Buru Kapal Selam Rusia, 2 Negara NATO Akan Kerahkan 13 Kapal Perang
Kamis, 04 Desember 2025 - 10:04 WIB
loading...
Dua negara NATO akan kerahkan 13 kapal perang untuk memburu kapal-kapal selam Rusia di perairan Atlantik Utara. Foto/The War Zone
A
A
A
LONDON - Dua negara NATO, Inggris dan Norwegia, akan mengerahkan 13 kapal perang untuk memburu kapal-kapal selam Rusia di perairan Atlantik Utara.
London menyatakan telah mendeteksi peningkatan 30 persen jumlah kapal militer Moskow yang mengancam perairan Inggris dalam dua tahun terakhir.
Oslo ikut andil dalam misi memburu kapal-kapal selama Moskow karena Norwegia berbagi sekitar 120 mil perbatasan darat dengan Rusia. Wilayah Norwegia terletak tidak jauh di sebelah barat pangkalan militer utama Rusia yang tersebar di sekitar kota-kota Arktik; Murmansk dan Severomorsk.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Siap Perang, Beranikah Eropa? Ini Analisisnya
Negara-negara NATO sekarang sedang memperkuat pertahanan di sekitar infrastruktur bawah laut yang penting seperti jaringan pipa dan kabel yang membentang di sepanjang dasar laut, yang rentan terhadap sabotase dan sulit dilindungi. Kabel bawah laut membawa sekitar 98 persen data dunia, yang pada dasarnya menopang banyak aktivitas vital dalam kehidupan sehari-hari.
Kementerian Pertahanan Inggris pada hari Rabu mengatakan setidaknya 13 kapal perang anti-kapal selam Type 26 yang didukung oleh drone akan beroperasi di Atlantik Utara, termasuk di perairan antara Greenland, Islandia, dan Inggris—yang umumnya disebut sebagai Celah GIUK.
Rusia telah menggunakan perairan-perairan tersebut untuk mengirim kapal selam yang dipersenjatai rudal jelajah jarak jauh konvensional yang dapat menghantam wilayah Amerika Serikat atau pun wilayah Atlantik.
Dari 13 kapal perang yang akan dikerahkan, lima di antaranya siap dikirim Norwegia dan sisanya dari Inggris. Fregat Type 26 pertama masih dalam tahap pembangunan, yang berarti armada gabungan baru akan memulai patroli pada akhir tahun 2020-an atau awal tahun 2030-an.
Norwegia menandatangani kesepakatan untuk membeli sejumlah fregat Inggris senilai lebih dari USD13 miliar pada bulan Agustus. Inggris dan Norwegia, seperti negara-negara NATO lainnya, telah berjanji untuk meningkatkan anggaran pertahanan dan mempercepat pengadaan peralatan dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer Rusia.
Kedua negara itu selama ini mengoperasikan pesawat patroli maritim P-8 yang dirancang untuk mendeteksi kapal-kapal selam Rusia. Armada kapal selam Rusia dianggap tangguh, jauh lebih mumpuni daripada kapal permukaannya.
Angkatan Laut Rusia, kecuali armada Laut Hitamnya, relatif tidak tersentuh oleh perang skala penuh selama hampir empat tahun di Ukraina.
Kementerian Pertahanan Inggris memuji kesepakatan patroli tersebut sebagai pengaturan "pertama dari jenisnya", yang dikenal sebagai perjanjian Lunna House.
Penandatanganan perjanjian ini akan dilakukan di London pada hari Kamis (4/12/2025). Lunna House adalah markas perlawanan Norwegia di Skotlandia selama Perang Dunia II.
Perdana Menteri Norwegia Jonas Støre akan mengunjungi Inggris dan juga mengunjungi pangkalan militer Inggris di Lossiemouth di Skotlandia utara bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada hari Kamis.
"Seiring dengan semakin banyaknya kapal Rusia yang terdeteksi di perairan kami, kami harus bekerja sama dengan mitra internasional untuk melindungi keamanan nasional kami," kata Starmer dalam sebuah pernyataan.
"Perjanjian bersejarah dengan Norwegia ini memperkuat kemampuan kami untuk melindungi perbatasan kami dan
"Infrastruktur yang diandalkan negara kita," imbuh dia, seperti dikutip dari Newsweek.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan bulan lalu bahwa Yantar, sebuah kapal pengumpul intelijen Rusia, telah mengarahkan laser ke pilot Inggris yang mengawasi kapal tersebut di dekat perairan Inggris. Healey mengatakan bahwa pemerintah menanggapi langkah "yang sangat berbahaya" ini dengan serius.
Yantar juga terlihat di lepas pantai Inggris pada bulan Januari dan dicegat di dekat Prancis.
Pemerintah Inggris secara terpisah menyatakan pada akhir November bahwa mereka telah mencegat sebuah kapal perang Rusia, Stoikiy, dan salah satu kapal tanker Moskow di lepas pantai selatannya.
Kapal perang Inggris, HMS Duncan, melacak kapal perusak Rusia; Vice Admiral Kulakov, melalui Selat Inggris pada bulan Oktober, beberapa hari setelah sebuah fregat Inggris membayangi kapal selam Novorossiysk dan sebuah kapal tunda Rusia melalui jalur air tersebut.
Saat ini sangat sulit untuk mengawasi jaringan pipa dan kabel yang luas, meskipun ada inisiatif NATO baru dan uji coba teknologi nirawak untuk melacak ancaman terhadap infrastruktur dasar laut.
Serangkaian insiden pada akhir tahun 2024, ketika beberapa pipa dan kabel rusak di Laut Baltik, telah dikaitkan dengan "armada bayangan" Rusia yang terdiri dari kapal-kapal penghindar sanksi.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, marinir Inggris akan berlatih di Norwegia untuk membiasakan diri dengan suhu di bawah nol derajat, kata Kementerian Pertahanan Inggris.
Sedangkan Rusia umumnya dianggap sebagai kekuatan dominan di Arktik, lebih nyaman beroperasi dalam kondisi yang sulit dibandingkan banyak militer NATO.
London menyatakan telah mendeteksi peningkatan 30 persen jumlah kapal militer Moskow yang mengancam perairan Inggris dalam dua tahun terakhir.
Oslo ikut andil dalam misi memburu kapal-kapal selama Moskow karena Norwegia berbagi sekitar 120 mil perbatasan darat dengan Rusia. Wilayah Norwegia terletak tidak jauh di sebelah barat pangkalan militer utama Rusia yang tersebar di sekitar kota-kota Arktik; Murmansk dan Severomorsk.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Siap Perang, Beranikah Eropa? Ini Analisisnya
Negara-negara NATO sekarang sedang memperkuat pertahanan di sekitar infrastruktur bawah laut yang penting seperti jaringan pipa dan kabel yang membentang di sepanjang dasar laut, yang rentan terhadap sabotase dan sulit dilindungi. Kabel bawah laut membawa sekitar 98 persen data dunia, yang pada dasarnya menopang banyak aktivitas vital dalam kehidupan sehari-hari.
Kementerian Pertahanan Inggris pada hari Rabu mengatakan setidaknya 13 kapal perang anti-kapal selam Type 26 yang didukung oleh drone akan beroperasi di Atlantik Utara, termasuk di perairan antara Greenland, Islandia, dan Inggris—yang umumnya disebut sebagai Celah GIUK.
Rusia telah menggunakan perairan-perairan tersebut untuk mengirim kapal selam yang dipersenjatai rudal jelajah jarak jauh konvensional yang dapat menghantam wilayah Amerika Serikat atau pun wilayah Atlantik.
Dari 13 kapal perang yang akan dikerahkan, lima di antaranya siap dikirim Norwegia dan sisanya dari Inggris. Fregat Type 26 pertama masih dalam tahap pembangunan, yang berarti armada gabungan baru akan memulai patroli pada akhir tahun 2020-an atau awal tahun 2030-an.
Norwegia menandatangani kesepakatan untuk membeli sejumlah fregat Inggris senilai lebih dari USD13 miliar pada bulan Agustus. Inggris dan Norwegia, seperti negara-negara NATO lainnya, telah berjanji untuk meningkatkan anggaran pertahanan dan mempercepat pengadaan peralatan dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer Rusia.
Kedua negara itu selama ini mengoperasikan pesawat patroli maritim P-8 yang dirancang untuk mendeteksi kapal-kapal selam Rusia. Armada kapal selam Rusia dianggap tangguh, jauh lebih mumpuni daripada kapal permukaannya.
Angkatan Laut Rusia, kecuali armada Laut Hitamnya, relatif tidak tersentuh oleh perang skala penuh selama hampir empat tahun di Ukraina.
Kementerian Pertahanan Inggris memuji kesepakatan patroli tersebut sebagai pengaturan "pertama dari jenisnya", yang dikenal sebagai perjanjian Lunna House.
Penandatanganan perjanjian ini akan dilakukan di London pada hari Kamis (4/12/2025). Lunna House adalah markas perlawanan Norwegia di Skotlandia selama Perang Dunia II.
Perdana Menteri Norwegia Jonas Støre akan mengunjungi Inggris dan juga mengunjungi pangkalan militer Inggris di Lossiemouth di Skotlandia utara bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada hari Kamis.
"Seiring dengan semakin banyaknya kapal Rusia yang terdeteksi di perairan kami, kami harus bekerja sama dengan mitra internasional untuk melindungi keamanan nasional kami," kata Starmer dalam sebuah pernyataan.
"Perjanjian bersejarah dengan Norwegia ini memperkuat kemampuan kami untuk melindungi perbatasan kami dan
"Infrastruktur yang diandalkan negara kita," imbuh dia, seperti dikutip dari Newsweek.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan bulan lalu bahwa Yantar, sebuah kapal pengumpul intelijen Rusia, telah mengarahkan laser ke pilot Inggris yang mengawasi kapal tersebut di dekat perairan Inggris. Healey mengatakan bahwa pemerintah menanggapi langkah "yang sangat berbahaya" ini dengan serius.
Yantar juga terlihat di lepas pantai Inggris pada bulan Januari dan dicegat di dekat Prancis.
Pemerintah Inggris secara terpisah menyatakan pada akhir November bahwa mereka telah mencegat sebuah kapal perang Rusia, Stoikiy, dan salah satu kapal tanker Moskow di lepas pantai selatannya.
Kapal perang Inggris, HMS Duncan, melacak kapal perusak Rusia; Vice Admiral Kulakov, melalui Selat Inggris pada bulan Oktober, beberapa hari setelah sebuah fregat Inggris membayangi kapal selam Novorossiysk dan sebuah kapal tunda Rusia melalui jalur air tersebut.
Saat ini sangat sulit untuk mengawasi jaringan pipa dan kabel yang luas, meskipun ada inisiatif NATO baru dan uji coba teknologi nirawak untuk melacak ancaman terhadap infrastruktur dasar laut.
Serangkaian insiden pada akhir tahun 2024, ketika beberapa pipa dan kabel rusak di Laut Baltik, telah dikaitkan dengan "armada bayangan" Rusia yang terdiri dari kapal-kapal penghindar sanksi.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, marinir Inggris akan berlatih di Norwegia untuk membiasakan diri dengan suhu di bawah nol derajat, kata Kementerian Pertahanan Inggris.
Sedangkan Rusia umumnya dianggap sebagai kekuatan dominan di Arktik, lebih nyaman beroperasi dalam kondisi yang sulit dibandingkan banyak militer NATO.
(mas)
Lihat Juga :