Rusia Didesak Balas Tenggelamkan Kapal-kapal AS, Bisa Picu Perang Dunia III

Kamis, 08 Januari 2026 - 07:23 WIB
loading...
Rusia Didesak Balas...
Rusia didesak balas tenggelamkan kapal-kapal AS setelah pasukan khusus Washington merampas kapal tanker minyak Moskow. Foto/Layanan Pers Kepresidenan Rusia/TASS
A A A
MOSKOW - Tindakan pasukan khusus Amerika Serikat (AS) menyita atau merampas kapal tanker minyak Rusia yang diduga terkait dengan Venezuela pada hari Rabu telah membuat situasi memanas. Moskow sekarang didesak untuk membalas dengan menenggalamkan beberapa kapal Washington.

Desakan ini disampaikan Aleksey Zhuravlyov, wakil kepala pertama komite pertahanan Duma Negara Rusia. Dia bahkan menyarankan pengerahan senjata nuklir sebagai respons, sesuai dengan doktrin militer Rusia.

Zhuravlyov menyamakan penyitaan kapal Marinera, yang sebelumnya bernama Bella 1, dengan serangan terhadap wilayah Rusia karena kapal tersebut mengibarkan bendera Rusia.

Baca Juga: Pasukan Khusus AS Rampas Kapal Tanker Minyak Rusia, Moskow Marah

"Kita perlu memberikan respons militer: serang dengan torpedo atau tenggelamkan beberapa kapal Amerika," seru politisi Moskow tersebut, seperti dikutip dari express.co.uk, Kamis (8/1/2026).

"Ini tidak lebih dari pembajakan: penyitaan kapal sipil oleh Angkatan Laut AS yang bersenjata," paparnya.

"Pada dasarnya sama dengan serangan terhadap wilayah Rusia, karena kapal tanker tersebut mengibarkan bendera nasional kita," lanjut Zhuravlyov.

"Tidak diragukan lagi bahwa kita harus merespons dengan tegas dan cepat—doktrin militer kita bahkan membayangkan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan semacam itu," imbuh dia.

"Terutama karena, menurut informasi yang tersedia, sebuah kapal selam Rusia dan beberapa kapal militer Rusia lainnya berada di suatu tempat di dekat kapal tersebut."

Kementerian Transportasi Rusia mengecam tindakan AS, yang dalam operasi penyitaan kapal itu didukung oleh Inggris.

"Tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar dengan benar di yurisdiksi negara lain," katanya.

Sekadar diketahui, serangan terhadap kapal-kapal AS oleh Rusia dapat menyeret seluruh aliansi militer Barat ke Perang Dunia III, karena Pasal 5 NATO menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota aliansi dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.

Kapal Marinera telah berada di bawah pengawasan sejak bulan lalu, ketika Penjaga Pantai AS mencoba menaikinya di Karibia setelah memperoleh surat perintah atas dugaan pelanggaran sanksi AS dan klaim bahwa kapal tersebut telah mengangkut minyak Iran.

Operasi tersebut gagal ketika kapal tiba-tiba mengubah haluan, mengubah namanya, dan mengganti benderanya dari Guyana ke Rusia.

Pergerakannya menuju Eropa telah dicegah oleh pengerahan pasukan dari sekitar 10 pesawat angkut dan helikopter AS sebelum kapal itu dinaiki.

Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi bahwa pasukan Inggris mendukung penyitaan kapal Marinera.

"Inggris telah memberikan dukungan kepada Amerika Serikat atas permintaan mereka untuk mencegat kapal Bella 1 hari ini," kata kementerian itu pada Rabu.

"Angkatan Bersenjata Inggris memberikan dukungan operasional yang telah direncanakan sebelumnya, termasuk pangkalan, kepada aset militer AS yang mencegat Bella 1 di celah Inggris-Islandia-Greenland setelah permintaan bantuan dari AS," paparnya.

"RFA Tideforce memberikan dukungan untuk pasukan AS yang mengejar dan mencegat Bella 1, sementara RAF memberikan dukungan pengawasan dari udara."

"Hubungan pertahanan dan keamanan Inggris dan AS adalah yang terdalam di dunia dan Inggris memberikan dukungan yang memungkinkan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional," kata kementerian tersebut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Kemlu Pastikan 3 WNI...
Kemlu Pastikan 3 WNI di Venezuela Aman Pascagempa Dahsyat M7,1
Gempa M7,2 di Jepang:...
Gempa M7,2 di Jepang: Gedung-Gedung di Tokyo Berguncang, Korban Nihil
Rekomendasi
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Nyaris Kaya Mendadak,...
Nyaris Kaya Mendadak, Driver Ojol Tak Menyangka Temuan Ini Disebut Jeratan Gaib
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
Berita Terkini
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Infografis
5 Titik Rawan Perang...
5 Titik Rawan Perang Dunia III pada Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved