Trump Bercanda Menlu AS Marco Rubio Bisa Menjadi Presiden Kuba Berikutnya
Senin, 12 Januari 2026 - 09:33 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump menargetkan Kuba setelah meluncurkan operasi militer di Venezuela. Dia bercanda bahwa Menlu AS Marco Rubio bisa menjadi presiden Kuba berikutnya. Foto/White House
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang menargetkan Kuba setelah operasi militer Washington berhasil menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu. Trump bahkan bercanda dengan mendukung gagasan bahwa Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio akan menjadi presiden Kuba berikutnya.
Pada hari Minggu, Trump mengunggah ulang gambar unggahan X yang secara bercanda mengeklaim bahwa Rubio akan diangkat menjadi presiden baru Kuba. “Kedengarannya bagus!” tulis Trump dalam unggahan ulang tersebut di Truth Social.
Dalam pesan lanjutan, dia menuduh Kuba hidup dari uang minyak Venezuela.
Baca Juga: Trump: Kuba Tak Lagi Dapat Uang dan Minyak Venezuela, Bikin Kesepakatan sebelum Terlambat!
Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah diculik oleh pasukan khusus AS pada 3 Januari lalu setelah Caracas mendapat tekanan dari Washington selama berbulan-bulan. Setelah penculikan itu, Trump menuntut “akses total” AS ke minyak Venezuela.
Dalam operasi militer AS di Venezuela, 32 perwira Kuba ikut terbunuh.
Dalam unggahan Truth Social-nya, Trump mengonfirmasi kematian puluhan warga Kuba tersebut. Dia menegaskan AS sekarang yang akan menjadi pelindung Venezuela.
Menurut Trump, Kuba tak akan lagi mendapat jatuh uang dan minyak dari Venezuela dan mendesak Havana untuk membuat kesepakatan dengan Washington. "Sebelum terlambat," tulis Trump.
Beberapa jam kemudian, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengecam anggapan superioritas moral Washington. Dia pun menuduh AS telah menyerang Kuba selama 66 tahun.
“Mereka yang mengubah segalanya menjadi bisnis, bahkan nyawa manusia, tidak memiliki otoritas moral untuk menunjuk jari ke Kuba dalam hal apa pun, sama sekali apa pun,” tulisnya di X, sebagaimana dikutip dari Russia Today, Senin (12/1/2026).
“Kekurangan ekonomi yang parah di negara ini adalah kesalahan dari tindakan kejam yang mencekik secara ekstrem yang telah diterapkan AS kepada kami selama enam dekade,” lanjut dia.
Washington telah memberlakukan embargo perdagangan komprehensif terhadap Kuba sejak tahun 1960-an. Meskipun pemerintahan Barack Obama dan Joe Biden mengambil langkah-langkah untuk menormalisasi hubungan, Trump—setelah terpilih kembali sebagai presiden AS pada Januari lalu—memasukkan kembali Kuba ke dalam daftar negara sponsor terorisme.
Pada hari Minggu, Trump mengunggah ulang gambar unggahan X yang secara bercanda mengeklaim bahwa Rubio akan diangkat menjadi presiden baru Kuba. “Kedengarannya bagus!” tulis Trump dalam unggahan ulang tersebut di Truth Social.
Dalam pesan lanjutan, dia menuduh Kuba hidup dari uang minyak Venezuela.
Baca Juga: Trump: Kuba Tak Lagi Dapat Uang dan Minyak Venezuela, Bikin Kesepakatan sebelum Terlambat!
Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah diculik oleh pasukan khusus AS pada 3 Januari lalu setelah Caracas mendapat tekanan dari Washington selama berbulan-bulan. Setelah penculikan itu, Trump menuntut “akses total” AS ke minyak Venezuela.
Dalam operasi militer AS di Venezuela, 32 perwira Kuba ikut terbunuh.
Dalam unggahan Truth Social-nya, Trump mengonfirmasi kematian puluhan warga Kuba tersebut. Dia menegaskan AS sekarang yang akan menjadi pelindung Venezuela.
Menurut Trump, Kuba tak akan lagi mendapat jatuh uang dan minyak dari Venezuela dan mendesak Havana untuk membuat kesepakatan dengan Washington. "Sebelum terlambat," tulis Trump.
Beberapa jam kemudian, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengecam anggapan superioritas moral Washington. Dia pun menuduh AS telah menyerang Kuba selama 66 tahun.
“Mereka yang mengubah segalanya menjadi bisnis, bahkan nyawa manusia, tidak memiliki otoritas moral untuk menunjuk jari ke Kuba dalam hal apa pun, sama sekali apa pun,” tulisnya di X, sebagaimana dikutip dari Russia Today, Senin (12/1/2026).
“Kekurangan ekonomi yang parah di negara ini adalah kesalahan dari tindakan kejam yang mencekik secara ekstrem yang telah diterapkan AS kepada kami selama enam dekade,” lanjut dia.
Washington telah memberlakukan embargo perdagangan komprehensif terhadap Kuba sejak tahun 1960-an. Meskipun pemerintahan Barack Obama dan Joe Biden mengambil langkah-langkah untuk menormalisasi hubungan, Trump—setelah terpilih kembali sebagai presiden AS pada Januari lalu—memasukkan kembali Kuba ke dalam daftar negara sponsor terorisme.
(mas)
Lihat Juga :