Zelensky Akui Ukraina Tak Mampu Biayai 800.000 Tentaranya, Minta Bantuan Barat
Senin, 22 Desember 2025 - 15:05 WIB
loading...
Presiden Volodymyr Zelensky akui Ukraina tak mampu biayai 800.000 tentara. Untuk itu, dia minta bantuan Barat. Foto/Kementerian Pertahanan Ukraina
A
A
A
KYIV - Presiden Volodymyr Zelensky mengakui Ukraina tidak akan mampu membiayai pemeliharaan tentara berkekuatan 800.000 personel setelah berakhirnya perang melawan invasi Rusia. Untuk itu, dia menginginkan bantuan Barat untuk membantu membiayai militer Kyiv sebagai bagian dari jaminan keamanan pasca-perang.
Pada Januari 2025, Zelensky mengatakan tentara Ukraina berjumlah 880.000 orang. Namun, versi bocoran roadmap perdamaian Amerika Serikat (AS) yang beredar bulan lalu, dia menyerukan agar jumlah tentara itu dibatasi hingga 600.000 orang setelah perang berakhir.
Kyiv dan para pendukungnya di Eropa berpendapat bahwa Ukraina membutuhkan militer yang lebih besar untuk mencegah dugaan ancaman Rusia terhadap Eropa—sebuah klaim yang ditolak Moskow sebagai "omong kosong".
Baca Juga: Prancis Dituduh Khianati Jerman dalam Perang Rusia-Ukraina, Ini Alasannya
Berbicara kepada wartawan pada Sabtu pekan lalu, Zelensky ditanya apakah Kyiv akan mampu mendukung 800.000 prajurit aktif setelah konflik diselesaikan.
“Apakah Ukraina akan mampu membiayai sendiri tentara seperti itu jika ada gencatan senjata? Tidak, tidak akan. Kami tidak memiliki sumber daya keuangan,” kata Zelensky, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (22/12/2025).
“Itulah mengapa saya mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin [Barat], karena saya memandang pendanaan sebagian tentara kami oleh mitra kami sebagai jaminan keamanan," ujarnya.
Para pendukung Kyiv di Eropa telah menghabiskan waktu berminggu-minggu mencari cara untuk mendanai ekonomi dan militer Ukraina yang sedang runtuh.
Pekan lalu, mereka gagal menyetujui "pinjaman reparasi" yang didukung oleh sekitar USD210 miliar aset bank sentral Rusia yang dibekukan untuk menutupi defisit anggaran Ukraina yang besar.
Sebaliknya, para pemimpin Uni Eropa memilih pinjaman bersama, berencana untuk mengumpulkan €90 miliar (USD105 miliar) selama dua tahun ke depan, yang pada akhirnya akan membebankan biaya kepada wajib pajak Eropa.
Pejabat senior Uni Eropa mengatakan kepada Politico bahwa pinjaman tersebut akan menelan biaya €3 miliar per tahun bagi wajib pajak dalam bentuk bunga selama pinjaman tersebut masih berlaku.
Rusia telah lama menuduh blok Eropa pendukung Kyiv memperpanjang konflik melalui sikap agresif mereka dan dukungan keuangan yang berkelanjutan. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Uni Eropa tampaknya "terobsesi untuk menemukan uang untuk melanjutkan perang."
Moskow mengatakan bahwa setiap penyelesaian yang langgeng harus mengatasi akar penyebab konflik, termasuk ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, dan mengakui realitas teritorial yang baru.
Utusan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, berada di Miami untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat senior AS dan menggambarkan hari pertama sebagai "konstruktif", dengan diskusi berlanjut pada hari Minggu.
Pada Januari 2025, Zelensky mengatakan tentara Ukraina berjumlah 880.000 orang. Namun, versi bocoran roadmap perdamaian Amerika Serikat (AS) yang beredar bulan lalu, dia menyerukan agar jumlah tentara itu dibatasi hingga 600.000 orang setelah perang berakhir.
Kyiv dan para pendukungnya di Eropa berpendapat bahwa Ukraina membutuhkan militer yang lebih besar untuk mencegah dugaan ancaman Rusia terhadap Eropa—sebuah klaim yang ditolak Moskow sebagai "omong kosong".
Baca Juga: Prancis Dituduh Khianati Jerman dalam Perang Rusia-Ukraina, Ini Alasannya
Berbicara kepada wartawan pada Sabtu pekan lalu, Zelensky ditanya apakah Kyiv akan mampu mendukung 800.000 prajurit aktif setelah konflik diselesaikan.
“Apakah Ukraina akan mampu membiayai sendiri tentara seperti itu jika ada gencatan senjata? Tidak, tidak akan. Kami tidak memiliki sumber daya keuangan,” kata Zelensky, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (22/12/2025).
“Itulah mengapa saya mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin [Barat], karena saya memandang pendanaan sebagian tentara kami oleh mitra kami sebagai jaminan keamanan," ujarnya.
Para pendukung Kyiv di Eropa telah menghabiskan waktu berminggu-minggu mencari cara untuk mendanai ekonomi dan militer Ukraina yang sedang runtuh.
Pekan lalu, mereka gagal menyetujui "pinjaman reparasi" yang didukung oleh sekitar USD210 miliar aset bank sentral Rusia yang dibekukan untuk menutupi defisit anggaran Ukraina yang besar.
Sebaliknya, para pemimpin Uni Eropa memilih pinjaman bersama, berencana untuk mengumpulkan €90 miliar (USD105 miliar) selama dua tahun ke depan, yang pada akhirnya akan membebankan biaya kepada wajib pajak Eropa.
Pejabat senior Uni Eropa mengatakan kepada Politico bahwa pinjaman tersebut akan menelan biaya €3 miliar per tahun bagi wajib pajak dalam bentuk bunga selama pinjaman tersebut masih berlaku.
Rusia telah lama menuduh blok Eropa pendukung Kyiv memperpanjang konflik melalui sikap agresif mereka dan dukungan keuangan yang berkelanjutan. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Uni Eropa tampaknya "terobsesi untuk menemukan uang untuk melanjutkan perang."
Moskow mengatakan bahwa setiap penyelesaian yang langgeng harus mengatasi akar penyebab konflik, termasuk ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, dan mengakui realitas teritorial yang baru.
Utusan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, berada di Miami untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat senior AS dan menggambarkan hari pertama sebagai "konstruktif", dengan diskusi berlanjut pada hari Minggu.
(mas)
Lihat Juga :