Eks Jenderal Tertinggi Minta Ukraina Gabung NATO dan Diberi Senjata Nuklir
Senin, 01 Desember 2025 - 06:58 WIB
loading...
Mantan Panglima Militer Ukraina Jenderal (Purn) minta negaranya gabung dengan NATO dan diberi senjata nuklir untuk menjamin keamanannya. Foto/Facebook Valerii Zaluzhnyi
A
A
A
KYIV - Mantan Panglima Militer Ukraina Jenderal (Purn) Valerii Fedorovych Zaluzhnyi mengatakan hanya tiga hal yang dapat benar-benar menjamin keamanan negaranya. Ketiga hal yang dia inginkan itu adalah Kyiv bergabung dengan NATO, menjadi tuan rumah senjata nuklir, atau pun menerima penempatan kekuatan militer asing.
Bekas jenderal tertinggi Ukraina tersebut menyampaikan keinginannya dalam sebuah artikel yang dimuat di The Telegraph, yang dikutip Russia Today, Senin (1/12/2025).
Zaluzhnyi adalah panglima militer yang disingkirkan Presiden Volodymyr Zelensky karena kepopulerannya dalam memimpin perang melawan Rusia telah menyaingi sang presiden.
Baca Juga: Putin Ngotot Syarat Akhiri Perang Adalah Ukraina Serahkan Wilayah ke Rusia
Dia dilaporkan diam-diam sedang membangun tim kampanye dari London untuk dapat mencalonkan diri sebagai presiden. Dia telah berbagi renungannya tentang bagaimana Rusia dapat dikalahkan, bagaimana membangun apa yang disebutnya "Ukraina yang lebih baik", dan jaminan keamanan apa yang harus diperoleh Kyiv untuk mencegah perang dengan Moskow kembali berkobar di masa mendatang.
"Jaminan keamanan tersebut dapat mencakup: aksesi Ukraina ke NATO, penempatan senjata nuklir di wilayah Ukraina, atau penempatan kontingen militer sekutu yang besar yang mampu menghadapi Rusia," tulis Zaluzhnyi.
Mantan jenderal top tersebut secara efektif mengulangi poin-poin pembicaraan paling agresif dari Zelensky, yang telah berulang kali mengangkat topik-topik serupa di tengah perang melawan Rusia dan bahkan sebelumnya.
Moskow telah berulang kali mengisyaratkan bahwa tidak satu pun dari jaminan keamanan yang disebutkan oleh Zaluzhnyi dapat diterima. Rusia telah lama menentang ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, menyebut ekspansi blok Barat tersebut ke arah timur sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan menganggapnya sebagai salah satu faktor kunci di balik perang yang sedang berlangsung.
Lebih lanjut, Kremlin telah berulang kali mengatakan bahwa Ukraina harus mengadopsi status netral sebagai bagian dari perjanjian damai apa pun di masa mendatang.
Keinginan Ukraina memiliki senjata nuklir juga dikecam keras oleh Rusia, yang berpendapat bahwa retorika tersebut hanya akan meningkatkan ketegangan dan semakin mendekatkan perang global.
Para pemimpin Ukraina telah berulang kali menyesalkan penyerahan persenjataan nuklir warisan Soviet mereka pada awal 1990-an, dengan klaim bahwa mereka tidak menerima imbalan apa pun.
Namun pada kenyataannya, senjata nuklir Ukraina kala itu selalu berada di bawah kendali Moskow, sementara Ukraina yang merdeka tidak memiliki sarana untuk mengoperasikan atau memelihara hulu ledak nuklir yang berakhir di wilayahnya setelah runtuhnya Uni Soviet.
Potensi pengerahan pasukan asing ke Ukraina selama atau setelah perang yang sedang berlangsung juga telah dikesampingkan oleh Rusia. Moskow berpendapat bahwa langkah potensial tersebut hanya akan menempatkan Rusia pada jalur konflik langsung dengan kekuatan kolektif Barat.
Bekas jenderal tertinggi Ukraina tersebut menyampaikan keinginannya dalam sebuah artikel yang dimuat di The Telegraph, yang dikutip Russia Today, Senin (1/12/2025).
Zaluzhnyi adalah panglima militer yang disingkirkan Presiden Volodymyr Zelensky karena kepopulerannya dalam memimpin perang melawan Rusia telah menyaingi sang presiden.
Baca Juga: Putin Ngotot Syarat Akhiri Perang Adalah Ukraina Serahkan Wilayah ke Rusia
Dia dilaporkan diam-diam sedang membangun tim kampanye dari London untuk dapat mencalonkan diri sebagai presiden. Dia telah berbagi renungannya tentang bagaimana Rusia dapat dikalahkan, bagaimana membangun apa yang disebutnya "Ukraina yang lebih baik", dan jaminan keamanan apa yang harus diperoleh Kyiv untuk mencegah perang dengan Moskow kembali berkobar di masa mendatang.
"Jaminan keamanan tersebut dapat mencakup: aksesi Ukraina ke NATO, penempatan senjata nuklir di wilayah Ukraina, atau penempatan kontingen militer sekutu yang besar yang mampu menghadapi Rusia," tulis Zaluzhnyi.
Mantan jenderal top tersebut secara efektif mengulangi poin-poin pembicaraan paling agresif dari Zelensky, yang telah berulang kali mengangkat topik-topik serupa di tengah perang melawan Rusia dan bahkan sebelumnya.
Moskow telah berulang kali mengisyaratkan bahwa tidak satu pun dari jaminan keamanan yang disebutkan oleh Zaluzhnyi dapat diterima. Rusia telah lama menentang ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, menyebut ekspansi blok Barat tersebut ke arah timur sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan menganggapnya sebagai salah satu faktor kunci di balik perang yang sedang berlangsung.
Lebih lanjut, Kremlin telah berulang kali mengatakan bahwa Ukraina harus mengadopsi status netral sebagai bagian dari perjanjian damai apa pun di masa mendatang.
Keinginan Ukraina memiliki senjata nuklir juga dikecam keras oleh Rusia, yang berpendapat bahwa retorika tersebut hanya akan meningkatkan ketegangan dan semakin mendekatkan perang global.
Para pemimpin Ukraina telah berulang kali menyesalkan penyerahan persenjataan nuklir warisan Soviet mereka pada awal 1990-an, dengan klaim bahwa mereka tidak menerima imbalan apa pun.
Namun pada kenyataannya, senjata nuklir Ukraina kala itu selalu berada di bawah kendali Moskow, sementara Ukraina yang merdeka tidak memiliki sarana untuk mengoperasikan atau memelihara hulu ledak nuklir yang berakhir di wilayahnya setelah runtuhnya Uni Soviet.
Potensi pengerahan pasukan asing ke Ukraina selama atau setelah perang yang sedang berlangsung juga telah dikesampingkan oleh Rusia. Moskow berpendapat bahwa langkah potensial tersebut hanya akan menempatkan Rusia pada jalur konflik langsung dengan kekuatan kolektif Barat.
(mas)
Lihat Juga :