AS Siapkan 1.500 Tentara Aktif untuk Atasi Kerusuhan di Minnesota
Senin, 19 Januari 2026 - 08:49 WIB
loading...
Pentagon perintahkan 1.500 tentara aktif AS bersiap dikerahkan untuk mengatasi kerusuhan di negara bagian Minnesota. Foto/Army National Guard
A
A
A
WASHINGTON - Pentagon telah memerintahkan sekitar 1.500 tentara aktif Amerika Serikat (AS) untuk bersiap dikerahkan guna meredam kerusuhan di Minnesota.
Perintah itu diungkap The Washington Post pada hari Minggu, mengutip pejabat pertahanan.
Demonstrasi selama berbulan-bulan terhadap agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di negara bagian tersebut meningkat tajam pada awal Januari setelah penembakan fatal terhadap seorang wanita di Minneapolis.
Baca Juga: Agen ICE Tembak Mati Wanita AS, Trump Bermusuhan dengan Rakyat Sendiri di Minneapolis
Pentagon kini telah menempatkan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-11 yang berbasis di Alaska dalam keadaan siaga jika kekerasan di Minnesota meningkat, menurut laporan The Washington Post, mengutip seorang pejabat pertahanan AS. Belum jelas apakah mereka akan benar-benar dikerahkan.
Pihak Gedung Putih mengatakan Pentagon biasanya bersiap untuk setiap keputusan yang mungkin dibuat Presiden Donald Trump.
Pada Kamis lalu, Presiden Trump mengancam akan memberlakukan Undang-Undang Pemberontakan 1807 jika apa yang dia sebut "politisi korup" tidak menghentikan penghasut dan pemberontak profesional dari menyerang agen ICE.
Undang-undang federal tersebut akan memungkinkan pengerahan pasukan untuk menghilangkan gangguan sipil domestik atau pemberontakan.
Trump telah berulang kali berselisih dengan Gubernur Minnesota Tim Walz dan Wali Kota Minneapolis Jacob Frey atas tindakan keras imigrasi yang sedang berlangsung di negara bagian tersebut.
Departemen Kehakiman AS dilaporkan telah membuka penyelidikan kriminal terhadap kedua pejabat tersebut.
Menurut laporan beberapa media Amerika, penyelidikan itu, yang kemungkinan akan melibatkan surat panggilan pengadilan, akan mengusut dugaan konspirasi untuk menghalangi agen imigrasi federal yang beroperasi di negara bagian tersebut.
Baik Walz maupun Frey telah mengkritik keras keputusan Trump untuk mengerahkan hampir 3.000 agen federal ke Twin Cities pada awal Januari, dengan Frey secara terbuka mengatakan kepada mereka untuk "pergi dari Minneapolis" setelah seorang agen ICE menembak mati seorang lesbian lokal, Renee Good.
Ketegangan meningkat tajam setelah pembunuhan tersebut, menyebabkan beberapa bentrokan antara demonstran dan agen ICE.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem menuduh Walz dan Frey membahayakan pejabat federal dengan mendorong para demonstran untuk menghalangi dan menyerang mereka.
Perintah itu diungkap The Washington Post pada hari Minggu, mengutip pejabat pertahanan.
Demonstrasi selama berbulan-bulan terhadap agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di negara bagian tersebut meningkat tajam pada awal Januari setelah penembakan fatal terhadap seorang wanita di Minneapolis.
Baca Juga: Agen ICE Tembak Mati Wanita AS, Trump Bermusuhan dengan Rakyat Sendiri di Minneapolis
Pentagon kini telah menempatkan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-11 yang berbasis di Alaska dalam keadaan siaga jika kekerasan di Minnesota meningkat, menurut laporan The Washington Post, mengutip seorang pejabat pertahanan AS. Belum jelas apakah mereka akan benar-benar dikerahkan.
Pihak Gedung Putih mengatakan Pentagon biasanya bersiap untuk setiap keputusan yang mungkin dibuat Presiden Donald Trump.
Pada Kamis lalu, Presiden Trump mengancam akan memberlakukan Undang-Undang Pemberontakan 1807 jika apa yang dia sebut "politisi korup" tidak menghentikan penghasut dan pemberontak profesional dari menyerang agen ICE.
Undang-undang federal tersebut akan memungkinkan pengerahan pasukan untuk menghilangkan gangguan sipil domestik atau pemberontakan.
Trump telah berulang kali berselisih dengan Gubernur Minnesota Tim Walz dan Wali Kota Minneapolis Jacob Frey atas tindakan keras imigrasi yang sedang berlangsung di negara bagian tersebut.
Departemen Kehakiman AS dilaporkan telah membuka penyelidikan kriminal terhadap kedua pejabat tersebut.
Menurut laporan beberapa media Amerika, penyelidikan itu, yang kemungkinan akan melibatkan surat panggilan pengadilan, akan mengusut dugaan konspirasi untuk menghalangi agen imigrasi federal yang beroperasi di negara bagian tersebut.
Baik Walz maupun Frey telah mengkritik keras keputusan Trump untuk mengerahkan hampir 3.000 agen federal ke Twin Cities pada awal Januari, dengan Frey secara terbuka mengatakan kepada mereka untuk "pergi dari Minneapolis" setelah seorang agen ICE menembak mati seorang lesbian lokal, Renee Good.
Ketegangan meningkat tajam setelah pembunuhan tersebut, menyebabkan beberapa bentrokan antara demonstran dan agen ICE.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem menuduh Walz dan Frey membahayakan pejabat federal dengan mendorong para demonstran untuk menghalangi dan menyerang mereka.
(mas)
Lihat Juga :