Pasukan Khusus AS Culik Maduro, Trump: Saya Tak Butuh Hukum Internasional!

Jum'at, 09 Januari 2026 - 07:12 WIB
loading...
Pasukan Khusus AS Culik...
Presiden AS Donald Trump sebut dirinya tak butuh hukum internasional terkait penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika di Caracas. Foto/White House/Truth Social @realDonaldTrump
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak peduli dengan hukum internasional terkait tindakan pasukan khusus Delta Force yang menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro selama operasi militer singkat di Caracas pekan lalu.

Trump mengatakan hanya moralitasnya sendiri yang dapat menghalangi ambisi globalnya. “Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Hanya itu yang bisa menghentikan saya,” kata Trump kepada The New York Times, yang dilansir Jumat (9/1/2026).

“Saya tidak butuh hukum internasional. Saya tidak berniat menyakiti orang lain," katanya lagi.

Baca Juga: AS Serang Venezuela dan Culik Maduro, Ini Hukum Internasional yang Dilanggar

Maduro telah muncul di pengadilan Manhattan, New York, untuk pertama kalinya pada Senin lalu. Dalam kondisi diborgol, dia menegaskan dirinya tidak bersalah.

Presiden 63 tahun yang digulingkan AS itu mengenakan pakaian penjara biru dan oranye. Dia memasuki ruang sidang dikawal oleh marshal AS setelah penangkapannya bersama sang istri; Cilia Flores, yang dramatis seperti adegan film Hollywood pada Sabtu pekan lalu.

Dia menyampaikan pernyataan ketidakbersalahannya ketika hakim federal berusia 92 tahun, Alvin Hellerstein, memintanya untuk mengonfirmasi identitasnya.

“Saya presiden Republik Venezuela. Saya di sini diculik. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela,” kata Maduro dalam bahasa Spanyol sembari mengenakan headphone hitam untuk terjemahannya sebelum hakim menghentikan pernyataannya.

“Izinkan saya intervensi—akan ada waktu dan tempat untuk membahas semua ini," sela hakim.

“Pengacara Anda akan dapat mengajukan mosi. Saat ini, saya hanya ingin tahu satu hal: Apakah Anda Nicolás Maduro Moros?” tanya hakim.

Maduro menjawab, “Saya Nicolas Maduro Moros.”

Hakim tersebut, yang diangkat oleh mantan Presiden Bill Clinton, kemudian memberi tahu Maduro tentang hak-haknya, termasuk bahwa dia tidak harus berbicara dan bahwa dia dapat memiliki pengacara yang ditunjuk pengadilan jika dia tidak mampu membayar pengacara swasta.

Di pengadilan bersama Maduro adalah pengacara ulung Barry Pollack, yang terkenal karena menegosiasikan pembebasan pendiri WikiLeaks Julian Assange pada tahun 2024 dan membantu mewakili warga Venezuela yang sedang menghadapi masalah.

Dia mengisyaratkan bahwa pembelaanya akan mempertanyakan legalitas tindakan AS untuk menangkap Maduro sejak awal.

Ketika ditanya kemudian tentang pembelaannya atas berbagai tuduhan, Maduro menyatakan: "Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya adalah pria yang baik, presiden negara saya."

Maduro, ketika ditanya oleh Hellerstein apakah dia menyadari hak-haknya, menjawab, “Saya tidak mengetahui hak-hak ini.”

“Yang Mulia sedang memberi tahu saya tentang hal itu sekarang,” lanjut Maduro.

Hakim kemudian secara resmi mendakwa Maduro atas tuduhan terhadapnya, termasuk berbagai pelanggaran terorisme narkotika dan kepemilkan senjata ilegal yang dapat berujung pada hukuman mati.

Maduro dan istrinya didakwa bekerja sama dengan kartel narkoba untuk mengirimkan ribuan ton kokain ke AS selama lebih dari 20 tahun, antara tahun 1999 hingga 2025. Maduro juga didakwa dengan terorisme narkotika karena diduga bekerja sama dengan kelompok teror, dan keduanya didakwa secara terpisah dengan “konspirasi impor kokain".

Selain itu, Maduro dan Flores didakwa memiliki senapan mesin dan konspirasi untuk memiliki senapan mesin. Dakwaan setebal 25 halaman yang dibuka pada hari Sabtu berisi beberapa detail tambahan tentang tuduhan dalam kasus tersebut, yang menyatakan: "Maduro dan istrinya memerintahkan penculikan, pemukulan, dan pembunuhan terhadap orang-orang yang berutang uang narkoba kepada mereka atau dengan cara lain merusak operasi perdagangan narkoba mereka.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Sesumbar Siap Fasilitasi...
AS Sesumbar Siap Fasilitasi Iran jika Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 3 Tewas Tertimpa Reruntuhan, Pemerintah Tetapkan Status Darurat
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Harry Kane Pecahkan...
Harry Kane Pecahkan Rekor Gary Lineker di Piala Dunia
Jejak Perang yang Diabadikan...
Jejak Perang yang Diabadikan dalam Al Quran, Apa Saja?
Sejarah! Kongo Tundukkan...
Sejarah! Kongo Tundukkan Uzbekistan Lewat Laga Dramatis dan Tantang Inggris di 32 Besar
Berita Terkini
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved