AS Bersiap Ikut Campur dalam Kekacauan Iran: 'Bantuan Sedang Dalam Perjalanan'
Minggu, 11 Januari 2026 - 06:02 WIB
loading...
Demo rusuh melanda Teheran, Iran. Amerika Serikat bersiap ikut campur dengan dalih menolong para demonstran anti-pemerintah. Foto/X via Times of Israel
A
A
A
TEHERAN - Amerika Serikat (AS) bersiap ikut campur dalam kekacauan di Iran dengan dalih menolong para demonstran anti-pemerintah. Senator Partai Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Presiden Donald Trump, mengatakan bantuan Washington sedang dalam perjalanan untuk para demonstran.
"Kepada rakyat Iran: mimpi buruk panjang Anda akan segera berakhir. Keberanian dan tekad Anda untuk mengakhiri penindasan telah diperhatikan oleh @POTUS dan semua orang yang mencintai kebebasan," tulis Graham dalam sebuah unggahan di X, Sabtu (10/1/2026). @POTUS adalah akun resmi Presiden AS.
Baca Juga: Breaking News! Demonstran Iran Diberondong Tembakan, 217 Orang Tewas
"Ketika Presiden Trump mengatakan 'Make Iran Great Again [Jadikan Iran Hebat Kembali]', itu berarti para demonstran di Iran harus menang atas ayatollah. Itu adalah sinyal paling jelas bahwa dia, Presiden Trump, memahami bahwa Iran tidak akan pernah hebat dengan ayatollah dan antek-anteknya yang berkuasa," lanjut Graham.
"Kepada semua yang berkorban di Iran, semoga Tuhan memberkati. Bantuan sedang dalam perjalanan," imbuh dia.
Pada saat yang bersamaan, Trump menegaskan kembali dukungannya kepada para demonstran Iran, menyatakan kesiapan Washington untuk membantu mereka dalam perjuangan untuk kebebasan.
"Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!" tulis Trump di Truth Social.
Sementara itu, sebuah video yang viral menunjukkan salah satu masjid terbesar di Iran dibakar massa pada Jumat malam. Video tersebut dibagikan oleh aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad.
“Salah satu masjid terbesar di Iran terbakar selama pemberontakan. Jangan panik. Ini bukan kekacauan. Ini adalah 47 tahun kemarahan. Selama 47 tahun, setelah setiap seruan Allahu Akbar dari menara-menara ini, warga Iran yang tidak bersalah dieksekusi oleh rezim Islamis,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
Dalam komentar pertamanya tentang protes yang meningkat sejak 3 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyebut para demonstran sebagai "perusak" dan "penyabotase".
Khamenei, dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, mengatakan tangan Presiden AS Donald Trump berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran. Komentar itu tampaknya merujuk pada perang Iran- Israel pada Juni, di mana AS ikut campur dengan membantu rezim Zionis.
Khamenei memprediksi Trump akan digulingkan seperti dinasti kekaisaran yang memerintah Iran hingga revolusi 1979.
"Semua orang tahu Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat, ia tidak akan mundur menghadapi para penyabot," katanya.
Sementara itu, Reza Pahlavi, pangeran Iran yang diasingkan, telah mendesak Trump untuk campur tangan dalam pemberontakan yang telah menyebabkan bentrokan antara demonstran dan petugas keamanan.
Gelombang protes kedua pecah setelah Pahlavi mendorong warga yang marah untuk bersuara menentang Republik Islam karena Iran menghadapi kesulitan ekonomi yang parah. Aksi protes saat ini, gelombang perbedaan pendapat terbesar dalam tiga tahun terakhir, dimulai bulan lalu di Grand Bazaar Teheran ketika para pemilik toko mengecam jatuhnya nilai mata uang rial.
Saat protes terhadap pemerintah Iran meningkat secara signifikan pada Kamis malam, pasukan rezim merespons di banyak tempat dengan menembak. Seorang dokter di Teheran mengatakan kepada TIME dengan syarat anonim bahwa hanya enam rumah sakit di ibu kota yang mencatat setidaknya 217 kematian demonstran. "Sebagian besar akibat peluru tajam," katanya.
Jumlah kematian tersebut, jika dikonfirmasi, akan menandakan tindakan keras yang dikhawatirkan, yang didahului oleh penutupan hampir total koneksi internet dan telepon nasional oleh rezim sejak Kamis malam.
Demonstrasi, yang kini mencakup seluruh 31 provinsi, dimulai sebagai protes terhadap perekonomian yang sedang merosot. Tetapi demonstrasi tersebut segera meluas untuk menuntut penggulingan rezim Islam otoriter yang telah memerintah negara berpenduduk sekitar 92 juta jiwa itu sejak 1979. Meskipun demonstrasi sebagian besar berlangsung damai, dengan teriakan "Kebebasan" dan "Matilah Diktator", beberapa gedung pemerintah telah dirusak.
Dokter tersebut mengatakan pihak berwenang telah memindahkan jenazah dari rumah sakit pada hari Jumat. Sebagian besar korban tewas adalah kaum muda, katanya, termasuk beberapa orang yang tewas di luar kantor polisi Teheran utara ketika pasukan keamanan menembakkan senapan mesin ke arah para demonstran, yang tewas di tempat kejadian. Para aktivis melaporkan setidaknya 30 orang ditembak dalam insiden tersebut.
"Kepada rakyat Iran: mimpi buruk panjang Anda akan segera berakhir. Keberanian dan tekad Anda untuk mengakhiri penindasan telah diperhatikan oleh @POTUS dan semua orang yang mencintai kebebasan," tulis Graham dalam sebuah unggahan di X, Sabtu (10/1/2026). @POTUS adalah akun resmi Presiden AS.
Baca Juga: Breaking News! Demonstran Iran Diberondong Tembakan, 217 Orang Tewas
"Ketika Presiden Trump mengatakan 'Make Iran Great Again [Jadikan Iran Hebat Kembali]', itu berarti para demonstran di Iran harus menang atas ayatollah. Itu adalah sinyal paling jelas bahwa dia, Presiden Trump, memahami bahwa Iran tidak akan pernah hebat dengan ayatollah dan antek-anteknya yang berkuasa," lanjut Graham.
"Kepada semua yang berkorban di Iran, semoga Tuhan memberkati. Bantuan sedang dalam perjalanan," imbuh dia.
Pada saat yang bersamaan, Trump menegaskan kembali dukungannya kepada para demonstran Iran, menyatakan kesiapan Washington untuk membantu mereka dalam perjuangan untuk kebebasan.
"Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!" tulis Trump di Truth Social.
Sementara itu, sebuah video yang viral menunjukkan salah satu masjid terbesar di Iran dibakar massa pada Jumat malam. Video tersebut dibagikan oleh aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad.
“Salah satu masjid terbesar di Iran terbakar selama pemberontakan. Jangan panik. Ini bukan kekacauan. Ini adalah 47 tahun kemarahan. Selama 47 tahun, setelah setiap seruan Allahu Akbar dari menara-menara ini, warga Iran yang tidak bersalah dieksekusi oleh rezim Islamis,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
Dalam komentar pertamanya tentang protes yang meningkat sejak 3 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyebut para demonstran sebagai "perusak" dan "penyabotase".
Khamenei, dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, mengatakan tangan Presiden AS Donald Trump berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran. Komentar itu tampaknya merujuk pada perang Iran- Israel pada Juni, di mana AS ikut campur dengan membantu rezim Zionis.
Khamenei memprediksi Trump akan digulingkan seperti dinasti kekaisaran yang memerintah Iran hingga revolusi 1979.
"Semua orang tahu Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat, ia tidak akan mundur menghadapi para penyabot," katanya.
Sementara itu, Reza Pahlavi, pangeran Iran yang diasingkan, telah mendesak Trump untuk campur tangan dalam pemberontakan yang telah menyebabkan bentrokan antara demonstran dan petugas keamanan.
Gelombang protes kedua pecah setelah Pahlavi mendorong warga yang marah untuk bersuara menentang Republik Islam karena Iran menghadapi kesulitan ekonomi yang parah. Aksi protes saat ini, gelombang perbedaan pendapat terbesar dalam tiga tahun terakhir, dimulai bulan lalu di Grand Bazaar Teheran ketika para pemilik toko mengecam jatuhnya nilai mata uang rial.
Saat protes terhadap pemerintah Iran meningkat secara signifikan pada Kamis malam, pasukan rezim merespons di banyak tempat dengan menembak. Seorang dokter di Teheran mengatakan kepada TIME dengan syarat anonim bahwa hanya enam rumah sakit di ibu kota yang mencatat setidaknya 217 kematian demonstran. "Sebagian besar akibat peluru tajam," katanya.
Jumlah kematian tersebut, jika dikonfirmasi, akan menandakan tindakan keras yang dikhawatirkan, yang didahului oleh penutupan hampir total koneksi internet dan telepon nasional oleh rezim sejak Kamis malam.
Demonstrasi, yang kini mencakup seluruh 31 provinsi, dimulai sebagai protes terhadap perekonomian yang sedang merosot. Tetapi demonstrasi tersebut segera meluas untuk menuntut penggulingan rezim Islam otoriter yang telah memerintah negara berpenduduk sekitar 92 juta jiwa itu sejak 1979. Meskipun demonstrasi sebagian besar berlangsung damai, dengan teriakan "Kebebasan" dan "Matilah Diktator", beberapa gedung pemerintah telah dirusak.
Dokter tersebut mengatakan pihak berwenang telah memindahkan jenazah dari rumah sakit pada hari Jumat. Sebagian besar korban tewas adalah kaum muda, katanya, termasuk beberapa orang yang tewas di luar kantor polisi Teheran utara ketika pasukan keamanan menembakkan senapan mesin ke arah para demonstran, yang tewas di tempat kejadian. Para aktivis melaporkan setidaknya 30 orang ditembak dalam insiden tersebut.
(mas)
Lihat Juga :