Trump Ungkap Alasan Baru Caplok Greenland, Apakah Itu?
Kamis, 15 Januari 2026 - 19:40 WIB
loading...
Warga beraktivitas di Greenland yang ingin dicaplok AS. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) harus menguasai Greenland demi keamanan nasional, karena pulau itu sangat penting untuk membangun sistem pertahanan rudal Golden Dome yang diusulkan. Pernyataan itu diungkap Presiden AS Donald Trump sebagai alasan baru untuk mencaplok Greenland.
Pernyataan Trump mengenai Greenland telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan presiden AS semakin bersikeras mengakuisisi wilayah tersebut dari Denmark dengan cara apa pun, sambil mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mencaplok pulau tersebut.
Ia menawarkan alasan baru pada hari Rabu (14/1/2026), dengan alasan penguasaan Greenland diperlukan agar rencana perisai pertahanan rudal Golden Dome-nya dapat terwujud.
“Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk tujuan Keamanan Nasional. Ini sangat penting untuk Golden Dome yang sedang kita bangun. NATO harus memimpin jalan bagi kita untuk mendapatkannya,” tulis Trump di Truth Social.
Trump mengumumkan inisiatif Golden Dome awal tahun lalu. Sistem tersebut, yang diperkirakan akan melibatkan komponen berbasis ruang angkasa dan opsi untuk serangan pendahuluan, memiliki proyeksi biaya melebihi USD542 miliar selama dua dekade.
NATO akan menjadi "jauh lebih tangguh dan efektif dengan Greenland di tangan AS," klaim Trump, menambahkan tanpa Amerika, blok tersebut "tidak akan menjadi kekuatan atau pencegah yang efektif."
Presiden AS itu juga mengulangi klaimnya jika AS tidak merebut Greenland, Rusia dan China akan melakukannya. Klaim ini langsung dibantah oleh Moskow dan Beijing, serta para pejabat Greenland sendiri.
Trump mengemukakan rencana aneksasi Greenland di awal masa jabatan keduanya, memperbarui dorongan untuk memperoleh wilayah otonom Denmark tersebut "dengan cara apa pun" dalam beberapa minggu terakhir.
Meskipun Kopenhagen telah menyatakan kesediaan bekerja sama dengan AS dalam kerangka NATO, mereka bersikeras masa depan pulau itu harus ditentukan oleh rakyatnya, yang memilih pada tahun 2008 untuk mempertahankan status pemerintahan sendiri mereka.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan kembali komitmen pulau itu kepada Denmark dan Uni Eropa pada hari Selasa dalam konferensi pers bersama dengan PM Denmark, Mette Frederiksen. Trump menjawab dengan mengatakan, "Itu akan menjadi masalah besar baginya."
Baca juga: Dibayangi Perang, Misi AS di Arab Saudi Desak Personel dan Warga Amerika Tingkatkan Kewaspadaan
Pernyataan Trump mengenai Greenland telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan presiden AS semakin bersikeras mengakuisisi wilayah tersebut dari Denmark dengan cara apa pun, sambil mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mencaplok pulau tersebut.
Ia menawarkan alasan baru pada hari Rabu (14/1/2026), dengan alasan penguasaan Greenland diperlukan agar rencana perisai pertahanan rudal Golden Dome-nya dapat terwujud.
“Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk tujuan Keamanan Nasional. Ini sangat penting untuk Golden Dome yang sedang kita bangun. NATO harus memimpin jalan bagi kita untuk mendapatkannya,” tulis Trump di Truth Social.
Trump mengumumkan inisiatif Golden Dome awal tahun lalu. Sistem tersebut, yang diperkirakan akan melibatkan komponen berbasis ruang angkasa dan opsi untuk serangan pendahuluan, memiliki proyeksi biaya melebihi USD542 miliar selama dua dekade.
NATO akan menjadi "jauh lebih tangguh dan efektif dengan Greenland di tangan AS," klaim Trump, menambahkan tanpa Amerika, blok tersebut "tidak akan menjadi kekuatan atau pencegah yang efektif."
Presiden AS itu juga mengulangi klaimnya jika AS tidak merebut Greenland, Rusia dan China akan melakukannya. Klaim ini langsung dibantah oleh Moskow dan Beijing, serta para pejabat Greenland sendiri.
Trump mengemukakan rencana aneksasi Greenland di awal masa jabatan keduanya, memperbarui dorongan untuk memperoleh wilayah otonom Denmark tersebut "dengan cara apa pun" dalam beberapa minggu terakhir.
Meskipun Kopenhagen telah menyatakan kesediaan bekerja sama dengan AS dalam kerangka NATO, mereka bersikeras masa depan pulau itu harus ditentukan oleh rakyatnya, yang memilih pada tahun 2008 untuk mempertahankan status pemerintahan sendiri mereka.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan kembali komitmen pulau itu kepada Denmark dan Uni Eropa pada hari Selasa dalam konferensi pers bersama dengan PM Denmark, Mette Frederiksen. Trump menjawab dengan mengatakan, "Itu akan menjadi masalah besar baginya."
Baca juga: Dibayangi Perang, Misi AS di Arab Saudi Desak Personel dan Warga Amerika Tingkatkan Kewaspadaan
(sya)
Lihat Juga :