China Eksekusi Mati Bankir Bai Tianhui karena Korupsi Rp2,5 Triliun
Kamis, 11 Desember 2025 - 11:45 WIB
loading...
Bai Tianhui, bankir China yang dieksekusi mati karena korupsi lebih dari Rp2,5 triliun. Foto/Weibo via South China Morning Post
A
A
A
BEIJING - China telah mengeksekusi mati Bai Tianhui, mantan bankir senior yang dihukum mati karena korupsi sebesar 1,1 miliar yuan atau lebih dari Rp2,5 triliun. Eksekusi berlangsung pada hari Selasa.
Ini merupakan langkah pembersihan korupsi terbaru pemerintah Presiden China Xi Jinping.
Bai, mantan manajer umum perusahaan manajemen aset China Huarong International Holdings, dieksekusi di kota Tianjin di utara.
Menurut jaksa pengadilan, Bai menyalahgunakan posisinya di perusahaan investasi lepas pantai milik negara antara tahun 2014 hingga 2018, setelah menerima suap dalam jumlah besar yang mencapai 1,1 miliar yuan.
Baca Juga: Mantan Menteri Olahraga China Dihukum Mati karena Korupsi Rp556 Miliar selama 15 Tahun
Dalam sebuah pernyataan, pengadilan mengatakan: “Jumlah suap yang diterima oleh Bai Tianhui sangat besar, keadaan kejahatannya sangat serius dan dampak sosialnya sangat parah.”
Ditambahkan bahwa kejahatan Bai telah merugikan kepentingan negara dan rakyat China sehingga dia harus dihukum berat sesuai hukum yang berlaku.
Mahkamah Agung Rakyat, pengadilan tertinggi China, mengatakan fakta-fakta kasus tersebut jelas dan bukti terhadap Bai konklusif dan cukup, sehingga hukumannya tepat.
Para pejabat tidak merinci bagaimana Bai dieksekusi, tetapi mengatakan bahwa dia diizinkan untuk bertemu dengan kerabat dekatnya sebelumnya.
Pengadilan Tinggi Rakyat Tianjin menguatkan hukuman mati setelah menolak bandingnya pada 24 Februari.
Di China, hukuman mati yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat rendah harus diajukan untuk ditinjau ke Mahkamah Agung Rakyat.
China Huarong International Holdings didirikan untuk menangani kredit macet dari bank-bank milik negara dan berganti nama menjadi China Citic Financial Assets Management setelah penyelamatan yang diatur pemerintah pada tahun 2021.
Perusahaan ini merupakan salah satu dari empat perusahaan yang dibentuk pada tahun 1999 untuk membantu membersihkan tumpukan utang macet yang mencekik sistem perbankan China, dan perusahaan tersebut kemudian berekspansi ke bisnis investasi, pinjaman, dan properti.
Bai adalah eksekutif senior kedua dari perusahaan tersebut yang dieksekusi karena korupsi.
Lai Xiaomin, mantan bos Tianui, dieksekusi pada Januari 2021, sebulan setelah dinyatakan bersalah menerima suap sebesar 1,8 miliar yuan dan menggelapkan lebih dari 25 juta yuan aset publik.
Dia juga dinyatakan bersalah atas bigami setelah hidup bersama seorang wanita "sebagai suami istri dalam jangka waktu lama" di luar pernikahannya dan memiliki anak di luar nikah.
Lembaga pengawas antikorupsi China, Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin, menahan 54 regulator negara, bankir, dan eksekutif keuangan senior dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menurut perhitungan dari South China Morning Post, Kamis (11/12/2025).
Tahun lalu, total 97 eksekutif keuangan senior telah diberhentikan.
Ini merupakan langkah pembersihan korupsi terbaru pemerintah Presiden China Xi Jinping.
Bai, mantan manajer umum perusahaan manajemen aset China Huarong International Holdings, dieksekusi di kota Tianjin di utara.
Menurut jaksa pengadilan, Bai menyalahgunakan posisinya di perusahaan investasi lepas pantai milik negara antara tahun 2014 hingga 2018, setelah menerima suap dalam jumlah besar yang mencapai 1,1 miliar yuan.
Baca Juga: Mantan Menteri Olahraga China Dihukum Mati karena Korupsi Rp556 Miliar selama 15 Tahun
Dalam sebuah pernyataan, pengadilan mengatakan: “Jumlah suap yang diterima oleh Bai Tianhui sangat besar, keadaan kejahatannya sangat serius dan dampak sosialnya sangat parah.”
Ditambahkan bahwa kejahatan Bai telah merugikan kepentingan negara dan rakyat China sehingga dia harus dihukum berat sesuai hukum yang berlaku.
Mahkamah Agung Rakyat, pengadilan tertinggi China, mengatakan fakta-fakta kasus tersebut jelas dan bukti terhadap Bai konklusif dan cukup, sehingga hukumannya tepat.
Para pejabat tidak merinci bagaimana Bai dieksekusi, tetapi mengatakan bahwa dia diizinkan untuk bertemu dengan kerabat dekatnya sebelumnya.
Pengadilan Tinggi Rakyat Tianjin menguatkan hukuman mati setelah menolak bandingnya pada 24 Februari.
Di China, hukuman mati yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat rendah harus diajukan untuk ditinjau ke Mahkamah Agung Rakyat.
China Huarong International Holdings didirikan untuk menangani kredit macet dari bank-bank milik negara dan berganti nama menjadi China Citic Financial Assets Management setelah penyelamatan yang diatur pemerintah pada tahun 2021.
Perusahaan ini merupakan salah satu dari empat perusahaan yang dibentuk pada tahun 1999 untuk membantu membersihkan tumpukan utang macet yang mencekik sistem perbankan China, dan perusahaan tersebut kemudian berekspansi ke bisnis investasi, pinjaman, dan properti.
Bai adalah eksekutif senior kedua dari perusahaan tersebut yang dieksekusi karena korupsi.
Lai Xiaomin, mantan bos Tianui, dieksekusi pada Januari 2021, sebulan setelah dinyatakan bersalah menerima suap sebesar 1,8 miliar yuan dan menggelapkan lebih dari 25 juta yuan aset publik.
Dia juga dinyatakan bersalah atas bigami setelah hidup bersama seorang wanita "sebagai suami istri dalam jangka waktu lama" di luar pernikahannya dan memiliki anak di luar nikah.
Lembaga pengawas antikorupsi China, Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin, menahan 54 regulator negara, bankir, dan eksekutif keuangan senior dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menurut perhitungan dari South China Morning Post, Kamis (11/12/2025).
Tahun lalu, total 97 eksekutif keuangan senior telah diberhentikan.
(mas)
Lihat Juga :