Korsel Kerahkan Rudal Monster Hyunmoo-5, Momok bagi Rezim Kim Jong-un
Senin, 19 Januari 2026 - 08:09 WIB
loading...
Korea Selatan kerahkan rudal monster Hyunmoo-5 ke unit garis depan. Ini jadi ancaman mengerikan bagi rezim Kim Jong-un di Korea Utara. Foto/Yonhap
A
A
A
SEOUL - Korea Selatan (Korsel) telah mulai mengerahkan rudal balistik konvensional terkuatnya, Hyunmoo-5—yang dijuluki "rudal monster" karena hulu ledaknya yang besar—ke unit garis depan. Ini menjadi ancaman mengerikan bagi rezim Kim Jong-un di Korea Utara (Korut) karena sistem pertahanan udaranya sulit untuk mencegat misil tersebut.
Pengerahan rudal Hyunmoo-5 diungkap para pejabat militer Seoul pada hari Minggu, sebagaimana diberitakan Korea Times, Senin (19/1/2026).
Para pejabat militer mengatakan rudal darat-ke-darat yang mampu membawa hulu ledak hingga delapan ton itu mulai memasuki unit garis depan akhir 2025 dan diperkirakan akan menyelesaikan penyebaran operasional penuh sebelum pemerintahan saat ini berakhir pada tahun 2030.
Baca Juga: Indonesia Bergegas Beli 16 Jet Tempur KF-21 Korsel, Khawatir Keduluan Filipina
Rudal Hyunmoo-5 dianggap sebagai senjata paling ampuh Korea Selatan hingga saat ini.
Hyunmoo-5 dirancang untuk menargetkan fasilitas bawah tanah yang terkubur dalam, termasuk bunker komando yang diyakini digunakan oleh kepemimpinan dan pasukan strategis Korea Utara.
Rudal ini diperkenalkan secara publik selama acara Hari Angkatan Bersenjata Korea Selatan pada tahun 2024 dan 2025, menarik perhatian karena ukurannya dan potensi penghancurannya di tengah meningkatnya ketegangan keamanan regional.
Terlepas dari kekuatan rudal tersebut, para analis memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan kemampuannya untuk menetralisir situs bawah tanah Korea Utara yang paling tangguh.
Lee Il-woo, direktur Jaringan Pertahanan Korea, mengatakan Hyunmoo-5 mewakili rudal paling signifikan secara strategis yang pernah dikerahkan dalam seri Hyunmoo Korea Selatan, tetapi menghadapi keterbatasan fisik.
“Hyunmoo-5 membawa hulu ledak konvensional dengan daya ledak sangat tinggi, dan dengan mengurangi muatan, secara teoritis jangkauannya dapat diperpanjang hingga sekitar 3.000 kilometer, bahkan beberapa pihak membandingkannya dengan rudal kelas antarbenua,” kata Lee.
“Dalam hal kekuatan dan sinyal strategis, ini adalah rudal terkuat yang pernah dikerahkan Korea Selatan," ujarnya.
Dari perspektif Korea Utara, Lee mengatakan rudal tersebut menimbulkan ancaman serius, terutama karena kemampuan pencegatan rudal Pyongyang masih terbatas.
“Kemungkinan Korea Utara berhasil mencegat Hyunmoo-5 tampaknya sangat rendah,” katanya, mengutip kinerja nyata yang beragam dari sistem pertahanan udara S-300 dan S-400 buatan Rusia, yang mirip dengan yang dioperasikan oleh Korea Utara.
Namun, Lee mengatakan efektivitas rudal tersebut terhadap fasilitas bawah tanah Korea Utara yang terkubur dalam harus dilihat dengan lebih hati-hati. Banyak instalasi bawah tanah utama Pyongyang terletak lebih dari 100 meter di bawah tanah, seringkali di bawah batuan dasar granit yang umum di Semenanjung Korea.
“Bahkan senjata penghancur bunker konvensional tercanggih pun kesulitan menembus medan granit,” kata Lee.
Dia menunjuk pada penggunaan GBU-57 oleh Amerika Serikat, yang diperkirakan mampu menembus sekitar 60 meter di batuan lunak seperti batupasir, namun tetap gagal menetralisir sepenuhnya fasilitas bawah tanah di Iran.
“Fasilitas Korea Utara lebih dalam—seringkali 100 hingga 150 meter—dan dibangun di bawah kondisi geologis yang jauh lebih keras," terangnya.
“Akibatnya, tidak realistis untuk mengatakan bahwa senjata konvensional saja, termasuk Hyunmoo-5, dapat sepenuhnya menghancurkan fasilitas tersebut. Tanpa senjata nuklir, penetrasi total tidak mungkin dilakukan,” imbuh Lee.
Militer Korea Selatan telah mempromosikan Hyunmoo-5 sebagai elemen sentral dari doktrin Hukuman dan Pembalasan Massif Korea atau KMPR—salah satu dari tiga pilar strategi pencegahan negara tersebut terhadap Korea Utara, bersama dengan konsep serangan pendahuluan Kill Chain dan sistem Pertahanan Udara dan Rudal Korea.
Para pejabat pertahanan mengatakan rudal tersebut dimaksudkan tidak hanya untuk penghancuran fisik tetapi juga untuk pencegahan, dengan menunjukkan kemampuan Korea Selatan untuk menimbulkan kerusakan parah pada target strategis jika diserang.
Korea Selatan juga sedang mengembangkan sistem rudal berkekuatan tinggi generasi berikutnya, yang secara informal dikenal sebagai Hyunmoo-6 dan Hyunmoo-7, yang diyakini memiliki jangkauan lebih jauh atau kemampuan penetrasi yang lebih baik.
Pengerahan rudal Hyunmoo-5 diungkap para pejabat militer Seoul pada hari Minggu, sebagaimana diberitakan Korea Times, Senin (19/1/2026).
Para pejabat militer mengatakan rudal darat-ke-darat yang mampu membawa hulu ledak hingga delapan ton itu mulai memasuki unit garis depan akhir 2025 dan diperkirakan akan menyelesaikan penyebaran operasional penuh sebelum pemerintahan saat ini berakhir pada tahun 2030.
Baca Juga: Indonesia Bergegas Beli 16 Jet Tempur KF-21 Korsel, Khawatir Keduluan Filipina
Rudal Hyunmoo-5 dianggap sebagai senjata paling ampuh Korea Selatan hingga saat ini.
Hyunmoo-5 dirancang untuk menargetkan fasilitas bawah tanah yang terkubur dalam, termasuk bunker komando yang diyakini digunakan oleh kepemimpinan dan pasukan strategis Korea Utara.
Rudal ini diperkenalkan secara publik selama acara Hari Angkatan Bersenjata Korea Selatan pada tahun 2024 dan 2025, menarik perhatian karena ukurannya dan potensi penghancurannya di tengah meningkatnya ketegangan keamanan regional.
Terlepas dari kekuatan rudal tersebut, para analis memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan kemampuannya untuk menetralisir situs bawah tanah Korea Utara yang paling tangguh.
Lee Il-woo, direktur Jaringan Pertahanan Korea, mengatakan Hyunmoo-5 mewakili rudal paling signifikan secara strategis yang pernah dikerahkan dalam seri Hyunmoo Korea Selatan, tetapi menghadapi keterbatasan fisik.
“Hyunmoo-5 membawa hulu ledak konvensional dengan daya ledak sangat tinggi, dan dengan mengurangi muatan, secara teoritis jangkauannya dapat diperpanjang hingga sekitar 3.000 kilometer, bahkan beberapa pihak membandingkannya dengan rudal kelas antarbenua,” kata Lee.
“Dalam hal kekuatan dan sinyal strategis, ini adalah rudal terkuat yang pernah dikerahkan Korea Selatan," ujarnya.
Dari perspektif Korea Utara, Lee mengatakan rudal tersebut menimbulkan ancaman serius, terutama karena kemampuan pencegatan rudal Pyongyang masih terbatas.
“Kemungkinan Korea Utara berhasil mencegat Hyunmoo-5 tampaknya sangat rendah,” katanya, mengutip kinerja nyata yang beragam dari sistem pertahanan udara S-300 dan S-400 buatan Rusia, yang mirip dengan yang dioperasikan oleh Korea Utara.
Namun, Lee mengatakan efektivitas rudal tersebut terhadap fasilitas bawah tanah Korea Utara yang terkubur dalam harus dilihat dengan lebih hati-hati. Banyak instalasi bawah tanah utama Pyongyang terletak lebih dari 100 meter di bawah tanah, seringkali di bawah batuan dasar granit yang umum di Semenanjung Korea.
“Bahkan senjata penghancur bunker konvensional tercanggih pun kesulitan menembus medan granit,” kata Lee.
Dia menunjuk pada penggunaan GBU-57 oleh Amerika Serikat, yang diperkirakan mampu menembus sekitar 60 meter di batuan lunak seperti batupasir, namun tetap gagal menetralisir sepenuhnya fasilitas bawah tanah di Iran.
“Fasilitas Korea Utara lebih dalam—seringkali 100 hingga 150 meter—dan dibangun di bawah kondisi geologis yang jauh lebih keras," terangnya.
“Akibatnya, tidak realistis untuk mengatakan bahwa senjata konvensional saja, termasuk Hyunmoo-5, dapat sepenuhnya menghancurkan fasilitas tersebut. Tanpa senjata nuklir, penetrasi total tidak mungkin dilakukan,” imbuh Lee.
Militer Korea Selatan telah mempromosikan Hyunmoo-5 sebagai elemen sentral dari doktrin Hukuman dan Pembalasan Massif Korea atau KMPR—salah satu dari tiga pilar strategi pencegahan negara tersebut terhadap Korea Utara, bersama dengan konsep serangan pendahuluan Kill Chain dan sistem Pertahanan Udara dan Rudal Korea.
Para pejabat pertahanan mengatakan rudal tersebut dimaksudkan tidak hanya untuk penghancuran fisik tetapi juga untuk pencegahan, dengan menunjukkan kemampuan Korea Selatan untuk menimbulkan kerusakan parah pada target strategis jika diserang.
Korea Selatan juga sedang mengembangkan sistem rudal berkekuatan tinggi generasi berikutnya, yang secara informal dikenal sebagai Hyunmoo-6 dan Hyunmoo-7, yang diyakini memiliki jangkauan lebih jauh atau kemampuan penetrasi yang lebih baik.
(mas)
Lihat Juga :