Trump Janji Akan Balas Dendam karena 2 Tentaranya Tewas di Suriah
Minggu, 14 Desember 2025 - 14:19 WIB
loading...
A
A
A
“Ketahuilah, jika Anda menargetkan warga Amerika—di mana pun di dunia—Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda yang singkat dan penuh kecemasan dengan mengetahui bahwa Amerika Serikat akan memburu Anda, menemukan Anda, dan membunuh Anda tanpa ampun,” tulis Hegseth di X.
Beberapa menit setelah Trump berbicara kepada wartawan, ia mengulangi peringatannya tentang pembalasan dalam sebuah unggahan media sosial, menyebut insiden itu sebagai “serangan ISIS terhadap AS, dan Suriah, di bagian Suriah yang sangat berbahaya, yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh mereka,” dan mengatakan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa “sangat marah dan terganggu oleh serangan ini.”
“Akan ada pembalasan yang sangat serius,” tulis Trump.
ISIS belum secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani mengutuk serangan itu pada hari Sabtu.
“Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban dan kepada pemerintah serta rakyat AS, dan kami berharap para korban luka segera pulih,” tulis al-Shaibani di X.
Pada bulan November, al-Sharaa menjadi kepala negara Suriah pertama yang mengunjungi Gedung Putih, seiring Damaskus berupaya menjalin hubungan yang lebih dekat dengan AS setelah jatuhnya kediktatoran Assad tahun lalu.
“Dia adalah pemimpin yang sangat kuat,” kata Trump kepada wartawan saat itu, menyebut al-Sharaa sebagai “orang tangguh dari tempat yang tangguh.” Kunjungan itu terjadi setelah AS mencabut sebagian sanksi terhadap Suriah awal tahun ini, menandai perubahan besar dalam hubungan antara kedua negara.
Serangan mematikan itu terjadi sebulan setelah Suriah bergabung dengan koalisi pimpinan AS, yang dibentuk pada tahun 2014. Koalisi tersebut telah melakukan operasi militer melawan ISIS di Suriah dan Irak dengan partisipasi dari berbagai negara.
Pasukan AS telah beroperasi selama bertahun-tahun di berbagai lokasi di Suriah, termasuk di garnisun Al-Tanf di provinsi Homs, tempat mereka melatih pasukan mitra Suriah sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas melawan ISIS.
Beberapa menit setelah Trump berbicara kepada wartawan, ia mengulangi peringatannya tentang pembalasan dalam sebuah unggahan media sosial, menyebut insiden itu sebagai “serangan ISIS terhadap AS, dan Suriah, di bagian Suriah yang sangat berbahaya, yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh mereka,” dan mengatakan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa “sangat marah dan terganggu oleh serangan ini.”
“Akan ada pembalasan yang sangat serius,” tulis Trump.
ISIS belum secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani mengutuk serangan itu pada hari Sabtu.
“Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban dan kepada pemerintah serta rakyat AS, dan kami berharap para korban luka segera pulih,” tulis al-Shaibani di X.
Pada bulan November, al-Sharaa menjadi kepala negara Suriah pertama yang mengunjungi Gedung Putih, seiring Damaskus berupaya menjalin hubungan yang lebih dekat dengan AS setelah jatuhnya kediktatoran Assad tahun lalu.
“Dia adalah pemimpin yang sangat kuat,” kata Trump kepada wartawan saat itu, menyebut al-Sharaa sebagai “orang tangguh dari tempat yang tangguh.” Kunjungan itu terjadi setelah AS mencabut sebagian sanksi terhadap Suriah awal tahun ini, menandai perubahan besar dalam hubungan antara kedua negara.
Serangan mematikan itu terjadi sebulan setelah Suriah bergabung dengan koalisi pimpinan AS, yang dibentuk pada tahun 2014. Koalisi tersebut telah melakukan operasi militer melawan ISIS di Suriah dan Irak dengan partisipasi dari berbagai negara.
Pasukan AS telah beroperasi selama bertahun-tahun di berbagai lokasi di Suriah, termasuk di garnisun Al-Tanf di provinsi Homs, tempat mereka melatih pasukan mitra Suriah sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas melawan ISIS.
Lihat Juga :