Institut China Sangkal Laporan 'Memberangus Kelahiran' di Xinjiang

loading...
Institut China Sangkal Laporan Memberangus Kelahiran di Xinjiang
Seorang pria etnik Uighur duduk di pasar lokal di Kashgar, provinsi Xinjiang, 2 Agustus 2011. Foto/REUTERS/Carlos Barria
A+ A-
BEIJING - Sebuah lembaga China membantah laporan kontraktor independen Adrian Zenz tentang kebijakan "memberangus kelahiran" penduduk di Xinjiang oleh pemerintah China. Klaim Zenz dianggap sebagai campuran dari tambal sulam yang acak dan spekulasi yang subjektif.

Artikel bantahan dari Human Rights Institute, Southwest University of Political Science & Law, mengatakan,"Laporan Zenz sangat tidak tepat menggambarkan hubungan antara gambar dan teks, menafsirkan kasus secara jahat, dan kesimpulannya tidak memiliki dasar faktual."

Artikel tersebut mengatakan Zenz mengunduh gambar online yang tidak sesuai dengan laporannya dan menyimpulkan situasi keluarga berencana (KB) di Xinjiang berdasarkan laporan palsu, membayangkan apa yang disebut "sterilisasi wajib" dan "genosida" di Xinjiang. Adrian Zenz merupakankontraktor independen di Victims of Communism Memorial Foundation di Washington, D.C. (Baca: China Dilaporkan Berlakukan Wajib Aborsi bagi Muslim Uighur)

Menentang norma dan etika akademik, lanjut artikel tersebut, praktik seperti yang dilakukan Zenz dilakukan secara politik atas nama penelitian akademik.

Misalnya, laporan Zenz mengatakan pemeriksaan kesehatan telah ada di mana-mana, terutama di daerah etnis minoritas Xinjiang, sebagai sarana untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan untuk menegakkan tindakan pengendalian kelahiran yang mengganggu.



Gambar terlampir, bagaimanapun, menunjukkan sekelompok orang lanjut usia yang menjalani pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bagian dari gerakan pengentasan kemiskinan setempat.

"Upaya Zenz untuk membuktikan melalui gambar tidak dapat membuktikan kebohongan palsu seperti 'genosida' dan 'KB paksa', tetapi menunjukkan bahwa pekerjaan kesehatan masyarakat di Xinjiang telah membuahkan hasil," tulis institut tersebut, seperti dikutip Reuters, Kamis (17/9/2020).

Artikel institut tersebut juga mempertanyakan kesimpulan laporan Zenz, termasuk menyalahkan penurunan tingkat kesuburan kelompok etnis Uigur di Xinjiang pada pengendalian populasi pemerintah. (Baca juga: Dilaporkan Berlakukan Wajib Aborsi untuk Muslim Uighur, AS Kecam China)

Sebaliknya, laporan tersebut mengatakan bahwa tingkat kesuburan perempuan bergantung pada beberapa faktor, termasuk perkembangan sosial dan ekonomi, perawatan medis dan kesehatan, tingkat pendidikan perempuan, dan pelaksanaan kebijakan keluarga berencana. "Studi sepihak Zenz benar-benar membingungkan," sambung artikel tersebut.

Menurut artikel insititut tersebut klaim Zenz juga didukung oleh cerita pribadi yang telah dibantah sebagai klaim palsu. Pihak institut mempertanyakan mengapa cerita yang sama sering digunakan untuk mencemarkan nama baik China.



"'Laporan independen' seperti Adrian Zenz adalah sarana bagi pasukan anti-China di Barat untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri China dengan membuat pernyataan palsu atas nama yang disebut para ahli," kata institut tersebut.
(min)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top