Menteri Zionis Ini Desak Israel Larang Azan di Masjid, Dianggap Terlalu Bising
Senin, 29 Desember 2025 - 11:26 WIB
loading...
A
A
A
Fogel menggemakan pernyataan tersebut.
"Seorang muazin yang menggunakan volume suara yang sangat keras bukanlah masalah agama," katanya. "Ini adalah masalah kesehatan masyarakat dan kualitas hidup. Warga tidak dapat terus menderita akibat pelanggaran hukum sistematis," katanya.
Kamal al-Khatib, mantan wakil kepala Gerakan Islam di Israel yang kini dilarang, mengatakan bahwa meskipun ada upaya berulang kali di masa lalu untuk membatasi kumandang azan, RUU saat ini sangat berbahaya karena berupaya mengabadikan larangan tersebut dalam hukum.
Khatib, yang juga seorang imam di sebuah masjid di kota kelahirannya, Kafr Kanna, menggambarkan langkah tersebut sebagai babak lain dalam apa yang disebutnya sebagai perang agama melawan Muslim di Israel.
“Ini terjadi di tengah gelombang fanatisme agama yang telah melanda masyarakat Israel,” katanya kepada MEE.
“Ben Gvir hanyalah salah satu manifestasi dari fanatisme ini. Serangan terhadap masjid—baik melalui pembatasan azan, pelarangan sama sekali, atau pengenaan denda berat—merupakan konfrontasi langsung dengan keyakinan rakyat kita," paparnya.
Dia mengatakan bahwa setiap pembatasan azan harus ditolak secara tegas.
“Azan adalah ritual keagamaan yang sudah ada sebelum Ben Gvir dan sebelum [Perdana Menteri Benjamin] Netanyahu, dan akan tetap ada setelah mereka, insya Allah,” katanya.
"Seorang muazin yang menggunakan volume suara yang sangat keras bukanlah masalah agama," katanya. "Ini adalah masalah kesehatan masyarakat dan kualitas hidup. Warga tidak dapat terus menderita akibat pelanggaran hukum sistematis," katanya.
Kamal al-Khatib, mantan wakil kepala Gerakan Islam di Israel yang kini dilarang, mengatakan bahwa meskipun ada upaya berulang kali di masa lalu untuk membatasi kumandang azan, RUU saat ini sangat berbahaya karena berupaya mengabadikan larangan tersebut dalam hukum.
Khatib, yang juga seorang imam di sebuah masjid di kota kelahirannya, Kafr Kanna, menggambarkan langkah tersebut sebagai babak lain dalam apa yang disebutnya sebagai perang agama melawan Muslim di Israel.
“Ini terjadi di tengah gelombang fanatisme agama yang telah melanda masyarakat Israel,” katanya kepada MEE.
“Ben Gvir hanyalah salah satu manifestasi dari fanatisme ini. Serangan terhadap masjid—baik melalui pembatasan azan, pelarangan sama sekali, atau pengenaan denda berat—merupakan konfrontasi langsung dengan keyakinan rakyat kita," paparnya.
Dia mengatakan bahwa setiap pembatasan azan harus ditolak secara tegas.
“Azan adalah ritual keagamaan yang sudah ada sebelum Ben Gvir dan sebelum [Perdana Menteri Benjamin] Netanyahu, dan akan tetap ada setelah mereka, insya Allah,” katanya.
(mas)
Lihat Juga :