AS Rampas Kapal Tanker Minyak Kedua di Lepas Pantai Venezuela, Situasi Makin Panas
Minggu, 21 Desember 2025 - 05:24 WIB
loading...
Amerika Serikat merampas kapal tanker minyak kedua di lepas pantai Venezuela. Tindakan ini semakin memanaskan ketegangan kedua negara. Foto/X/@Sec_Noem
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) telah menyita atau merampas kapal tanker minyak kedua di lepas pantai Venezuela pada hari Sabtu waktu Caracas. Tindakan Washington ini semakin memanaskan ketegangan antara kedua negara yang sudah di ambang perang.
Aksi Amerika ini juga meningkatkan tekanan pada Venezuela, hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade "total dan menyeluruh" terhadap pengiriman minyak yang dikenai sanksi secara sepihak.
Baca Juga: Trump Akui AS Berupaya Rebut Minyak dan Tanah dari Venezuela
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengonfirmasi penggerebekan kapal tanker minyak tersebut.
"Dalam aksi subuh dini hari tanggal 20 Desember ini, Penjaga Pantai AS dengan dukungan Departemen Perang menangkap sebuah kapal tanker minyak yang terakhir berlabuh di Venezuela" tulis Noem dalam unggahan video perampasan kapal tersebut.
"Amerika Serikat akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi yang digunakan untuk mendanai teroris narkoba di wilayah tersebut. Kami akan menemukan Anda, dan kami akan menghentikan Anda," lanjut dia.
"Terima kasih kepada para pria dan wanita pemberani kami dari @USCG dan @DeptofWar," imbuh dia mengacu pada Penjaga Pantai AS dan Departemen Perang.
Langkah ini dilakukan di tengah peningkatan kekuatan militer AS di dekat Venezuela dan menyusul perintah Trump awal pekan ini untuk memblokir semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk atau keluar negara tersebut.
Namun, tidak seperti kapal tanker yang disita awal bulan ini, kapal yang dicegat akhir pekan ini tidak berada di bawah sanksi AS dan membawa minyak mentah Venezuela yang menuju Asia, menurut laporan CNN, Minggu (21/12/2025).
Penyitaan tersebut terjadi di perairan internasional dan menandai pencegatan kapal tanker minyak kedua dalam beberapa pekan terakhir. Sejak pencegatan pertama, beberapa kapal dilaporkan tetap berada di perairan Venezuela daripada mengambil risiko disita AS, yang secara tajam mengurangi ekspor minyak mentah Venezuela.
Awal pekan ini, Trump juga menuduh Venezuela "mencuri" aset dan investasi minyak AS, dengan mengatakan Washington "menginginkannya kembali". Kampanye tekanan tersebut mencakup pengerahan Angkatan Laut, penyitaan kapal, dan puluhan serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di dekat Venezuela, yang menurut pejabat AS telah menewaskan lebih dari 100 orang terduga anggota kartel narkoba.
Caracas membantah keterlibatannya dalam penyelundupan narkoba dan mengutuk penyitaan dan blokade tersebut sebagai tindakan pembajakan ilegal, serta memperingatkan bahwa mereka akan mempertahankan kedaulatannya.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuduh Washington berupaya melakukan perubahan rezim untuk mendapatkan kendali atas cadangan minyak negara yang sangat besar.
Rusia dan China juga ikut berkomentar, mendesak pengekangan diri AS. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan dapat menyebabkan "perkembangan yang tidak terduga", sementara Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing menentang "unilateralisme dan intimidasi" dan mendukung hak kedaulatan Venezuela untuk berdagang secara bebas.
AS belum mengesampingkan tindakan lebih lanjut, dengan Trump baru-baru ini mengatakan bahwa serangan darat terhadap Venezuela pun masih menjadi pilihan.
Aksi Amerika ini juga meningkatkan tekanan pada Venezuela, hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade "total dan menyeluruh" terhadap pengiriman minyak yang dikenai sanksi secara sepihak.
Baca Juga: Trump Akui AS Berupaya Rebut Minyak dan Tanah dari Venezuela
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengonfirmasi penggerebekan kapal tanker minyak tersebut.
"Dalam aksi subuh dini hari tanggal 20 Desember ini, Penjaga Pantai AS dengan dukungan Departemen Perang menangkap sebuah kapal tanker minyak yang terakhir berlabuh di Venezuela" tulis Noem dalam unggahan video perampasan kapal tersebut.
"Amerika Serikat akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi yang digunakan untuk mendanai teroris narkoba di wilayah tersebut. Kami akan menemukan Anda, dan kami akan menghentikan Anda," lanjut dia.
"Terima kasih kepada para pria dan wanita pemberani kami dari @USCG dan @DeptofWar," imbuh dia mengacu pada Penjaga Pantai AS dan Departemen Perang.
Langkah ini dilakukan di tengah peningkatan kekuatan militer AS di dekat Venezuela dan menyusul perintah Trump awal pekan ini untuk memblokir semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk atau keluar negara tersebut.
Namun, tidak seperti kapal tanker yang disita awal bulan ini, kapal yang dicegat akhir pekan ini tidak berada di bawah sanksi AS dan membawa minyak mentah Venezuela yang menuju Asia, menurut laporan CNN, Minggu (21/12/2025).
Penyitaan tersebut terjadi di perairan internasional dan menandai pencegatan kapal tanker minyak kedua dalam beberapa pekan terakhir. Sejak pencegatan pertama, beberapa kapal dilaporkan tetap berada di perairan Venezuela daripada mengambil risiko disita AS, yang secara tajam mengurangi ekspor minyak mentah Venezuela.
Trump Tuduh Venezuela Mencuri Minyak AS
Awal pekan ini, Trump juga menuduh Venezuela "mencuri" aset dan investasi minyak AS, dengan mengatakan Washington "menginginkannya kembali". Kampanye tekanan tersebut mencakup pengerahan Angkatan Laut, penyitaan kapal, dan puluhan serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di dekat Venezuela, yang menurut pejabat AS telah menewaskan lebih dari 100 orang terduga anggota kartel narkoba.
Caracas membantah keterlibatannya dalam penyelundupan narkoba dan mengutuk penyitaan dan blokade tersebut sebagai tindakan pembajakan ilegal, serta memperingatkan bahwa mereka akan mempertahankan kedaulatannya.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuduh Washington berupaya melakukan perubahan rezim untuk mendapatkan kendali atas cadangan minyak negara yang sangat besar.
Rusia dan China juga ikut berkomentar, mendesak pengekangan diri AS. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan dapat menyebabkan "perkembangan yang tidak terduga", sementara Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing menentang "unilateralisme dan intimidasi" dan mendukung hak kedaulatan Venezuela untuk berdagang secara bebas.
AS belum mengesampingkan tindakan lebih lanjut, dengan Trump baru-baru ini mengatakan bahwa serangan darat terhadap Venezuela pun masih menjadi pilihan.
(mas)
Lihat Juga :