Iran di Ambang Perang dengan AS, Teheran Sudah Kendalikan Penuh Selat Hormuz
Kamis, 29 Januari 2026 - 08:51 WIB
loading...
Iran umumkan sudah kendalikan penuh Selat Hormuz ketika saat situasi sudah di ambang perang dengan AS. Foto/Iranian Army Office
A
A
A
TEHERAN - Iran mengumumkan bahwa pasukannya telah mempertahankan “kendali penuh” atas daratan, perairan, dan wilayah udara Selat Hormuz. Pengumuman ini muncul ketika negara Islam itu tengah di ambang perang melawan Amerika Serikat (AS).
“Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap,” kata Brigadir Jenderal Mohammad Akbarzadeh, seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebagaimana dikutip dari Fars News, Kamis (29/1/2026).
“Jika perang pecah, tidak akan ada mundur, bahkan satu milimeter pun, dan Iran akan terus maju,” tegasnya.
Baca Juga: Negara NATO: Nasib Rezim Iran Tinggal Menghitung Hari
"Pengelolaan jalur strategis tersebut telah melampaui metode tradisional dan sekarang sepenuhnya cerdas,” ujarnya, memungkinkan Iran untuk terus mengawasi semua pergerakan maritim, permukaan, dan bawah laut.
“Iran juga mengendalikan keputusan apakah kapal-kapal yang mengibarkan bendera berbeda diizinkan untuk melewati selat tersebut,” lanjut dia.
“Iran tidak ingin ekonomi global menderita,” katanya. "AS dan sekutunya tidak akan diizinkan untuk mengambil keuntungan dari perang yang mereka mulai.”
Akbarzadeh memperingatkan bahwa jika daratan, wilayah udara, atau perairan negara-negara tetangga digunakan untuk melawan Iran, negara-negara itu akan diperlakukan sebagai musuh.
“Pesan ini telah disampaikan kepada pihak-pihak regional,” katanya.
Komandan Iran tersebut menekankan bahwa Teheran memiliki kemampuan tambahan. “Yang akan diungkapkan pada waktu yang tepat," katanya.
Selat Hormuz yang sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global, terutama untuk minyak dari Timur Tengah, yang mencakup sepertiga dari pengiriman minyak mentah dunia melalui laut dan seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Melalui Selat Hormuz, sebagian besar dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi yang diangkut setiap hari mencapai pasar Asia, terutama Tiongkok. Sebagian besar minyak Iran diekspor ke Tiongkok melalui jalur air ini.
Sekitar 85% minyak Irak diangkut melalui Selat Hormuz, sementara Arab Saudi menyumbang 35% dari total minyak yang diangkut melalui jalur air ini, diikuti oleh Uni Emirat Arab dengan 20%, dan Irak dengan 27%.
Sementara itu, sekitar 20% perdagangan LNG dunia menggunakan jalur air ini.
Ketegangan meningkat antara Teheran dan Washington menyusul protes anti-pemerintah di Iran, dengan pemerintahan AS mengatakan bahwa semua opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menangani Teheran.
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan memicu respons yang "cepat dan komprehensif".
Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump mengancam Teheran dengan serangan yang jauh lebih buruk daripada serangan terhadap tiga fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump memperingatkan bahwa "armada besar" sedang mendekati Iran.
"Mereka siap untuk memenuhi misinya dengan cepat dan keras," tulis Trump.
Dia mendesak Teheran untuk membuat kesepakatan tentang masa depan program nuklirnya. "Atau serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," lanjut Trump.
Namun, Iran menolak tunduk pada ancaman Trump. "Jika Trump menyerang lebih dulu, Iran akan memberikan respons yang tepat, bukan respons yang proporsional,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi kepada wartawan.
Gharibabadi menyatakan bahwa respons Iran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut, dan memperingatkan bahwa Israel juga dapat menderita kerugian.
"Iran tidak sedang bernegosiasi dengan AS, dan prioritas utamanya adalah siap 200 persen untuk membela diri,” imbuh dia.
Misi tetap Iran untuk PBB lebih eksplisit dalam respons-nya. “Terakhir kali AS melakukan kesalahan dengan berperang di Afghanistan dan Irak, mereka menghamburkan lebih dari USD7 triliun dan kehilangan lebih dari 7.000 nyawa warga Amerika,” tulis misi terseut dalam sebuah unggahan di X.
“Iran siap untuk dialog berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama—TETAPI JIKA DIPAKSA, MEREKA AKAN MEMBELA DIRI DAN MERESPON SEPERTI BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA!” lanjut unggahan tersebut, meniru gaya bahasa media sosial khas Trump.
Kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah minggu ini, didampingi oleh tiga kapal perusak yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk. Selain jet tempur siluman F-35C dan F/A-18 yang dibawa oleh USS Abraham Lincoln, AS juga memindahkan jet tempur F-15E Strike Eagle, baterai rudal Patriot, dan sistem pertahanan udara THAAD ke wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Iran telah berulang kali memperingatkan Trump agar tidak melakukan "kesalahan perhitungan apa pun". Pada akhir pekan, IRGC menyatakan bahwa mereka "lebih siap dari sebelumnya, siap menembak" untuk membela negara, dan menjanjikan konsekuensi menyakitkan bagi setiap agresi dari AS atau Israel.
“Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap,” kata Brigadir Jenderal Mohammad Akbarzadeh, seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebagaimana dikutip dari Fars News, Kamis (29/1/2026).
“Jika perang pecah, tidak akan ada mundur, bahkan satu milimeter pun, dan Iran akan terus maju,” tegasnya.
Baca Juga: Negara NATO: Nasib Rezim Iran Tinggal Menghitung Hari
"Pengelolaan jalur strategis tersebut telah melampaui metode tradisional dan sekarang sepenuhnya cerdas,” ujarnya, memungkinkan Iran untuk terus mengawasi semua pergerakan maritim, permukaan, dan bawah laut.
“Iran juga mengendalikan keputusan apakah kapal-kapal yang mengibarkan bendera berbeda diizinkan untuk melewati selat tersebut,” lanjut dia.
“Iran tidak ingin ekonomi global menderita,” katanya. "AS dan sekutunya tidak akan diizinkan untuk mengambil keuntungan dari perang yang mereka mulai.”
Akbarzadeh memperingatkan bahwa jika daratan, wilayah udara, atau perairan negara-negara tetangga digunakan untuk melawan Iran, negara-negara itu akan diperlakukan sebagai musuh.
“Pesan ini telah disampaikan kepada pihak-pihak regional,” katanya.
Komandan Iran tersebut menekankan bahwa Teheran memiliki kemampuan tambahan. “Yang akan diungkapkan pada waktu yang tepat," katanya.
Selat Hormuz yang sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global, terutama untuk minyak dari Timur Tengah, yang mencakup sepertiga dari pengiriman minyak mentah dunia melalui laut dan seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Melalui Selat Hormuz, sebagian besar dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi yang diangkut setiap hari mencapai pasar Asia, terutama Tiongkok. Sebagian besar minyak Iran diekspor ke Tiongkok melalui jalur air ini.
Sekitar 85% minyak Irak diangkut melalui Selat Hormuz, sementara Arab Saudi menyumbang 35% dari total minyak yang diangkut melalui jalur air ini, diikuti oleh Uni Emirat Arab dengan 20%, dan Irak dengan 27%.
Sementara itu, sekitar 20% perdagangan LNG dunia menggunakan jalur air ini.
Ketegangan meningkat antara Teheran dan Washington menyusul protes anti-pemerintah di Iran, dengan pemerintahan AS mengatakan bahwa semua opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka dalam menangani Teheran.
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan memicu respons yang "cepat dan komprehensif".
Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump mengancam Teheran dengan serangan yang jauh lebih buruk daripada serangan terhadap tiga fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump memperingatkan bahwa "armada besar" sedang mendekati Iran.
"Mereka siap untuk memenuhi misinya dengan cepat dan keras," tulis Trump.
Dia mendesak Teheran untuk membuat kesepakatan tentang masa depan program nuklirnya. "Atau serangan berikutnya akan jauh lebih buruk," lanjut Trump.
Namun, Iran menolak tunduk pada ancaman Trump. "Jika Trump menyerang lebih dulu, Iran akan memberikan respons yang tepat, bukan respons yang proporsional,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi kepada wartawan.
Gharibabadi menyatakan bahwa respons Iran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut, dan memperingatkan bahwa Israel juga dapat menderita kerugian.
"Iran tidak sedang bernegosiasi dengan AS, dan prioritas utamanya adalah siap 200 persen untuk membela diri,” imbuh dia.
Misi tetap Iran untuk PBB lebih eksplisit dalam respons-nya. “Terakhir kali AS melakukan kesalahan dengan berperang di Afghanistan dan Irak, mereka menghamburkan lebih dari USD7 triliun dan kehilangan lebih dari 7.000 nyawa warga Amerika,” tulis misi terseut dalam sebuah unggahan di X.
“Iran siap untuk dialog berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama—TETAPI JIKA DIPAKSA, MEREKA AKAN MEMBELA DIRI DAN MERESPON SEPERTI BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA!” lanjut unggahan tersebut, meniru gaya bahasa media sosial khas Trump.
Kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah minggu ini, didampingi oleh tiga kapal perusak yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk. Selain jet tempur siluman F-35C dan F/A-18 yang dibawa oleh USS Abraham Lincoln, AS juga memindahkan jet tempur F-15E Strike Eagle, baterai rudal Patriot, dan sistem pertahanan udara THAAD ke wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Iran telah berulang kali memperingatkan Trump agar tidak melakukan "kesalahan perhitungan apa pun". Pada akhir pekan, IRGC menyatakan bahwa mereka "lebih siap dari sebelumnya, siap menembak" untuk membela negara, dan menjanjikan konsekuensi menyakitkan bagi setiap agresi dari AS atau Israel.
(mas)
Lihat Juga :