Benarkah Penembakan di Pantai Bondi karena Kelonggoran Hukum Kepemilikan Senjata Api di Australia?

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:40 WIB
loading...
A A A
Mereka yang telah melakukan kejahatan serius yang terkait dengan pelecehan seksual, kekerasan, narkoba, perampokan, "terorisme", kejahatan terorganisir, senjata ilegal, atau penipuan dilarang memegang izin senjata api.

Baca Juga: 10 Hacker Terbaik dan Terpopuler di Dunia, Nomor 6 Dikenal sebagai The Mentor

2. Penembakan Massal Sangat Jarang Terjadi di Australia

Penembakan massal sangat jarang terjadi di Australia, yang secara umum dianggap sebagai negara yang aman.

Pada Indeks Perdamaian Global, yang diproduksi oleh Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP) yang berbasis di Australia, negara ini berada di peringkat ke-18 dari 163 negara.

Pada tahun-tahun setelah disahkannya Perjanjian Senjata Api Nasional tahun 1996, Australia mengalami beberapa insiden penembakan, yang masing-masing mengakibatkan tidak lebih dari tiga korban jiwa.

Pada Oktober 2002, seorang mahasiswa internasional yang diyakini menderita delusi paranoid menembak dan membunuh dua mahasiswa lain di kampus Universitas Monash di Melbourne, Victoria. Ia melukai lima orang lainnya, termasuk seorang dosen. Setelah kejadian ini, undang-undang tentang senjata api menjadi lebih ketat.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah senjata api yang dijual. Tidak jelas mengapa hal ini terjadi, tetapi beberapa laporan mengaitkannya dengan meningkatnya permintaan untuk olahraga berburu.

Namun penembakan massal di Pantai Bondi terjadi hanya dua bulan setelah seorang pria berusia 60 tahun di pinggiran kota Sydney, Croydon Park, menembakkan hingga 50 peluru dari jendelanya ke arah mobil-mobil di jalan yang ramai, melukai satu orang secara kritis, menurut polisi. Empat belas orang lainnya dirawat di tempat kejadian karena syok atau luka ringan, termasuk akibat pecahan kaca dari jendela mobil yang hancur, kata layanan darurat.

Tersangka dalam kasus itu ditangkap setelah polisi menyerbu apartemennya. Namun, polisi mengatakan dia tidak memiliki hubungan dengan kejahatan terorganisir atau organisasi "teror" dan tidak memiliki riwayat penyakit mental. Mereka belum menetapkan motif yang jelas untuk penembakan tersebut.

3. Memperketat Kepemilikan Senjata Api

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pada hari Senin bahwa ia akan membahas pengenalan undang-undang pengendalian senjata yang lebih ketat dengan Kabinet Nasional.

Albanese mengatakan dalam konferensi pers bahwa pemerintah Australia "siap mengambil tindakan apa pun yang diperlukan" dan "termasuk di dalamnya adalah kebutuhan akan undang-undang senjata yang lebih ketat".

Ia menambahkan bahwa ini bisa berarti pembatasan jumlah senjata api yang boleh dimiliki atau digunakan oleh setiap orang, serta peninjauan lisensi yang lebih teratur. Pihak berwenang di Australia saat ini memang melakukan pemeriksaan lisensi senjata api, tetapi di sebagian besar negara bagian dan wilayah, pemeriksaan ini relatif jarang dilakukan kecuali dipicu oleh insiden tertentu atau kekhawatiran yang muncul.

“Lisensi seharusnya tidak berlaku selamanya, dan pemeriksaan, tentu saja, memastikan bahwa mekanisme pengawasan dan keseimbangan tersebut juga diterapkan,” kata Albanese.

Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, mengatakan dalam konferensi pers pada hari Senin: “Ini memang membutuhkan undang-undang. Ini berarti mengajukan rancangan undang-undang ke Parlemen, sehingga lebih sulit untuk mendapatkan senjata-senjata mengerikan yang tidak memiliki kegunaan praktis di masyarakat kita.”

4. Kegagalan dalam Proses Perizinan Kepemilikan Senjata Api

“Sangat wajar untuk bertanya bagaimana pembantaian lain bisa terjadi di Australia, mengingat kita memiliki undang-undang senjata api yang sangat ketat,” kata Samara McPhedran, peneliti utama di Universitas Griffith di Queensland Tenggara, Australia, kepada Al Jazeera.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Rentetan Penembakan...
Rentetan Penembakan Guncang Israel, 1 Tewas, 5 Luka
Australia Sita 100.000...
Australia Sita 100.000 Kecoak Selundupan, Harganya Rp2,5 Miliar
Negara Tetangga Indonesia...
Negara Tetangga Indonesia Ini dan Sekutunya Kembangkan Drone Bawah Laut
Alwi Farhan Juara Australia...
Alwi Farhan Juara Australia Open 2026, Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dan 2 Runner Up
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Perjanjian Damai dengan...
Perjanjian Damai dengan Iran Terancam Batal gegara Israel, Begini Tanggapan AS
Rekomendasi
Tak Ditahan, Roy Suryo...
Tak Ditahan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikenakan Wajib Lapor
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Atur Jabatan Sipil, Usia Pensiun, hingga Rekrutmen Disabilitas
Prancis Favorit, Mbappe...
Prancis Favorit, Mbappe Bidik Rekor Baru saat Hadapi Irak
Berita Terkini
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Infografis
Langgar Gencatan Senjata,...
Langgar Gencatan Senjata, Israel Gelar Serangan Udara di Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved