Lautan Manusia Iringi Pemakaman Hadi, Aktivis Bangladesh yang Ditembak Kepalanya
Minggu, 21 Desember 2025 - 10:42 WIB
loading...
Lautan manusia di Dhaka, Bangladesh, iringi pemakaman jenazah aktivis Sharif Osman Hadi. Aktivis tersebut tewas ditembak kepalanya oleh orang-orang bertopeng. Foto/X @arabnewspk
A
A
A
DHAKA - Jalan-jalan di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, berubah menjadi "lautan manusia" ketika puluhan ribu orang mengiringi pemakaman aktivis Sharif Osman Hadi. Aktivis terkenal itu tewas setelah ditembak di bagian kepala oleh orang-orang bertopeng ketika berkampanye untuk pemilu.
Pemakaman jenazah Hadi berlangsung Sabtu kemarin di bawah pengamanan ketat. Itu terjadi setelah dua hari protes kekerasan di berbagai kota.
Hadi adalah pemimpin mahasiswa yang menjadi tokoh kunci dalam pemberontakan pro-demokrasi yang menggulingkan Perdana Menteri Sheikh Hasina tahun lalu. Dia menjadi kandidat dalam pemilu yang akan digelar Februari mendatang.
Baca Juga: Bangladesh Rusuh setelah Pemimpin Mahasiswa Ditembak Mati di Bagian Kepala
Dia ditembak oleh orang-orang bersenjata dan bertopeng pekan lalu saat meninggalkan sebuah masjid di Dhaka, dan meninggal di sebuah rumah sakit di Singapura pada hari Kamis.
“Anda ada di hati kami dan Anda akan tetap berada di hati semua warga Bangladesh selama negara ini masih ada,” kata pemimpin sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, dalam pidato yang emosional di depan gedung Parlemen, tempat salat jenazah diadakan.
Polisi yang mengenakan kamera tubuh dikerahkan di area tersebut, dan bendera dikibarkan setengah tiang untuk menandai hari berkabung nasional.
Jenazah Hadi kemudian dimakamkan di dekat masjid pusat Universitas Dhaka.
Hadi (32) dikenal sebagai kritikus vokal terhadap India, tempat Hasina berlindung sejak melarikan diri dari Dhaka pasca-pemberontakan tahun 2024.
Iqbal Hossain Saikot (34), seorang pegawai pemerintah yang melakukan perjalanan ke ibu kota untuk menghadiri pemakaman, mengatakan kepada AFP bahwa dia percaya Hadi dibunuh karena penentangannya yang teguh terhadap India.
“Jutaan rakyat Bangladesh yang mencintai tanah air dan wilayah kedaulatannya akan meneruskan warisan Hadi," kata Saikot.
Kematian Hadi telah memicu kerusuhan, dengan para pengunjuk rasa di seluruh negara Asia Selatan itu menuntut penangkapan para pelaku.
Polisi Bangladesh mengatakan mereka telah melancarkan perburuan terhadap para pembunuhnya tetapi belum melaporkan kemajuan apa pun.
Saat berita kematian Hadi menyebar pada hari Kamis, orang-orang membakar beberapa bangunan di Dhaka, termasuk kantor surat kabar terkemuka; Prothom Alo dan Daily Star, yang dituduh oleh para kritikus memihak India.
Gedung lembaga budaya dan kediaman mantan menteri juga diserang oleh massa yang mengamuk.
Dipicu sebagian oleh meningkatnya sentimen anti-India di negara mayoritas Muslim ini, kekerasan minggu ini juga menyebabkan seorang pekerja garmen Hindu tewas diamuk massa atas tuduhan penistaan agama.
Yunus mengatakan tujuh tersangka telah ditangkap sehubungan dengan pembunuhan pekerja tersebut, Dipu Chandra Das, di distrik Mymensingh tengah pada hari Kamis.
Kelompok hak asasi manusia, Amnesty International, kemarin menyatakan keprihatinan atas pembunuhan Das, sambil mendesak pemerintah sementara Bangladesh untuk melakukan penyelidikan cepat, menyeluruh, independen, dan tidak memihak atas pembunuhan Hadi dan kekerasan yang terjadi setelahnya.
Partai-partai politik dari berbagai spektrum mengutuk kekerasan dan menyatakan keprihatinan atas ketertiban umum dan keamanan menjelang pemilu—pemilu pertama Bangladesh sejak pemerintahan otokratis Hasina digulingkan.
Partai Nasionalis Bangladesh menuduh "kelompok yang telah lama diidentifikasi"—kemungkinan merujuk pada partai Liga Awami pimpinan Hasina—"berusaha mendorong negara menuju anarki".
Liga Awami telah dilarang untuk mengikuti Pemilu Februari mendatang.
Nahid Islam, koordinator Partai Warga Negara Nasional yang sebagian besar dibentuk oleh mahasiswa yang ikut serta dalam pemberontakan 2024, mengecam pemerintah karena gagal mengendalikan elemen-elemen yang nakal.
"Ada elemen-elemen di dalam pemerintahan yang menentang pemberontakan massa, dan mereka secara aktif beraksi," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Minggu (21/12/2025).
Hubungan antara Bangladesh dan India telah memburuk sejak pemberontakan tersebut, di mana Dhaka menuntut New Delhi untuk mengekstradisi Hasina, yang telah dijatuhi hukuman mati secara in absentia setelah didakwa dengan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hasina (78) mengecam persidangan dan vonisnya, menyebutnya sebagai "pelanggaran keadilan" dan berjanji untuk terus melayani rakyatnya.
Pada protes hari Jumat, seorang mahasiswa berusia 20 tahun mengatakan kepada AFP bahwa dia percaya para pembunuh Hadi juga bersembunyi di India.
Pemakaman jenazah Hadi berlangsung Sabtu kemarin di bawah pengamanan ketat. Itu terjadi setelah dua hari protes kekerasan di berbagai kota.
Hadi adalah pemimpin mahasiswa yang menjadi tokoh kunci dalam pemberontakan pro-demokrasi yang menggulingkan Perdana Menteri Sheikh Hasina tahun lalu. Dia menjadi kandidat dalam pemilu yang akan digelar Februari mendatang.
Baca Juga: Bangladesh Rusuh setelah Pemimpin Mahasiswa Ditembak Mati di Bagian Kepala
Dia ditembak oleh orang-orang bersenjata dan bertopeng pekan lalu saat meninggalkan sebuah masjid di Dhaka, dan meninggal di sebuah rumah sakit di Singapura pada hari Kamis.
“Anda ada di hati kami dan Anda akan tetap berada di hati semua warga Bangladesh selama negara ini masih ada,” kata pemimpin sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, dalam pidato yang emosional di depan gedung Parlemen, tempat salat jenazah diadakan.
Polisi yang mengenakan kamera tubuh dikerahkan di area tersebut, dan bendera dikibarkan setengah tiang untuk menandai hari berkabung nasional.
Jenazah Hadi kemudian dimakamkan di dekat masjid pusat Universitas Dhaka.
Hadi (32) dikenal sebagai kritikus vokal terhadap India, tempat Hasina berlindung sejak melarikan diri dari Dhaka pasca-pemberontakan tahun 2024.
Iqbal Hossain Saikot (34), seorang pegawai pemerintah yang melakukan perjalanan ke ibu kota untuk menghadiri pemakaman, mengatakan kepada AFP bahwa dia percaya Hadi dibunuh karena penentangannya yang teguh terhadap India.
“Jutaan rakyat Bangladesh yang mencintai tanah air dan wilayah kedaulatannya akan meneruskan warisan Hadi," kata Saikot.
Kematian Hadi telah memicu kerusuhan, dengan para pengunjuk rasa di seluruh negara Asia Selatan itu menuntut penangkapan para pelaku.
Polisi Bangladesh mengatakan mereka telah melancarkan perburuan terhadap para pembunuhnya tetapi belum melaporkan kemajuan apa pun.
Saat berita kematian Hadi menyebar pada hari Kamis, orang-orang membakar beberapa bangunan di Dhaka, termasuk kantor surat kabar terkemuka; Prothom Alo dan Daily Star, yang dituduh oleh para kritikus memihak India.
Gedung lembaga budaya dan kediaman mantan menteri juga diserang oleh massa yang mengamuk.
Dipicu sebagian oleh meningkatnya sentimen anti-India di negara mayoritas Muslim ini, kekerasan minggu ini juga menyebabkan seorang pekerja garmen Hindu tewas diamuk massa atas tuduhan penistaan agama.
Yunus mengatakan tujuh tersangka telah ditangkap sehubungan dengan pembunuhan pekerja tersebut, Dipu Chandra Das, di distrik Mymensingh tengah pada hari Kamis.
Kelompok hak asasi manusia, Amnesty International, kemarin menyatakan keprihatinan atas pembunuhan Das, sambil mendesak pemerintah sementara Bangladesh untuk melakukan penyelidikan cepat, menyeluruh, independen, dan tidak memihak atas pembunuhan Hadi dan kekerasan yang terjadi setelahnya.
Partai-partai politik dari berbagai spektrum mengutuk kekerasan dan menyatakan keprihatinan atas ketertiban umum dan keamanan menjelang pemilu—pemilu pertama Bangladesh sejak pemerintahan otokratis Hasina digulingkan.
Partai Nasionalis Bangladesh menuduh "kelompok yang telah lama diidentifikasi"—kemungkinan merujuk pada partai Liga Awami pimpinan Hasina—"berusaha mendorong negara menuju anarki".
Liga Awami telah dilarang untuk mengikuti Pemilu Februari mendatang.
Nahid Islam, koordinator Partai Warga Negara Nasional yang sebagian besar dibentuk oleh mahasiswa yang ikut serta dalam pemberontakan 2024, mengecam pemerintah karena gagal mengendalikan elemen-elemen yang nakal.
"Ada elemen-elemen di dalam pemerintahan yang menentang pemberontakan massa, dan mereka secara aktif beraksi," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Minggu (21/12/2025).
Hubungan antara Bangladesh dan India telah memburuk sejak pemberontakan tersebut, di mana Dhaka menuntut New Delhi untuk mengekstradisi Hasina, yang telah dijatuhi hukuman mati secara in absentia setelah didakwa dengan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hasina (78) mengecam persidangan dan vonisnya, menyebutnya sebagai "pelanggaran keadilan" dan berjanji untuk terus melayani rakyatnya.
Pada protes hari Jumat, seorang mahasiswa berusia 20 tahun mengatakan kepada AFP bahwa dia percaya para pembunuh Hadi juga bersembunyi di India.
(mas)
Lihat Juga :