Laksamana Sekutu: NATO Perlu Lebih Agresif terhadap Rusia!
Senin, 01 Desember 2025 - 10:04 WIB
loading...
Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Giuseppe Cavo Dragone, menyatakan aliansi perlu bertindak lebih agresif terhadap Rusia. Foto/NATO
A
A
A
BRUSSELS - Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Giuseppe Cavo Dragone, mengatakan anggota aliansi harus menemukan cara untuk bersikap lebih agresif terhadap Rusia.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times (FT) yang diterbitkan pada hari Minggu (30/11/2025), Laksamana Dragone mengatakan negara-negara anggota sekutu pimpinan Amerika Serikat (AS) tersebut telah mempertimbangkan berbagai pilihan untuk merespons apa yang dia sebut sebagai "perang hibrida" Rusia.
"Kami sedang mempelajari segalanya...menjadi lebih agresif atau bersikap proaktif, alih-alih reaktif, adalah sesuatu yang sedang kami pertimbangkan," kata Dragone.
Baca Juga: Negara NATO Ini Luncurkan Manuver Militer Besar-besaran di Dekat Rusia
Komandan aliansi tersebut menambahkan bahwa serangan pre-emptive dapat dianggap sebagai tindakan defensif. "Meskipun akan jauh dari cara berpikir dan perilaku normal kita," ujarnya.
Menurut laporan FT, para diplomat dari Eropa Timur khususnya vokal dalam menuntut tindakan yang lebih keras terhadap Rusia, termasuk serangan siber balasan. Namun, Dragone mencatat bahwa pengambilan keputusan NATO telah dibatasi oleh masalah hukum dan etika, serta yurisdiksi.
Pada bulan September, NATO meningkatkan patroli udara di Eropa Timur dan negara-negara Baltik sebagai respons atas dugaan pelanggaran wilayah udara oleh Rusia. Moskow membantah klaim bahwa pesawat dan drone-nya melanggar wilayah udara NATO dan menuduh sekutu tersebut melakukan hasutan perang.
Politico Europe melaporkan pekan lalu bahwa NATO juga mempertimbangkan operasi siber ofensif gabungan terhadap Moskow. Rusia membantah telah meretas lembaga-lembaga Barat, dan bersikeras bahwa Rusia justru menjadi target berbagai serangan siber, termasuk beberapa yang diklaim oleh kelompok-kelompok pro-Ukraina.
Duta Besar Rusia untuk Belgia Denis Gonchar mengatakan minggu lalu bahwa anggota NATO sedang melakukan militerisasi besar-besaran di Eropa dengan kedok untuk menghalangi rencana nihil Rusia untuk menyerang mereka.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times (FT) yang diterbitkan pada hari Minggu (30/11/2025), Laksamana Dragone mengatakan negara-negara anggota sekutu pimpinan Amerika Serikat (AS) tersebut telah mempertimbangkan berbagai pilihan untuk merespons apa yang dia sebut sebagai "perang hibrida" Rusia.
"Kami sedang mempelajari segalanya...menjadi lebih agresif atau bersikap proaktif, alih-alih reaktif, adalah sesuatu yang sedang kami pertimbangkan," kata Dragone.
Baca Juga: Negara NATO Ini Luncurkan Manuver Militer Besar-besaran di Dekat Rusia
Komandan aliansi tersebut menambahkan bahwa serangan pre-emptive dapat dianggap sebagai tindakan defensif. "Meskipun akan jauh dari cara berpikir dan perilaku normal kita," ujarnya.
Menurut laporan FT, para diplomat dari Eropa Timur khususnya vokal dalam menuntut tindakan yang lebih keras terhadap Rusia, termasuk serangan siber balasan. Namun, Dragone mencatat bahwa pengambilan keputusan NATO telah dibatasi oleh masalah hukum dan etika, serta yurisdiksi.
Pada bulan September, NATO meningkatkan patroli udara di Eropa Timur dan negara-negara Baltik sebagai respons atas dugaan pelanggaran wilayah udara oleh Rusia. Moskow membantah klaim bahwa pesawat dan drone-nya melanggar wilayah udara NATO dan menuduh sekutu tersebut melakukan hasutan perang.
Politico Europe melaporkan pekan lalu bahwa NATO juga mempertimbangkan operasi siber ofensif gabungan terhadap Moskow. Rusia membantah telah meretas lembaga-lembaga Barat, dan bersikeras bahwa Rusia justru menjadi target berbagai serangan siber, termasuk beberapa yang diklaim oleh kelompok-kelompok pro-Ukraina.
Duta Besar Rusia untuk Belgia Denis Gonchar mengatakan minggu lalu bahwa anggota NATO sedang melakukan militerisasi besar-besaran di Eropa dengan kedok untuk menghalangi rencana nihil Rusia untuk menyerang mereka.
(mas)
Lihat Juga :