China Memuat Lebih dari 100 Rudal Antarbenua Nuklir di Silo Ini, Ada Apa?
Selasa, 23 Desember 2025 - 07:35 WIB
loading...
China telah memuat lebih dari 100 rudal balistik antarbenua DF-31 berhulu ledak nuklir ke dalam tiga lapangan silo di dekat perbatasannya dengan Mongolia. Foto/Planet Labs/CNS
A
A
A
BEIJING - Sebuah draf laporan Pentagon mengungkap bahwa China telah memuat lebih dari 100 rudal balistik antarbenua (ICBM) DF-31 berbahan bakar padat dan berhulu ledak nuklir ke dalam tiga lapangan silo di dekat perbatasannya dengan Mongolia.
Draf laporan tersebut, yang masih dapat berubah, juga menilai bahwa Beijing tidak ingin mengadakan pembicaraan tentang pengendalian senjata, seperti yang diharapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mendorong denuklirisasi dengan Beijing serta Rusia dan Korea Utara.
Apa tujuan sebenarnya China mengerahkan banyak rudal nuklir ke dekat perbatasannya dengan Mongolia itu belum jelas.
Baca Juga: AS Bisa Diam-diam Bawa Senjata Nuklir ke Negara Tetangga Indonesia Meski Dilarang
Kedutaan besar China di Washington DC belum bersedia berkomentar atas laporan Pentagon. Pihak Pentagon juga enggan berkomentar lebih lanjut.
Trump baru-baru ini menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia dan mengancam bahwa AS akan melanjutkan uji coba nuklirnya sendiri. Beijing membantah tuduhan Trump dan mengatakan pihaknya menjunjung tinggi kewajiban internasionalnya tentang non-proliferasi.
Menurut Missile Defense Project di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS), DF-31 adalah rudal tiga tahap berbahan bakar padat dengan perkiraan jangkauan 4.350 hingga 7.270 mil. DF adalah singkatan dari Dong Feng atau Angin Timur, dan juga dikenal dengan sebutan NATO-nya; CSS-10.
Pertama kali dikerahkan pada tahun 2006, rudal itu kini memiliki tiga varian: DF-31 (CSS-10 Mod 1), DF-31A (CSS-10 Mod 2), dan DF-31AG. Rudal-rudal tersebut dapat membawa satu hulu ledak seberat 500 kg, yang menghasilkan daya ledak nuklir 200 hingga 300 kiloton, menurut CSIS.
China sedang berupaya memodernisasi kekuatan nuklirnya. Menurut Bulletin of the Atomic Scientists, selama lima tahun terakhir, China telah secara signifikan memperluas program modernisasi nuklir yang sedang berlangsung dengan mengerahkan lebih banyak jenis dan jumlah senjata nuklir yang lebih besar daripada sebelumnya.
Laporan dari Bulletin of the Atomic Scientists juga memperkirakan bahwa China saat ini memiliki total 600 rudal nuklir, di mana 276 di antaranya memiliki jangkauan antarbenua.
Perkiraan Pentagon dari tahun 2024 memprediksi bahwa China akan melampaui 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030.
"Menganalisis dan memperkirakan kekuatan nuklir China merupakan upaya yang menantang, terutama mengingat relatif kurangnya data yang berasal dari negara dan kontrol ketat terhadap pesan-pesan seputar persenjataan dan doktrin nuklir negara tersebut," tulis Bulletin of the Atomic Scientists dalam laporannya, yang dikutip Newsweek, Selasa (23/12/2025).
"Seperti kebanyakan negara bersenjata nuklir lainnya, China tidak pernah secara terbuka mengungkapkan ukuran persenjataan nuklirnya atau sebagian besar infrastruktur yang mendukungnya," lanjut laporan itu.
"Tingkat ketidaktransparanan relatif ini membuat persenjataan nuklir China sulit untuk dikuantifikasi, terutama mengingat kemungkinan besar ini adalah persenjataan yang tumbuh paling cepat di dunia."
Draf laporan tersebut, yang masih dapat berubah, juga menilai bahwa Beijing tidak ingin mengadakan pembicaraan tentang pengendalian senjata, seperti yang diharapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mendorong denuklirisasi dengan Beijing serta Rusia dan Korea Utara.
Apa tujuan sebenarnya China mengerahkan banyak rudal nuklir ke dekat perbatasannya dengan Mongolia itu belum jelas.
Baca Juga: AS Bisa Diam-diam Bawa Senjata Nuklir ke Negara Tetangga Indonesia Meski Dilarang
Kedutaan besar China di Washington DC belum bersedia berkomentar atas laporan Pentagon. Pihak Pentagon juga enggan berkomentar lebih lanjut.
Trump baru-baru ini menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia dan mengancam bahwa AS akan melanjutkan uji coba nuklirnya sendiri. Beijing membantah tuduhan Trump dan mengatakan pihaknya menjunjung tinggi kewajiban internasionalnya tentang non-proliferasi.
Menurut Missile Defense Project di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS), DF-31 adalah rudal tiga tahap berbahan bakar padat dengan perkiraan jangkauan 4.350 hingga 7.270 mil. DF adalah singkatan dari Dong Feng atau Angin Timur, dan juga dikenal dengan sebutan NATO-nya; CSS-10.
Pertama kali dikerahkan pada tahun 2006, rudal itu kini memiliki tiga varian: DF-31 (CSS-10 Mod 1), DF-31A (CSS-10 Mod 2), dan DF-31AG. Rudal-rudal tersebut dapat membawa satu hulu ledak seberat 500 kg, yang menghasilkan daya ledak nuklir 200 hingga 300 kiloton, menurut CSIS.
China sedang berupaya memodernisasi kekuatan nuklirnya. Menurut Bulletin of the Atomic Scientists, selama lima tahun terakhir, China telah secara signifikan memperluas program modernisasi nuklir yang sedang berlangsung dengan mengerahkan lebih banyak jenis dan jumlah senjata nuklir yang lebih besar daripada sebelumnya.
Laporan dari Bulletin of the Atomic Scientists juga memperkirakan bahwa China saat ini memiliki total 600 rudal nuklir, di mana 276 di antaranya memiliki jangkauan antarbenua.
Perkiraan Pentagon dari tahun 2024 memprediksi bahwa China akan melampaui 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030.
"Menganalisis dan memperkirakan kekuatan nuklir China merupakan upaya yang menantang, terutama mengingat relatif kurangnya data yang berasal dari negara dan kontrol ketat terhadap pesan-pesan seputar persenjataan dan doktrin nuklir negara tersebut," tulis Bulletin of the Atomic Scientists dalam laporannya, yang dikutip Newsweek, Selasa (23/12/2025).
"Seperti kebanyakan negara bersenjata nuklir lainnya, China tidak pernah secara terbuka mengungkapkan ukuran persenjataan nuklirnya atau sebagian besar infrastruktur yang mendukungnya," lanjut laporan itu.
"Tingkat ketidaktransparanan relatif ini membuat persenjataan nuklir China sulit untuk dikuantifikasi, terutama mengingat kemungkinan besar ini adalah persenjataan yang tumbuh paling cepat di dunia."
(mas)
Lihat Juga :