Program 'Visit Nepal Year' China Gagal Hidupkan Pariwisata Nepal

Selasa, 06 Januari 2026 - 10:58 WIB
loading...
Program Visit Nepal...
Program Visit Nepal Year in China dengan janji mendatangkan 500.000 wisatawan China ke Nepal gagal tercapai. Sebaliknya, kunjungan wisatawan justru menyusut. Foto/Kathmandu Post
A A A
JAKARTA - Pada Juni 2024, dalam putaran ke-16 mekanisme konsultasi diplomatik Nepal–China di Kathmandu, Beijing menyatakan komitmen untuk mempromosikan Nepal sebagai destinasi utama wisatawan China dan menetapkan 2025 sebagai Visit Nepal Year in China.

Secara informal, para pejabat senior China bahkan menjanjikan kedatangan setidaknya 500.000 wisatawan China. Namun realitas berbicara sebaliknya. Di balik gemuruh diplomasi, kunjungan wisatawan China justru mencatat pertumbuhan negatif.

Sepanjang 2025, Nepal hanya menerima sedikit di atas 1 juta wisatawan internasional, untuk ketiga kalinya sejak pandemi, dengan pertumbuhan tahunan tipis sekitar 1 persen. Harapan bahwa dorongan Beijing akan menjadi suntikan vital bagi sektor pariwisata Nepal yang rapuh perlahan memudar.

Baca Juga: Proyek China di Nepal Berulang Kali Terseret Korupsi, Ada Apa?

Data Nepal Tourism Board menunjukkan kedatangan wisatawan China turun 6,3 persen secara tahunan menjadi 95.480 orang. Angka ini jauh dari ekspektasi yang dibangun setahun sebelumnya.

“Apa yang salah sebenarnya jelas,” kata Mani Raj Lamichhane, Direktur Nepal Tourism Board.

“Segmen pemasaran dan promosi dirancang dengan buruk. Kami memang melakukan promosi di berbagai kota di China, tetapi gagal menciptakan permintaan,” sambungnya, dikutip dari The Kathmandu Post, Selasa (6/1/2026).

Diplomasi Budaya yang Tak Berujung Dampak


Pada Desember 2024, Nepal dan China menerbitkan pernyataan bersama untuk mendukung berbagai inisiatif promosi pariwisata, mulai dari festival budaya hingga ajang olahraga dan film. Namun sebagian agenda tersebut batal menyusul gelombang protes Gen Z pada September.

Upaya konektivitas pun tak bertahan lama. Pada Maret 2025, Dewan Pariwisata Pokhara bekerja sama dengan Sichuan Airlines membuka penerbangan carter Chengdu–Pokhara.

Penerbangan perdana membawa 128 penumpang dari Sichuan, tetapi tingkat keterisian anjlok menjadi rata-rata 50–55 penumpang per penerbangan. Setelah tujuh hingga delapan penerbangan, layanan dihentikan.

“Operator di China mengatakan tidak ada permintaan untuk Nepal di pasar mereka,” ujar Lamichhane.

Naik–Turun Wisatawan China: Sejarah yang Berulang


Kunjungan wisatawan China ke Nepal pertama kali melampaui 100.000 orang pada 2013, didorong perbaikan konektivitas udara. Pada 2019—tahun kunjungan Presiden Xi Jinping ke Nepal—angka tersebut mencapai rekor 169.543 wisatawan.

Namun pandemi Covid-19 menghantam keras. Kedatangan wisatawan China anjlok menjadi 19.257 pada 2020 dan tetap nyaris nol hingga 2022 akibat kebijakan pembatasan perjalanan Beijing. Baru pada Maret 2023 China kembali mengizinkan warganya bepergian ke Nepal, menghasilkan 60.878 kunjungan tahun itu.

Meski demikian, pemulihan berjalan lambat. Tren pemesanan awal 2026 tetap lemah—sebuah indikasi bahwa label Visit Nepal Year in China gagal diterjemahkan menjadi permintaan riil.

Tekanan dari Dalam Negeri dan Regional


China bukan satu-satunya pasar yang menyusut. Wisatawan dari India—sumber terbesar Nepal—turun 8 persen menjadi 292.438 orang, meski India tetap kontributor utama. Penurunan terjadi di tengah pembukaan kembali Tibet bagi peziarah India untuk Kailash Manasarovar Yatra setelah larangan lima tahun.

Serangkaian kecelakaan transportasi, lonjakan tarif penerbangan, serta penutupan harian Tribhuvan International Airport selama 10 jam sejak November 2024 menambah tekanan. Ketimpangan pasokan–permintaan membuat harga tiket melonjak hingga empat kali lipat ke sejumlah destinasi, memicu pembatalan perjalanan.

Puncaknya terjadi pada musim gugur 2025, ketika protes antikorupsi yang dipimpin generasi muda meletus. Kerusuhan menewaskan 77 orang, membakar gedung pemerintah dan hotel-hotel mewah, serta menggulingkan pemerintahan hanya dalam 24 jam—tepat saat musim puncak pariwisata dimulai.

World Bank memperkirakan gejolak tersebut akan membatasi pertumbuhan ekonomi Nepal di 2,1 persen pada tahun fiskal yang berakhir pertengahan Juli 2026.

Upaya Menenangkan Pasar


Merespons krisis kepercayaan, Nepal Tourism Board kembali mengaktifkan kampanye digital #NowInNepal, #NepalNow, dan WE ARE IN NEPAL NOW, strategi yang pernah digunakan pascagempa 2015 dan selama pandemi. Otoritas juga menyiarkan langsung destinasi wisata utama di Lembah Kathmandu untuk meyakinkan mitra internasional.

Hasilnya masih terbatas. Nepal mencatat 1,15 juta wisatawan pada 2025, atau naik hanya 1 persen dari 2024, dan angka ini masih di bawah puncak pra-pandemi 1,2 juta kunjungan.

Pelajaran dari Kegagalan


Kisah Visit Nepal Year in China menegaskan satu pelajaran penting: diplomasi simbolik dan janji politik tidak otomatis menciptakan permintaan wisata. Tanpa stabilitas domestik, konektivitas berkelanjutan, dan pemasaran berbasis pasar, komitmen tingkat tinggi hanya berakhir sebagai retorika.

Bagi Nepal, kegagalan ini bukan sekadar statistik pariwisata, melainkan cermin rapuhnya ekonomi yang terlalu bergantung pada faktor eksternal dan momentum politik, bukan fondasi permintaan yang nyata.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Menkeu Purbaya Raih...
Menkeu Purbaya Raih Gelar Profesor Kehormatan Bidang Ekonomi dari Nankai University
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Status Triliuner Elon...
Status Triliuner Elon Musk Hilang usai Saham SpaceX dan Tesla Anjlok
Rekomendasi
IHSG Sesi Siang Berbalik...
IHSG Sesi Siang Berbalik Meroket 2,69% Tembus Level 6.041
Menekraf Teuku Riefky...
Menekraf Teuku Riefky Dorong Musisi Lokal Eksis di Panggung Global
Lebih dari 20.000 ATM...
Lebih dari 20.000 ATM Terhubung, Layanan Tarik Tunai Gratis Dorong Inklusi Keuangan Masyarakat
Berita Terkini
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved