Jenderal Israel Ini Bos Baru Mossad, Belum Pernah Kerja di Bidang Intelijen
Jum'at, 05 Desember 2025 - 07:59 WIB
loading...
Roman Gofman (kiri), jenderal Israel tanpa pengalaman intelijen, ditunjuk jadi bos baru Mossad yang mulai menjabat Juni 2026. Foto/X @IsraeliPM
A
A
A
TEL AVIV - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pada hari Kamis memilih sekretaris militernya, seorang jenderal tanpa latar belakang intelijen, sebagai kepala badan intelijen luar negeri; Mossad, berikutnya.
Dalam sebuah pernyataan, kantor Netanyahu mengumumkan keputusan untuk menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai bos baru Mossad. Kantor itu mengatakan Gofman akan menggantikan kepala Mossad saat ini, David Barnea, yang masa jabatan lima tahunnya berakhir pada Juni 2026.
Gofman lahir di Belarusia pada tahun 1976 dan pindah ke Israel pada usia 14 tahun. Dia bergabung dengan korps lapis baja militer pada tahun 1995 dan meniti karier militer yang panjang.
Baca Juga: Eks Bos Mossad: Agen Intelijen Israel Beroperasi di Dalam Negeri Iran
Pada awal perang Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, Gofman adalah seorang komandan pusat pelatihan infanteri nasional.
Dia terluka parah pada 7 Oktober dalam bentrokan dengan militan Hamas di Sderot, sebuah kota di Israel selatan dekat perbatasan Gaza.
Gofman kemudian bergabung dengan kabinet Netanyahu pada April 2024.
Setelah menunjuk seorang anggota militer dari gerakan Zionis religius Israel, David Zini, sebagai kepala badan keamanan domestik; Shin Bet, Netanyahu kembali menunjuk seseorang yang dekat dengan ide-ide nasionalisnya untuk mengepalai salah satu badan utama Israel.
Meskipun Gofman tidak mengenakan yarmulke seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi religius yang taat, dia belajar di yeshiva Ely, sebuah sekolah agama Yahudi yang terletak di sebuah permukiman di Tepi Barat yang diduduki dan dikenal karena posisi Zionis religius sayap kanannya.
Seperti Zini, Gofman tidak berasal dari badan yang akan dipimpinnya, meskipun pengangkatannya tidak menimbulkan kontroversi politik yang menyusul pencalonan kepala Shin Bet tersebut.
Uri Misgav, seorang kolumnis untuk surat kabar Haaretz, adalah salah satu dari sedikit suara yang mengkritik pengangkatan tersebut, menyebut Gofman "tidak layak untuk memimpin Mossad" karena kurangnya pengalamannya di bidang intelijen.
Sedangkan bagi David Zini, faktor utama penunjukan Gofman adalah loyalitasnya kepada Netanyahu, imbuh Misgav.
"Gofman adalah seorang perwira yang sangat berjasa," demikian pernyataan kantor Netanyahu, seraya menambahkan bahwa penunjukannya di masa perang sebagai sekretaris militer perdana menteri "membuktikan kemampuan profesionalnya yang luar biasa".
Sebagai salah satu badan intelijen terbaik di dunia, Mossad dianggap tidak mengalami kegagalan intelijen akibat serangan 7 Oktober karena wilayah Palestina secara tradisional berada di luar jangkauan operasinya.
Namun, para kepala badan Shin Bet dan Aman (intelijen militer) mengundurkan diri setelah mengakui tanggung jawab mereka atas kegagalan tersebut.
Mossad tampil menonjol di mata Israel dalam perang multi-front yang telah berlangsung sejak 7 Oktober.
Mossad berkontribusi pada terbunuhnya staf umum kelompok militan Hizbullah Lebanon pada tahun 2024 dan angkatan bersenjata Iran selama perang 12 hari yang dilancarkan Israel melawan Teheran pada bulan Juni.
Dalam sebuah pernyataan, kantor Netanyahu mengumumkan keputusan untuk menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai bos baru Mossad. Kantor itu mengatakan Gofman akan menggantikan kepala Mossad saat ini, David Barnea, yang masa jabatan lima tahunnya berakhir pada Juni 2026.
Gofman lahir di Belarusia pada tahun 1976 dan pindah ke Israel pada usia 14 tahun. Dia bergabung dengan korps lapis baja militer pada tahun 1995 dan meniti karier militer yang panjang.
Baca Juga: Eks Bos Mossad: Agen Intelijen Israel Beroperasi di Dalam Negeri Iran
Pada awal perang Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, Gofman adalah seorang komandan pusat pelatihan infanteri nasional.
Dia terluka parah pada 7 Oktober dalam bentrokan dengan militan Hamas di Sderot, sebuah kota di Israel selatan dekat perbatasan Gaza.
Gofman kemudian bergabung dengan kabinet Netanyahu pada April 2024.
Setelah menunjuk seorang anggota militer dari gerakan Zionis religius Israel, David Zini, sebagai kepala badan keamanan domestik; Shin Bet, Netanyahu kembali menunjuk seseorang yang dekat dengan ide-ide nasionalisnya untuk mengepalai salah satu badan utama Israel.
Meskipun Gofman tidak mengenakan yarmulke seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi religius yang taat, dia belajar di yeshiva Ely, sebuah sekolah agama Yahudi yang terletak di sebuah permukiman di Tepi Barat yang diduduki dan dikenal karena posisi Zionis religius sayap kanannya.
Seperti Zini, Gofman tidak berasal dari badan yang akan dipimpinnya, meskipun pengangkatannya tidak menimbulkan kontroversi politik yang menyusul pencalonan kepala Shin Bet tersebut.
Uri Misgav, seorang kolumnis untuk surat kabar Haaretz, adalah salah satu dari sedikit suara yang mengkritik pengangkatan tersebut, menyebut Gofman "tidak layak untuk memimpin Mossad" karena kurangnya pengalamannya di bidang intelijen.
Sedangkan bagi David Zini, faktor utama penunjukan Gofman adalah loyalitasnya kepada Netanyahu, imbuh Misgav.
"Gofman adalah seorang perwira yang sangat berjasa," demikian pernyataan kantor Netanyahu, seraya menambahkan bahwa penunjukannya di masa perang sebagai sekretaris militer perdana menteri "membuktikan kemampuan profesionalnya yang luar biasa".
Sebagai salah satu badan intelijen terbaik di dunia, Mossad dianggap tidak mengalami kegagalan intelijen akibat serangan 7 Oktober karena wilayah Palestina secara tradisional berada di luar jangkauan operasinya.
Namun, para kepala badan Shin Bet dan Aman (intelijen militer) mengundurkan diri setelah mengakui tanggung jawab mereka atas kegagalan tersebut.
Mossad tampil menonjol di mata Israel dalam perang multi-front yang telah berlangsung sejak 7 Oktober.
Mossad berkontribusi pada terbunuhnya staf umum kelompok militan Hizbullah Lebanon pada tahun 2024 dan angkatan bersenjata Iran selama perang 12 hari yang dilancarkan Israel melawan Teheran pada bulan Juni.
(mas)
Lihat Juga :