Viral, Dokter AS Bungkam saat Dicecar Pertanyaan 'Bisakah Pria Hamil?'

Minggu, 18 Januari 2026 - 11:36 WIB
loading...
Viral, Dokter AS Bungkam...
Nisha Verma (kanan), dokter India-AS yang menolak menjawab ya atau tidak saat dicecar pertanyaan Apakah pria dapat hamil? dalam sidang Senat. Foto/X @cspan
A A A
WASHINGTON - Sidang Senat Amerika Serikat (AS) tentang keamanan pil aborsi berubah menjadi perdebatan sengit setelah Senator Partai Republik Josh Hawley mendesak seorang dokter keturunan India-AS untuk memberikan jawaban "ya" atau "tidak" tentang apakah pria dapat hamil.

Konfrontasi tersebut terjadi selama sidang Komite Kesehatan, Pendidikan, Tenaga Kerja, dan Pensiun (HELP) yang berjudul "Melindungi Perempuan: Mengungkap Bahaya Obat Aborsi Kimiawi", yang diadakan di Gedung Kantor Senat Dirksen baru-baru ini.

Di hadapan para anggota Parlemen, dokter kandungan dan ginekolog; Dr Nisha Verma, membela rekam jejak keamanan aborsi medis, dengan mengatakan bahwa metode ini telah banyak dipelajari dan digunakan selama beberapa dekade.

Baca Juga: Pria Transgender Ini Lahirkan Bayi, Protes Perawat karena Memanggilnya Ibu

Verma mengatakan kepada komite bahwa pil aborsi telah didukung oleh lebih dari 100 studi yang ditinjau oleh rekan sejawat dan telah digunakan oleh lebih dari 7,5 juta orang di Amerika Serikat sejak disetujui pada tahun 2000. Dia memperingatkan bahwa pembatasan yang didorong oleh politik merugikan pasien.

Sidang tersebut berubah menjadi perdebatan ketika Hawley berulang kali mencecar Verma, seorang penasihat senior di Physicians for Reproductive Health, dengan pertanyaan: "Apakah pria dapat hamil?".

Verma menolak memberikan jawaban langsung, dengan mengatakan bahwa dia merawat pasien dengan identitas gender yang beragam dan berpendapat bahwa pertanyaan "ya" atau "tidak" seperti itu sering digunakan sebagai alat politik.

Hawley bersikeras bahwa dia berusaha untuk menetapkan apa yang disebutnya sebagai "realitas biologis", dengan mengatakan kepada sidang bahwa perempuan, bukan laki-laki, yang hamil dan menuduh Verma menghindari fakta-fakta ilmiah dasar.

"Ini tentang sains dan bukti," katanya, mempertanyakan kredibilitas Verma sebagai ahli medis.

Verma menjawab bahwa dia tidak hanya dipandu oleh sains, tetapi juga oleh pengalaman hidup yang kompleks dari pasiennya. Dia menambahkan bahwa bahasa yang terpolarisasi tidak membantu perawatan medis atau kepercayaan publik.

Perdebatan tersebut dengan cepat menyebar secara online, jauh di luar ruang komite. Hal itu juga memicu reaksi politik di Georgia, di mana Anggota Kongres Partai Republik Earl L Buddy Carter menulis surat kepada Dewan Medis Komposit Georgia yang mendesak agar lisensi medis Dr Verma dicabut.

Dalam suratnya, Carter berpendapat bahwa kehamilan adalah fungsi biologis eksklusif bagi perempuan dan mengatakan bahwa dokter mana pun yang tidak mau menyatakan bahwa laki-laki tidak dapat hamil seharusnya tidak diizinkan untuk praktik kebidanan dan ginekologi di negara bagian tersebut.

“Dokter mana pun yang tidak mau menjawab dengan jelas bahwa pria tidak dapat hamil seharusnya tidak diizinkan untuk berpraktik kedokteran di Negara Bagian Georgia. Anda tidak akan mempercayai seorang mekanik yang tidak percaya pada penggantian oli untuk memperbaiki mobil Anda; Mengapa warga Georgia diharapkan untuk mempercayai seorang dokter yang juga menolak hal-hal mendasar? Karena alasan ini, saya meminta agar Dewan Medis Komposit Georgia segera mengambil tindakan untuk mencabut izin praktik Dr Verma," paparnya, seperti dikutip dari The Australia Today, Minggu (18/1/2026).

Dr Verma, yang mengajar sebagai asisten profesor adjunkt di Sekolah Kedokteran Universitas Emory dan berpraktik di Georgia dan Maryland, sebelumnya telah memberikan kesaksian di hadapan Kongres tentang dampak pembatasan aborsi dan sedang meneliti efek larangan aborsi enam minggu di Georgia terhadap kehamilan berisiko tinggi.

Sidang Komite HELP Senat dimaksudkan untuk fokus pada keamanan obat aborsi, tetapi cekcok tersebut menggarisbawahi bagaimana perdebatan tentang kesehatan reproduksi di Amerika Serikat tetap sangat terkait dengan pertempuran budaya dan politik yang lebih luas.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Pulau Antartika Australia...
Pulau Antartika Australia Diserang Flu Burung, Ribuan Anak Anjing Laut Mati!
Rekomendasi
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Kurang dari 12 Jam,...
Kurang dari 12 Jam, Satreskrim Polres Pelalawan Tangkap Perampok Sadis
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Berita Terkini
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved