Trump Bicara dengan Presiden Kolombia di Tengah Ketegangan Diplomatik Berpotensi Perang
Kamis, 08 Januari 2026 - 19:30 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro. Foto/msn
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berbicara melalui telepon dengan Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang sebelumnya ia tuduh terlibat perdagangan narkoba dan diancam dengan invasi.
Keduanya menunjukkan sikap damai setelah perang kata-kata yang kembali memanas menyusul penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan komando AS selama penggerebekan di Caracas akhir pekan lalu.
“Merupakan suatu kehormatan besar untuk berbicara dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro, yang menelepon untuk menjelaskan situasi narkoba dan perbedaan pendapat lain yang telah kita alami,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada hari Rabu (7/1/2026).
“Saya menghargai telepon dan nadanya, dan berharap dapat bertemu dengannya dalam waktu dekat,” tulis Trump.
Ia menambahkan kedua pihak sedang berupaya mengatur kunjungan pemimpin sayap kiri Kolombia itu ke Gedung Putih.
Petro mengatakan dalam rapat umum di Bogota bahwa ia dan Trump telah berbicara untuk pertama kalinya sejak ia terpilih sebagai presiden pada tahun 2022.
“Saya meminta agar komunikasi langsung dipulihkan antara para menteri luar negeri dan presiden. Jika tidak ada dialog, maka akan ada perang,” kata Petro.
Presiden Kolombia itu kemudian menulis di X bahwa ia dan Trump memiliki “perbedaan pendapat mengenai visinya tentang hubungan AS dengan Amerika Latin.”
Ia mengatakan bahwa ia telah mengusulkan agar AS berinvestasi dalam proyek energi bersih di wilayah tersebut daripada mencari akses ke cadangan minyak.
“Menggunakan Amerika Latin semata-mata untuk minyak akan menyebabkan kehancuran hukum internasional dan, pada akhirnya, barbarisme dan Perang Dunia III,” tulis Petro, menambahkan usulannya didasarkan pada “perdamaian, kehidupan, dan demokrasi global.”
Trump menjatuhkan sanksi kepada Petro tahun lalu dan mencabut visanya setelah pemimpin Kolombia itu mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan AS yang “barbar” terhadap kapal-kapal yang diduga milik kartel di Karibia.
Petro berpendapat Pentagon menargetkan nelayan biasa, yang kemudian ditanggapi Trump dengan menyebut Petro sebagai “pemimpin narkoba ilegal.”
Dalam unggahan panjang di X awal pekan ini, Petro menulis memerangi kartel adalah prioritas utamanya dan, sebagai presiden, ia telah "memerintahkan penyitaan kokain terbesar dalam sejarah dunia."
Ia bersumpah membela negaranya, mengatakan tentara Kolombia akan "menembak para penjajah."
Petro menggambarkan serangan AS untuk menangkap Maduro sebagai pelanggaran kedaulatan Venezuela yang "mengerikan".
Operasi tersebut telah dikutuk beberapa negara Amerika Selatan lainnya, serta Rusia dan China.
Maduro dan Flores dibawa ke pengadilan AS di New York pada hari Senin, di mana mereka mengaku tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba dan senjata.
Baca juga: Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Kolombia Menentang Imperialisme AS
Keduanya menunjukkan sikap damai setelah perang kata-kata yang kembali memanas menyusul penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan komando AS selama penggerebekan di Caracas akhir pekan lalu.
“Merupakan suatu kehormatan besar untuk berbicara dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro, yang menelepon untuk menjelaskan situasi narkoba dan perbedaan pendapat lain yang telah kita alami,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada hari Rabu (7/1/2026).
“Saya menghargai telepon dan nadanya, dan berharap dapat bertemu dengannya dalam waktu dekat,” tulis Trump.
Ia menambahkan kedua pihak sedang berupaya mengatur kunjungan pemimpin sayap kiri Kolombia itu ke Gedung Putih.
Petro mengatakan dalam rapat umum di Bogota bahwa ia dan Trump telah berbicara untuk pertama kalinya sejak ia terpilih sebagai presiden pada tahun 2022.
“Saya meminta agar komunikasi langsung dipulihkan antara para menteri luar negeri dan presiden. Jika tidak ada dialog, maka akan ada perang,” kata Petro.
Presiden Kolombia itu kemudian menulis di X bahwa ia dan Trump memiliki “perbedaan pendapat mengenai visinya tentang hubungan AS dengan Amerika Latin.”
Ia mengatakan bahwa ia telah mengusulkan agar AS berinvestasi dalam proyek energi bersih di wilayah tersebut daripada mencari akses ke cadangan minyak.
“Menggunakan Amerika Latin semata-mata untuk minyak akan menyebabkan kehancuran hukum internasional dan, pada akhirnya, barbarisme dan Perang Dunia III,” tulis Petro, menambahkan usulannya didasarkan pada “perdamaian, kehidupan, dan demokrasi global.”
Trump menjatuhkan sanksi kepada Petro tahun lalu dan mencabut visanya setelah pemimpin Kolombia itu mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan AS yang “barbar” terhadap kapal-kapal yang diduga milik kartel di Karibia.
Petro berpendapat Pentagon menargetkan nelayan biasa, yang kemudian ditanggapi Trump dengan menyebut Petro sebagai “pemimpin narkoba ilegal.”
Dalam unggahan panjang di X awal pekan ini, Petro menulis memerangi kartel adalah prioritas utamanya dan, sebagai presiden, ia telah "memerintahkan penyitaan kokain terbesar dalam sejarah dunia."
Ia bersumpah membela negaranya, mengatakan tentara Kolombia akan "menembak para penjajah."
Petro menggambarkan serangan AS untuk menangkap Maduro sebagai pelanggaran kedaulatan Venezuela yang "mengerikan".
Operasi tersebut telah dikutuk beberapa negara Amerika Selatan lainnya, serta Rusia dan China.
Maduro dan Flores dibawa ke pengadilan AS di New York pada hari Senin, di mana mereka mengaku tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba dan senjata.
Baca juga: Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Kolombia Menentang Imperialisme AS
(sya)
Lihat Juga :