China dan Rusia Dukung Venezuela, Trump Peringatkan Maduro Tidak Bermain Keras
Selasa, 23 Desember 2025 - 18:30 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto/ndtv
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan baru kepada Nicolas Maduro, dengan mengatakan "akan lebih bijaksana" bagi pemimpin Venezuela itu untuk mundur. Peringatan itu muncul saat Washington meningkatkan kampanye tekanan yang menuai kecaman keras dari Rusia dan China.
Berbicara di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida pada hari Senin, didampingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Trump mengisyaratkan ia siap meningkatkan ketegangan lebih lanjut setelah empat bulan tekanan yang meningkat terhadap Caracas.
Ketika ditanya apakah tujuannya adalah untuk memaksa Maduro mundur dari kekuasaan, Trump mengatakan kepada wartawan, “Yah, saya pikir mungkin begitu… Itu terserah dia apa yang ingin dia lakukan. Saya pikir akan bijaksana baginya untuk melakukan itu. Tapi sekali lagi, kita akan mengetahuinya.”
“Jika dia ingin melakukan sesuatu, jika dia bermain keras, itu akan menjadi terakhir kalinya dia bisa bermain keras,” tegas pemimpin AS itu.
Trump melontarkan ancaman terbarunya ketika Penjaga Pantai AS melanjutkan pengejaran terhadap kapal tanker minyak ketiga untuk hari kedua, yang mereka sebut sebagai bagian dari "armada gelap" yang digunakan Venezuela untuk menghindari sanksi AS.
"Kapal itu bergerak maju, dan kita akan menangkapnya," ujar Trump.
Presiden AS juga berjanji mempertahankan kedua kapal dan hampir 4 juta barel minyak Venezuela yang telah disita penjaga pantai sejauh ini.
"Mungkin kita akan menjualnya. Mungkin kita akan menyimpannya. Mungkin kita akan menggunakannya dalam cadangan strategis," papar dia. "Kita akan menyimpannya. Kita juga akan menyimpan kapal-kapal itu."
Sementara itu, Maduro membalas serangan terbaru Trump, dengan mengatakan dalam pidato yang disiarkan di televisi publik bahwa presiden AS akan lebih baik jika ia fokus pada masalah negaranya sendiri daripada mengancam Caracas.
“Ia akan lebih baik berada di negaranya sendiri dalam hal ekonomi dan sosial, dan ia akan lebih baik di dunia jika ia mengurus urusan negaranya,” ungkap Maduro.
Kampanye melawan sektor minyak Venezuela yang sangat penting ini terjadi di tengah peningkatan besar-besaran militer AS di kawasan tersebut dengan misi yang dinyatakan untuk memerangi perdagangan narkoba, serta lebih dari dua lusin serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di Samudra Pasifik dan Laut Karibia dekat negara Amerika Selatan tersebut.
Para kritikus mempertanyakan legalitas serangan tersebut, yang telah menewaskan lebih dari 100 orang.
Tak lama setelah Trump berbicara, militer AS mengatakan telah menewaskan satu orang lagi dalam serangan terhadap satu “kapal berprofil rendah” yang diduga membawa narkoba di perairan internasional di Samudra Pasifik bagian timur.
Venezuela membantah keterlibatannya dalam perdagangan narkoba dan bersikeras Washington berupaya menggulingkan Maduro untuk merebut cadangan minyak negara tersebut, yang merupakan cadangan terbesar di dunia.
Venezuela juga mengutuk penyitaan kapal oleh AS sebagai tindakan “pembajakan internasional”.
Ketegangan yang meningkat ini terjadi sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan pada hari Selasa untuk membahas krisis yang semakin memburuk.
Sesi tersebut ditetapkan atas permintaan Venezuela, yang didukung Rusia dan China.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan "keprihatinan mendalam" atas operasi AS di Karibia dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil, memperingatkan potensi konsekuensi bagi stabilitas regional dan pelayaran internasional.
Moskow "menegaskan kembali dukungan penuh dan solidaritasnya kepada kepemimpinan dan rakyat Venezuela dalam konteks saat ini," menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Baca juga: Hancurkan Tekanan Barat, Indonesia Bersatu dengan Negara-negara Eurasia
Berbicara di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida pada hari Senin, didampingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Trump mengisyaratkan ia siap meningkatkan ketegangan lebih lanjut setelah empat bulan tekanan yang meningkat terhadap Caracas.
Ketika ditanya apakah tujuannya adalah untuk memaksa Maduro mundur dari kekuasaan, Trump mengatakan kepada wartawan, “Yah, saya pikir mungkin begitu… Itu terserah dia apa yang ingin dia lakukan. Saya pikir akan bijaksana baginya untuk melakukan itu. Tapi sekali lagi, kita akan mengetahuinya.”
“Jika dia ingin melakukan sesuatu, jika dia bermain keras, itu akan menjadi terakhir kalinya dia bisa bermain keras,” tegas pemimpin AS itu.
Trump melontarkan ancaman terbarunya ketika Penjaga Pantai AS melanjutkan pengejaran terhadap kapal tanker minyak ketiga untuk hari kedua, yang mereka sebut sebagai bagian dari "armada gelap" yang digunakan Venezuela untuk menghindari sanksi AS.
"Kapal itu bergerak maju, dan kita akan menangkapnya," ujar Trump.
Presiden AS juga berjanji mempertahankan kedua kapal dan hampir 4 juta barel minyak Venezuela yang telah disita penjaga pantai sejauh ini.
"Mungkin kita akan menjualnya. Mungkin kita akan menyimpannya. Mungkin kita akan menggunakannya dalam cadangan strategis," papar dia. "Kita akan menyimpannya. Kita juga akan menyimpan kapal-kapal itu."
Maduro Membalas
Sementara itu, Maduro membalas serangan terbaru Trump, dengan mengatakan dalam pidato yang disiarkan di televisi publik bahwa presiden AS akan lebih baik jika ia fokus pada masalah negaranya sendiri daripada mengancam Caracas.
“Ia akan lebih baik berada di negaranya sendiri dalam hal ekonomi dan sosial, dan ia akan lebih baik di dunia jika ia mengurus urusan negaranya,” ungkap Maduro.
Kampanye melawan sektor minyak Venezuela yang sangat penting ini terjadi di tengah peningkatan besar-besaran militer AS di kawasan tersebut dengan misi yang dinyatakan untuk memerangi perdagangan narkoba, serta lebih dari dua lusin serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di Samudra Pasifik dan Laut Karibia dekat negara Amerika Selatan tersebut.
Para kritikus mempertanyakan legalitas serangan tersebut, yang telah menewaskan lebih dari 100 orang.
Tak lama setelah Trump berbicara, militer AS mengatakan telah menewaskan satu orang lagi dalam serangan terhadap satu “kapal berprofil rendah” yang diduga membawa narkoba di perairan internasional di Samudra Pasifik bagian timur.
Venezuela membantah keterlibatannya dalam perdagangan narkoba dan bersikeras Washington berupaya menggulingkan Maduro untuk merebut cadangan minyak negara tersebut, yang merupakan cadangan terbesar di dunia.
Venezuela juga mengutuk penyitaan kapal oleh AS sebagai tindakan “pembajakan internasional”.
Ketegangan yang meningkat ini terjadi sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan pada hari Selasa untuk membahas krisis yang semakin memburuk.
Sesi tersebut ditetapkan atas permintaan Venezuela, yang didukung Rusia dan China.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan "keprihatinan mendalam" atas operasi AS di Karibia dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil, memperingatkan potensi konsekuensi bagi stabilitas regional dan pelayaran internasional.
Moskow "menegaskan kembali dukungan penuh dan solidaritasnya kepada kepemimpinan dan rakyat Venezuela dalam konteks saat ini," menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Baca juga: Hancurkan Tekanan Barat, Indonesia Bersatu dengan Negara-negara Eurasia
(sya)
Lihat Juga :