Gelontorkan Jutaan Dolar dan Rekrut 68.000 Milisi, Loyalis Assad Siapkan Pemberontakan
Sabtu, 06 Desember 2025 - 21:50 WIB
loading...
A
A
A
Makhlouf, sepupu keluarga Assad, pernah menggunakan kerajaan bisnisnya untuk mendanai sang diktator selama perang saudara, namun kemudian berselisih dengan kerabatnya yang lebih berkuasa dan berakhir di bawah tahanan rumah selama bertahun-tahun. Ia kini menggambarkan dirinya dalam percakapan dan pesan sebagai sosok mesias yang akan kembali berkuasa setelah mengawali pertempuran terakhir yang apokaliptik.
Hassan dan Makhlouf tidak menanggapi permintaan komentar untuk laporan ini. Bashar dan Maher al-Assad tidak dapat dihubungi. Reuters juga meminta komentar dari saudara-saudara Assad melalui perantara, yang tidak memberikan jawaban.
Dari pengasingan mereka di Moskow, Hassan dan Makhlouf membayangkan Suriah yang terpecah belah, dan masing-masing menginginkan kendali atas wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya Alawi. Keduanya telah menghabiskan jutaan dolar dalam upaya yang saling bersaing untuk membangun kekuatan, demikian temuan Reuters.
Untuk melawan para komplotan tersebut, pemerintah baru Suriah mengerahkan mantan loyalis al-Assad lainnya – seorang teman masa kecil Presiden baru Ahmed al-Sharaa yang menjadi pemimpin paramiliter untuk al-Assad dan kemudian berpindah pihak di tengah perang setelah sang diktator berbalik melawannya. Tugas pria itu, Khaled al-Ahmad, adalah meyakinkan para mantan tentara dan warga sipil Alawi bahwa masa depan mereka terletak pada Suriah yang baru.
“Ini merupakan perpanjangan dari perebutan kekuasaan rezim Assad,” kata Annsar Shahhoud, seorang peneliti yang telah mempelajari kediktatoran tersebut selama lebih dari satu dekade.
“Persaingan ini terus berlanjut, tetapi alih-alih tujuannya untuk menyenangkan Assad, fokusnya adalah menemukan penggantinya dan mengendalikan komunitas Alawi.”
Detail rencana ini didasarkan pada wawancara dengan 48 orang yang mengetahui langsung rencana-rencana yang saling bersaing tersebut. Semuanya berbicara dengan syarat anonim. Reuters juga meninjau catatan keuangan, dokumen operasional, dan pertukaran pesan suara dan teks.
Hassan dan Makhlouf tidak menanggapi permintaan komentar untuk laporan ini. Bashar dan Maher al-Assad tidak dapat dihubungi. Reuters juga meminta komentar dari saudara-saudara Assad melalui perantara, yang tidak memberikan jawaban.
Dari pengasingan mereka di Moskow, Hassan dan Makhlouf membayangkan Suriah yang terpecah belah, dan masing-masing menginginkan kendali atas wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya Alawi. Keduanya telah menghabiskan jutaan dolar dalam upaya yang saling bersaing untuk membangun kekuatan, demikian temuan Reuters.
Untuk melawan para komplotan tersebut, pemerintah baru Suriah mengerahkan mantan loyalis al-Assad lainnya – seorang teman masa kecil Presiden baru Ahmed al-Sharaa yang menjadi pemimpin paramiliter untuk al-Assad dan kemudian berpindah pihak di tengah perang setelah sang diktator berbalik melawannya. Tugas pria itu, Khaled al-Ahmad, adalah meyakinkan para mantan tentara dan warga sipil Alawi bahwa masa depan mereka terletak pada Suriah yang baru.
“Ini merupakan perpanjangan dari perebutan kekuasaan rezim Assad,” kata Annsar Shahhoud, seorang peneliti yang telah mempelajari kediktatoran tersebut selama lebih dari satu dekade.
“Persaingan ini terus berlanjut, tetapi alih-alih tujuannya untuk menyenangkan Assad, fokusnya adalah menemukan penggantinya dan mengendalikan komunitas Alawi.”
Detail rencana ini didasarkan pada wawancara dengan 48 orang yang mengetahui langsung rencana-rencana yang saling bersaing tersebut. Semuanya berbicara dengan syarat anonim. Reuters juga meninjau catatan keuangan, dokumen operasional, dan pertukaran pesan suara dan teks.
Lihat Juga :