pulau Abu Musa—titik teritorial paling selatan Iran—dengan Pakpour mengatakan pasukan membangun "benteng yang kuat di sekitar pulau."
Laporan televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa unit-unit berbasis pulau di Teluk dapat beroperasi tanpa dukungan daratan. "Dengan rudal yang mampu menghancurkan kapal perusak musuh dalam radius 1.000 kilometer," bunyi siaran televisi tersebut, yang dikutip AFP, Selasa (17/2/2026).
Lihat Juga :