Trump Sebut Kanada Menentang Kubah Emas di Greenland, AS Bisa Caplok Kanada
Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:30 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump mengatakan Kanada menentang pembangunan Golden Dome atau Kubah Emas di atas Greenland. Menurut Trump, Kubah Emas adalah proyek yang akan melindungi Kanada.
Namun menurut Trump, Kanada malah terlibat dalam apa yang ia gambarkan sebagai bisnis berbahaya dengan China. "Kanada menentang pembangunan Kubah Emas di atas Greenland, meskipun Kubah Emas akan melindungi Kanada. Sebaliknya, mereka memilih berbisnis dengan China, yang akan 'memakan' mereka dalam tahun pertama!" tulis Trump di Truth Social.
Trump sebelumnya mengatakan pemerintahannya meluncurkan program pertahanan rudal Kubah Emas senilai USD175 miliar, yang bertujuan memberikan tingkat perlindungan tertinggi untuk wilayah udara AS.
Sejak itu, Trump berulang kali menganjurkan agar Kanada bergabung dengan AS, dengan alasan negara tersebut tidak mengalokasikan dana yang cukup untuk pertahanan, dan bergantung pada Washington untuk perlindungan.
Sementara, Amerika Serikat akan mengepung Kanada dan dapat mencaplok sebagian wilayahnya setelah memperoleh Greenland, menurut Letnan Kolonel Angkatan Darat AS Earl Rasmussen kepada Sputnik.
"Saya tidak akan terkejut jika sebagian wilayah Kanada juga akan dicaplok," kata Rasmussen.
Pakar tersebut menyebut apa yang terjadi dengan Greenland sebagai "perkembangan yang luar biasa."
Sebelumnya, Trump mengatakan dia akan mengenakan tarif 10% pada Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia pada bulan Februari, yang kemudian akan meningkat menjadi 25% dan tetap berlaku sampai Amerika Serikat menandatangani kesepakatan tentang pembelian Greenland.
Trump telah berulang kali mengatakan Greenland harus menjadi bagian dari Amerika Serikat, dengan alasan pentingnya strategis bagi keamanan nasional. Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan AS agar tidak merebut pulau itu, menekankan mereka mengharapkan penghormatan terhadap integritas teritorial bersama mereka.
Pulau itu merupakan koloni Denmark hingga tahun 1953. Pulau itu tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh otonomi pada tahun 2009, dengan kemampuan mengatur diri sendiri dan menentukan kebijakan dalam negerinya sendiri.
Baca juga: Rusia dan China Bersatu Lawan Upaya Barat Memiliterisasi Asia-Pasifik
Namun menurut Trump, Kanada malah terlibat dalam apa yang ia gambarkan sebagai bisnis berbahaya dengan China. "Kanada menentang pembangunan Kubah Emas di atas Greenland, meskipun Kubah Emas akan melindungi Kanada. Sebaliknya, mereka memilih berbisnis dengan China, yang akan 'memakan' mereka dalam tahun pertama!" tulis Trump di Truth Social.
Trump sebelumnya mengatakan pemerintahannya meluncurkan program pertahanan rudal Kubah Emas senilai USD175 miliar, yang bertujuan memberikan tingkat perlindungan tertinggi untuk wilayah udara AS.
Sejak itu, Trump berulang kali menganjurkan agar Kanada bergabung dengan AS, dengan alasan negara tersebut tidak mengalokasikan dana yang cukup untuk pertahanan, dan bergantung pada Washington untuk perlindungan.
Sementara, Amerika Serikat akan mengepung Kanada dan dapat mencaplok sebagian wilayahnya setelah memperoleh Greenland, menurut Letnan Kolonel Angkatan Darat AS Earl Rasmussen kepada Sputnik.
"Saya tidak akan terkejut jika sebagian wilayah Kanada juga akan dicaplok," kata Rasmussen.
Pakar tersebut menyebut apa yang terjadi dengan Greenland sebagai "perkembangan yang luar biasa."
Sebelumnya, Trump mengatakan dia akan mengenakan tarif 10% pada Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia pada bulan Februari, yang kemudian akan meningkat menjadi 25% dan tetap berlaku sampai Amerika Serikat menandatangani kesepakatan tentang pembelian Greenland.
Trump telah berulang kali mengatakan Greenland harus menjadi bagian dari Amerika Serikat, dengan alasan pentingnya strategis bagi keamanan nasional. Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan AS agar tidak merebut pulau itu, menekankan mereka mengharapkan penghormatan terhadap integritas teritorial bersama mereka.
Pulau itu merupakan koloni Denmark hingga tahun 1953. Pulau itu tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh otonomi pada tahun 2009, dengan kemampuan mengatur diri sendiri dan menentukan kebijakan dalam negerinya sendiri.
Baca juga: Rusia dan China Bersatu Lawan Upaya Barat Memiliterisasi Asia-Pasifik
(sya)
Lihat Juga :