Terungkap, Malaikat Maut Nazi Hidup Nyaman Bertahun-tahun di Argentina

Senin, 01 Desember 2025 - 15:21 WIB
loading...
Terungkap, Malaikat...
Josef Mengele, dokter terkenal Nazi yang dijuluki Malaikat Maut karena eksperimen barbarnya, ternyata hidup secara terbuka dan nyaman selama bertahun-tahun di Argentina. Foto/NDTV
A A A
BUENOS AIRES - Dokter Nazi ternama; Josef Mengele, yang dijuluki "Malaikat Maut" karena eksperimen barbar dan pilihannya untuk kamar gas, hidup secara terbuka dan nyaman di Argentina selama bertahun-tahun meskipun pihak berwenang mengetahui identitas aslinya. Itu terungkap dalam berkas intelijen yang baru saja dideklasifikasi.

Dirilis di bawah Presiden Argentina Javier Milei, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa lembaga-lembaga lokal melacak Mengele setelah dia menyelinap ke negara itu pada tahun 1949, namun berulang kali gagal bertindak.

Kombinasi perlindungan politik, keraguan birokrasi, dan kebocoran pers membantu salah satu penjahat perang paling dicari di dunia itu lolos dari penangkapan.

Baca Juga: Tes DNA: Hitler Bukan Yahudi, Kemungkinan Mikropenis dan Memiliki Satu Testis

Mengutip laporan dari Fox News, Senin (1/12/2025), Mengele, yang bertanggung jawab atas prosedur pseudo-medis yang mematikan dan penyiksaan terhadap tahanan, terutama anak kembar, tiba di Argentina menggunakan paspor Italia dengan alias Helmut Gregor.

Namun pada pertengahan 1950-an, berkas intelijen mengonfirmasi bahwa pihak berwenang mengetahui "Malaikat Maut" itu hidup di antara mereka.

Lahir pada tahun 1911 di Gunzburg, Jerman, Mengele belajar kedokteran dan antropologi dan kemudian bergabung dengan Partai Nazi pada tahun 1937 dan SS pada tahun 1938.

Dia memulai tugasnya di Auschwitz pada Mei 1943, di mana dia memilih tahanan untuk kerja paksa atau hukuman mati langsung dan melakukan eksperimen mengerikan, termasuk operasi tanpa anestesi, infeksi penyakit, dan upaya mengubah warna mata melalui suntikan.

Namanya menjadi identik dengan teror Auschwitz dan kekejaman yang menewaskan lebih dari satu juta orang, kebanyakan dari mereka adalah orang Yahudi.

Meskipun kejahatannya terungkap selama persidangan Nuremberg, Mengele berhasil memulai hidup baru di Argentina. Catatan intelijen yang baru dirilis menunjukkan bahwa pada tahun 1956, dia bahkan telah meminta akta kelahiran aslinya dari Kedutaan Besar Jerman Barat di Buenos Aires dan dengan berani menggunakan nama aslinya.

Sebuah memo tahun 1957 mengatakan bahwa Mengele tampak "gugup", menambahkan, "Dia (Mengele) menunjukkan kegugupannya, setelah menyatakan bahwa selama perang dia bekerja sebagai dokter di SS Jerman, di Cekoslowakia, di mana Palang Merah mencapnya sebagai 'penjahat perang'."

Berkas-berkas tersebut mengungkapkan bahwa badan-badan Argentina mengetahui dia tinggal di Carapachay, di luar Buenos Aires, dan bahwa dia telah menikahi janda saudaranya. Pihak berwenang bahkan menyebutkan kunjungan dari ayahnya.

Namun tidak ada penangkapan yang dilakukan. Pada tahun 1959, Jerman Barat mengeluarkan surat perintah penangkapan dan meminta ekstradisi, tetapi hakim setempat menolaknya, dengan alasan bahwa surat perintah tersebut berasal dari "penganiayaan politik."

Tekanan internasional meningkat, mendorong Mengele untuk melarikan diri ke Paraguay, di mana dia diberikan kewarganegaraan. Ketika pihak berwenang akhirnya menggerebek laboratoriumnya di Buenos Aires, dia sudah menghilang. Dia kemudian muncul kembali di Brasil, dilindungi oleh para petani Jerman.

Mengele meninggal pada tahun 1979 setelah terserang stroke saat berenang di dekat Bertioga, Brasil. Dikubur dengan identitas palsu, jasadnya digali pada tahun 1985 dan diidentifikasi secara meyakinkan melalui uji forensik. Kini, tulang-tulangnya digunakan untuk pengajaran forensik di Fakultas Kedokteran Universitas Sao Paulo.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Bak Gergaji Mesin Politik,...
Bak Gergaji Mesin Politik, Uang Yahudi Jadi Pembabat Para Politisi AS Anti-Israel
Pria Pro-Nazi Hendak...
Pria Pro-Nazi Hendak Bunuh 2 Putri Kerajaan Belanda, Bawa Kapak Bertuliskan Mossad dan Sieg Heil
Pria Bersenjata Tembak...
Pria Bersenjata Tembak Mati 6 Orang di Supermarket Kyiv, Pelaku Dikenal sebagai Pembenci Yahudi
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Jepang Gunakan Polisi...
Jepang Gunakan Polisi Wanita Berbasis AI untuk Memerangi Penipuan Identitas
KPK Berharap Tindakan...
KPK Berharap Tindakan Medis terhadap Gus Yaqut Segera Dilakukan
Rembug Tani Jabar di...
Rembug Tani Jabar di Tasikmalaya, Apkarindo Perkuat Sinergi Demi Masa Depan Karet Rakyat
Berita Terkini
7 Pemimpin yang Mengubah...
7 Pemimpin yang Mengubah Dunia, Fatima al Fihri yang Mendirikan Kampus Pertama di Dunia
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved