Sangkal Gencatan Senjata, 4 Tentara Thailand Tewas dalam Perang Sengit Melawan Kamboja

Minggu, 14 Desember 2025 - 07:35 WIB
loading...
Sangkal Gencatan Senjata,...
Thailand akui 4 tentaranya tewas dalam perang sengit melawan Kamboja. Thailand juga membantah telah ada kesepakatan gencatan senjata terbaru. Foto/Royal Thai Navy
A A A
BANGKOK - Sebanyak empat tentara Thailand tewas dalam perang sengit melawan pasukan Kamboja pada hari Sabtu. Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa telah tercapai kesepakatan gencatan senjata dalam konflik terbaru ini.

Pertempuran antara sesama anggota ASEAN ini berakar dari perselisihan berkepanjangan mengenai penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer (500 mil)era kolonial Prancis. Dalam konflik terbaru ini, sekitar setengah juta orang mengungsi di kedua pihak.

Kementerian Pertahanan Thailand mengatakan total 24 orang tewas minggu ini, termasuk empat tentara Thailand.

Baca Juga: Militer Thailand Ngamuk, Bombardir 5 Kasino Kamboja

Masing-masing pihak saling menyalahkan atas kembali berkobarnya konflik, sebelum Trump mengatakan gencatan senjata telah disepakati.

Namun PM Anutin mengatakan, "Trump tidak menyebutkan apakah kita harus melakukan gencatan senjata selama percakapan telepon hari Jumat."

Menurutnya, percakapan telepon itu tidak membahas konflik yang sedang berlangsung antara Thailand dan Kamboja.

Trump sebelumnya memuji percakapan yang sangat baik dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet pada hari Jumat.

“Mereka telah sepakat untuk menghentikan semua penembakan mulai malam ini, dan kembali ke kesepakatan perdamaian awal,” tulis Trump di Truth Social miliknya, mengacu pada kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada Juli lalu.

Amerika Serikat, China, dan Malaysia—sebagai ketua ASEAN—menengahi gencatan senjata pada Juli setelah gelombang kekerasan awal selama lima hari.

Pada bulan Oktober, Trump mendukung deklarasi bersama lanjutan antara Thailand dan Kamboja, menggembar-gemborkan kesepakatan perdagangan baru setelah mereka setuju untuk memperpanjang gencatan senjata mereka.

Namun Thailand menangguhkan perjanjian tersebut pada bulan berikutnya setelah tentara Thailand terluka akibat ranjau darat di perbatasan.

Di Thailand, pengungsi Kanyapat Saopria mengatakan dia tidak “percaya lagi pada Kamboja.”

“Upaya perdamaian terakhir tidak berhasil. Saya tidak tahu apakah yang ini juga akan berhasil,” kata wanita berusia 39 tahun itu kepada AFP, Minggu (14/12/2025).

Di seberang perbatasan, seorang pengungsi Kamboja mengatakan dia sedih karena pertempuran belum berhenti meskipun ada intervensi Trump.

“Saya tidak senang dengan tindakan brutal ini,” kata pengungsi bernama Vy Rina (43) tersebut.

Saling Tuding Serang Warga Sipil


Bangkok dan Phnom Penh saling tuding melakukan serangan terhadap warga sipil, dengan tentara Thailand melaporkan enam orang terluka pada hari Sabtu akibat roket Kamboja.

Sementara itu, Menteri Informasi Kamboja Neth Pheaktra mengatakan pasukan Thailand telah memperluas serangan mereka hingga mencakup infrastruktur sipil dan warga sipil Kamboja.

Seorang juru bicara Angkatan Laut Thailand mengatakan Angkatan Udara berhasil menghancurkan dua jembatan Kamboja yang digunakan untuk mengangkut senjata ke zona konflik.

Di sebuah kamp di Buriram, Thailand, wartawan AFP melihat warga pengungsi menghubungi kerabat mereka di dekat perbatasan yang melaporkan bahwa pertempuran masih berlangsung.

PM Anutin telah berjanji Thailand tak akan menghentikan serangan. "Terus lakukan aksi militer sampai kita tidak lagi merasakan bahaya dan ancaman terhadap tanah dan rakyat kita," katanya.

Setelah panggilan telepon dengan Trump, Anutin mengatakan pihak yang melanggar perjanjian perlu memperbaiki situasi.

Sementara itu, di Kamboja, PM Hun Manet mengatakan bahwa negaranya selalu berpegang pada cara-cara damai untuk penyelesaian sengketa.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Kamboja Targetkan Kerja...
Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Pulau Antartika Australia...
Pulau Antartika Australia Diserang Flu Burung, Ribuan Anak Anjing Laut Mati!
Rekomendasi
Prabowo Panggil John...
Prabowo Panggil John Herdman ke Hambalang, Bahas Roadmap Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
Gelar Unjuk Rasa di...
Gelar Unjuk Rasa di Monas, Ini Pernyataan Sikap BEM Persatuan Indonesia
Polda Metro: Barang...
Polda Metro: Barang Bukti Kasus Roy Suryo Sudah Diuji Lab oleh Lembaga Tersertifikasi
Berita Terkini
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved