Putin Nyatakan Rusia Siap Perang Lawan Eropa, NATO: Kami Juga Siap!
Kamis, 04 Desember 2025 - 11:12 WIB
loading...
Sekjen NATO Mark Rutte tegaskan aliansi siap melindungi anggota-anggotanya di Eropa setelah Presiden Rusia menyatakan siap perang melawan Eropa. Foto/Belga/Eric Lalmand/The Brussels Times
A
A
A
BRUSSELS - NATO telah merespons Presiden Vladimir Putin yang menyatakan Rusia siap perang melawan Eropa jika benua biru itu menginginkannya. Tak mau kalah dalam retorika, NATO juga menyatakan siap perang demi melindungi anggota-anggotanya di Eropa.
Di tengah perundingan yang putus asa untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, Putin pada hari Selasa mengatakan bahwa dia tidak mencari konflik lain—tetapi dia tidak akan ragu untuk menyerang jika diprovokasi oleh para pendukung Ukraina di Eropa.
"Kami tidak akan berperang dengan Eropa; saya sudah mengatakannya ratusan kali. Tetapi jika Eropa tiba-tiba ingin melawan kami dan memulainya, kami siap sekarang juga," kata Putin kepada para wartawan.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Siap Perang, Beranikah Eropa? Ini Analisisnya
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bergegas merespons komentar Putin. Dia menegaskan aliansi pimpinan Amerika Serikat tersebut bersedia melakukan apa pun demi melindungi anggotanya.
"NATO adalah aliansi pertahanan," ujar Rutte, menjelang pertemuan puncak para pemimpin NATO di Brussels, seperti dikutip The Independent, Kamis (4/12/2025).
"Tapi jangan salah, kami siap dan bersedia melakukan apa pun untuk melindungi satu miliar penduduk kami dan mengamankan wilayah kami. Putin yakin ia bisa bertahan lebih lama dari kami, tetapi kami tidak akan ke mana-mana," papar bos NATO tersebut.
Meningkatnya retorika ini muncul seiring memudarnya harapan akan kesepakatan damai yang ditengahi Amerika Serikat di Ukraina. Pada hari Rabu, pertemuan yang direncanakan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan delegasi AS dibatalkan, beberapa jam setelah tim Presiden Donald Trump tampaknya meninggalkan Moskow dengan tangan kosong.
Kendati demikian, Rutte bersikeras bahwa Trump adalah satu-satunya orang di seluruh dunia yang mampu memecahkan kebuntuan atas perang Rusia-Ukraina.
Kemajuan perundingan damai tampaknya terhenti setelah pertemuan lima jam pada hari Selasa antara para pejabat Rusia, termasuk Kirill Dmitriev, utusan khusus Presiden Trump; Steve Witkoff, dan menantu Presiden Trump; Jared Kushner.
Kremlin membantah telah menolak kesepakatan tersebut, dengan mengeklaim bahwa ketidaksepakatan itu merupakan bagian dari proses kerja normal dan upaya mencari kompromi.
Witkoff dan Kushner seharusnya terbang ke Brussels setelah Moskow untuk berbicara dengan delegasi Ukraina, tetapi malah kembali ke Washington pada hari yang sama.
Rutte mengisyaratkan kebuntuan tersebut dalam pidatonya pada hari Rabu, dengan mengatakan: "Hanya ada satu orang di seluruh dunia yang mampu memecahkan kebuntuan. Yaitu Presiden Amerika, Donald J. Trump."
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengatakan bahwa Witkoff telah menghubungi delegasi Ukraina setelah perundingannya di Moskow.
"Terdapat kontak antara ketua delegasi Ukraina dan Witkoff," ujar Sybiha kepada wartawan. "Perwakilan delegasi Amerika melaporkan bahwa, menurut pendapat mereka, perundingan di Moskow memiliki hasil yang positif dan mereka mengundang delegasi Ukraina untuk melanjutkan perundingan kami di Amerika dalam waktu dekat."
Belum jelas apa "hasil positif" itu, yang muncul setelah tuduhan bahwa rencana perdamaian 28 poin awal Trump adalah "daftar keinginan Rusia".
Pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mendesak Putin untuk mengakhiri kegaduhan dan pertumpahan darah serta siap berunding dan mendukung perdamaian yang adil dan abadi. Para pemimpin Eropa menuduh Putin berpura-pura tertarik pada perundingan damai.
Namun, Trump mengatakan para penasihatnya yakin Putin ingin mengakhiri perang Rusia di Ukraina. Berbicara di Oval Office, dia berkata: "Kesan mereka sangat kuat bahwa ia ingin mencapai kesepakatan."
Pada malam harinya, Komisi Eropa mengusulkan penggunaan aset Rusia yang dibekukan atau pinjaman internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengumpulkan 90 miliar euro bagi Ukraina guna menutupi kebutuhan militer dan layanan dasarnya yang sedang kesulitan.
Meskipun demikian, kurangnya perkembangan rencana perdamaian tampaknya menjadi pukulan lain bagi tim diplomatik Ukraina, dan terjadi setelah negosiator utama sekaligus tangan kanan Zelensky, Andriy Yermak, dipaksa mengundurkan diri sebagai kepala staf dalam skandal korupsi senilai USD100 juta. Dia digantikan oleh Rustem Umerov, mantan menteri pertahanan negara itu.
Di tengah perundingan yang putus asa untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, Putin pada hari Selasa mengatakan bahwa dia tidak mencari konflik lain—tetapi dia tidak akan ragu untuk menyerang jika diprovokasi oleh para pendukung Ukraina di Eropa.
"Kami tidak akan berperang dengan Eropa; saya sudah mengatakannya ratusan kali. Tetapi jika Eropa tiba-tiba ingin melawan kami dan memulainya, kami siap sekarang juga," kata Putin kepada para wartawan.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Siap Perang, Beranikah Eropa? Ini Analisisnya
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bergegas merespons komentar Putin. Dia menegaskan aliansi pimpinan Amerika Serikat tersebut bersedia melakukan apa pun demi melindungi anggotanya.
"NATO adalah aliansi pertahanan," ujar Rutte, menjelang pertemuan puncak para pemimpin NATO di Brussels, seperti dikutip The Independent, Kamis (4/12/2025).
"Tapi jangan salah, kami siap dan bersedia melakukan apa pun untuk melindungi satu miliar penduduk kami dan mengamankan wilayah kami. Putin yakin ia bisa bertahan lebih lama dari kami, tetapi kami tidak akan ke mana-mana," papar bos NATO tersebut.
Meningkatnya retorika ini muncul seiring memudarnya harapan akan kesepakatan damai yang ditengahi Amerika Serikat di Ukraina. Pada hari Rabu, pertemuan yang direncanakan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan delegasi AS dibatalkan, beberapa jam setelah tim Presiden Donald Trump tampaknya meninggalkan Moskow dengan tangan kosong.
Kendati demikian, Rutte bersikeras bahwa Trump adalah satu-satunya orang di seluruh dunia yang mampu memecahkan kebuntuan atas perang Rusia-Ukraina.
Kemajuan perundingan damai tampaknya terhenti setelah pertemuan lima jam pada hari Selasa antara para pejabat Rusia, termasuk Kirill Dmitriev, utusan khusus Presiden Trump; Steve Witkoff, dan menantu Presiden Trump; Jared Kushner.
Kremlin membantah telah menolak kesepakatan tersebut, dengan mengeklaim bahwa ketidaksepakatan itu merupakan bagian dari proses kerja normal dan upaya mencari kompromi.
Witkoff dan Kushner seharusnya terbang ke Brussels setelah Moskow untuk berbicara dengan delegasi Ukraina, tetapi malah kembali ke Washington pada hari yang sama.
Rutte mengisyaratkan kebuntuan tersebut dalam pidatonya pada hari Rabu, dengan mengatakan: "Hanya ada satu orang di seluruh dunia yang mampu memecahkan kebuntuan. Yaitu Presiden Amerika, Donald J. Trump."
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengatakan bahwa Witkoff telah menghubungi delegasi Ukraina setelah perundingannya di Moskow.
"Terdapat kontak antara ketua delegasi Ukraina dan Witkoff," ujar Sybiha kepada wartawan. "Perwakilan delegasi Amerika melaporkan bahwa, menurut pendapat mereka, perundingan di Moskow memiliki hasil yang positif dan mereka mengundang delegasi Ukraina untuk melanjutkan perundingan kami di Amerika dalam waktu dekat."
Belum jelas apa "hasil positif" itu, yang muncul setelah tuduhan bahwa rencana perdamaian 28 poin awal Trump adalah "daftar keinginan Rusia".
Pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mendesak Putin untuk mengakhiri kegaduhan dan pertumpahan darah serta siap berunding dan mendukung perdamaian yang adil dan abadi. Para pemimpin Eropa menuduh Putin berpura-pura tertarik pada perundingan damai.
Namun, Trump mengatakan para penasihatnya yakin Putin ingin mengakhiri perang Rusia di Ukraina. Berbicara di Oval Office, dia berkata: "Kesan mereka sangat kuat bahwa ia ingin mencapai kesepakatan."
Pada malam harinya, Komisi Eropa mengusulkan penggunaan aset Rusia yang dibekukan atau pinjaman internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengumpulkan 90 miliar euro bagi Ukraina guna menutupi kebutuhan militer dan layanan dasarnya yang sedang kesulitan.
Meskipun demikian, kurangnya perkembangan rencana perdamaian tampaknya menjadi pukulan lain bagi tim diplomatik Ukraina, dan terjadi setelah negosiator utama sekaligus tangan kanan Zelensky, Andriy Yermak, dipaksa mengundurkan diri sebagai kepala staf dalam skandal korupsi senilai USD100 juta. Dia digantikan oleh Rustem Umerov, mantan menteri pertahanan negara itu.
(mas)
Lihat Juga :